Jurnalisme Warga
Mengenal Tradisi ‘Tamuntuak’ di Labuhanhaji
Tradisi keacehan yang masih dilakoni oleh masyarakat di kedua desa ini banyak. Namun, pada kesempatan ini saya fokus membahas satu tradisi saja yang d
Beberapa tahun lalu, saya mengundang sahabat-sahabat saya yang baru menikah, untuk berkunjung dan bersilaturahmi pada hari Lebaran dengan membawa pasangannya ke rumah saya. Saya hanya bersalaman saat sahabat dan suaminya tiba di depan pintu rumah, lalu menyuruh mereka masuk. Pasangan itu juga bersalaman dengan ibu saya.
Kemudian, saya menghindangkan minuman dan mempersilakaan agar kue yang sudah terhidang di atas meja supaya dicicipi.
Setelah pasangan tersebut minum mereka pun pamit kepada saya untuk pulang, lalu saya meminta tolong kepada ibu saya agar beliau saja yang bersalaman pada suami sahabat saya sekalian mewakili saya dengan memberi hadiah berupa uang.
Ada juga sahabat yang menikah beda kampung dan sama-sama saudara dengan keluarga saya, lalu ibu saya memilih bersalaman untuk memberikan uang hadiah tersebut kepada yang hubungan tali persaudaraannya lebih jauh.
Fungsi dari tamuntuak ini adalah untuk menjaga silaturahmi agar tidak putus, saling kenal dengan anggota baru di keluarga saudara masing-masing, saling berbagi di saat Hari Raya Idulfitri dan Iduladha dengan hati yang bersih dan ikhlas sesuai dengan kesanggupan dari pemilik setiap rumah yang dikunjungi.
Tradisi ini sudah lama ada dan diwariskan dari generasi ke generasi. Dijalankan oleh generasi terdahulu hingga sekarang. Sehingga, di setiap momen Lebaran Idulfitri dan Iduladha ada saja saudara yang baru menikah datang ke rumah dengan membawa istri atau suaminya. Kebanyakan ibu-ibu bahagia bila datang bertamuntuak ke rumahnya serta merasa kecewa jika pengantin baru tidak datang.
Di zaman dahulu semua pengantin yang baru menikah datang ke rumah saudaranya, baik itu jauh, maupun dekat, mampu ataupun tidak, tidak perlu disuruh datang, melainkan datang sendiri karena mereka paham jika tradisi ini harus dilakoni dan semua saudaranya menunggu kehadiran mereka.
Jadi, berkunjungnya bukan karena niat untuk mendapat ‘salam tempel’, melainkan semata-mata untuk menjaga silaturahmi sehingga tidak ada saudara atau kerabat yang kecewa.
Berbeda dengan zaman sekarang, ada sebagian pasangan pengantin baru tidak banyak kenal dengan saudara yang masih tergolong dekat, apalagi yang jauh, maka orang tua harus memberi tahu rumah-rumah yang harus didatangi. Bahkan, ada juga yang harus diundang terlebih dahulu melalui orang tua pengantin baru tersebut agar anaknya berkunjung ke rumahnya. Jika tidak diundang, mereka tidak akan pergi bertamuntuak.
Di tanah kelahiran saya, sebutan untuk menantu ada dua. Pertama menantu, kedua urang sumando (orang semenda) baik itu laki-laki maupun perempuan. Tradisi tamuntuak ini biasanya sekali seumur hidup dirasakan oleh semua orang, baik itu laki-laki maupun perempuan. Jadi, alangkah baiknya momen ini dinikmati serta dijalani saja prosesnya semampu dan sesanggupnya bagi para perempuan yang sedang hamil saat tamuntuak dilakukan. Semoga tradisi ini tetap eksis dan terjaga walau zaman dan tantangannya tak lagi sama.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/NURUL-HUSNA-Mahasiswi-Pendidikan-Bahasa-Indonesia-dan-Anggota-UK.jpg)