Citizen Reporter
Belajar Menghargai Sesama di Kedah, Malaysia
Program pertukaran pelajaran ini merupakan implementasi dari Memorandum of Understanding (MoU) antara UIN Ar-Raniry
SYARIEYA LISMA, Mahasiswi Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry dan peserta pertukaran pelajar dengan Universitas Utara Malaysia (UUM), melaporkan dari Kedah, Malaysia
SAYA kini berada di Sintok, Changlun, Kedah, Malaysia bagian utara, dalam rangka mengikuti Program Pertukaran Mahasiswa antara UIN Ar-Raniry dan Universitas Utara Malaysia (UUM).
Program pertukaran pelajaran ini merupakan implementasi dari Memorandum of Understanding (MoU) antara UIN Ar-Raniry khususnya Fakultas Psikologi dan UUM.
Program ini digagas oleh Prof Eka Srimulyani PhD saat jadi dekan lima tahun lalu dan kini telah mencapai angkatan ketiga.
Melalui program ini kedua belah pihak telah mengirimkan mahasiswanya untuk belajar di UIN Ar-Raniry Banda Aceh bagi mahasiswa UUM dan belajar di UUM bagi mahasiswa UIN Ar-Raniry.
Program ini sempat terhenti dua tahun lantaran Covid-19 dan kami merupakan angkatan pertama setelah Covid-19 reda. Bersama dua rekan, saya ikut seleksi yang dilakukan oleh Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh untuk memastikan kesiapan kami belajar di negeri seberang.
Singkat cerita, kami turun di Bandara Penang menuju Kampus UUM menggunakan bus kampus. Alhamdulillah, mereka masih bersedia untuk menjemput meski pesawat yang kami tumpangi delay sepuluh jam. Sangat impresif bukan?
Kemudian, sesampainya di kampus pada pukul 02.00 tengah malam kami disambut oleh teman kami yang berasal dari Maluku. Ia mendampingi kami dan memberikan kunci kamar masing-masing.
UUM adalah satu-satunya universitas di Malaysia yang didirikan untuk mengkhususkan diri dalam pendidikan manajemen. UUM memiliki kampus utama seluas 1.061 hektare merupakan satu-satunya universitas di Malaysia yang menyediakan akomodasi kampus untuk lebih dari 22.000 mahasiswa.
Saat ini, UUM baru saja mendapatkan penghargaan menjadi ‘2nd best university in Malaysia’. Saya salah satu manusia yang beruntung dapat menjalani pertukaran pelajar di sini.
Saya pernah berpikir bagaimana bisa kampus ini mendapat julukan ‘2nd best university in Malaysia’. Saya mengamati di hari pertama saya beraktivitas, di sinilah saya menyadari betapa nyatanya pepatah bahwa “adab lebih penting daripada ilmu”.
Saya melihat para mahasiswa antrean makan, mereka berjejer rapi tanpa ada yang menginstruksikan, mobil lalu lalang selalu menghargai penyeberang jalan dan memberikan kesempatan untuk menyeberang, orang yang mempersilakan orang turun terlebih dahulu tanpa harus berdesak-desakan. Hampir tidak pernah saya dengar bunyi klakson baik mobil maupun sepeda motor selama saya berada di sini. Saya pikir ternyata hal yang jarang saya rasakan tersebut menjadi modal UUM untuk mencapai ‘2nd best university in Malaysia’.
Selain tertib, mahasiswa di UUM juga sangat respek terhadap satu sama lain, bahkan terhadap hewan sekalipun. Saya terinspirasi untuk membeli makanan kucing karena melihat ada makanan kucing yang tergeletak di mana-mana. Ternyata baru saya ketahui, mahasiswa di sini sengaja membeli makanan kucing dan membawanya ke mana pun ia pergi dan ketika ia melihat ada kucing liar ia menuangkan sedikit makanan untuknya. "Respect each other" bukan lagi sebuah peraturan yang sengaja dibentuk di UUM ini, melainkan budaya yang sudah ada pada setiap mahasiswanya. Sehingga, tingkat kepekaan mereka terhadap lingkungan juga sangat baik.
Selain itu, budaya belajar mereka juga jauh berbeda dengan apa yang saya ekspektasikan. Dengan fasilitas perpustakaan yang sangat luas, mereka betah jika harus duduk berjam-jam di sana. Hanya sekadar membaca buku atau duduk berlama-lama untuk mengerjakan tugas hingga waktu berkunjung habis. Terlebih lagi, mereka memfasilitasi perpustakaan online bagi mahasiswanya sehingga mahasiswa UUM bisa mengakses segala buku, jurnal, artikel, atau bacaan yang mereka butuhkan tanpa harus pergi ke perpustakaan.
Sebagaimana saya singgung di awal, Kampus UUM ini berada di wilayah Kedah. Kedah sendiri merupakan salah satu tempat yang indah dan sangat memegang teguh nilai-nilai Islam, sama seperti kita di Aceh.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/SYARIEYA-LISMA.jpg)