Idul Adha 1444 H

Bolehkah Daging Kurban Diberikan kepada Non Muslim saat Idul Adha? Begini Kata Buya Yahya

Dalam pembagian kurban Idul Adha muncul pertanyaan. Apakah boleh daging kurban diberikan kepada non muslim?

|
Penulis: Firdha Ustin | Editor: Ansari Hasyim
SERAMBI/YOCERIZAL
Ilustrasi pembagian daging kurban - Warga Gampong Rukoh, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh membagi daging kurban untuk diserahkan kepada warga, Sabtu (2/8/2017) 

Bolehkah Daging Kurban Diberikan kepada Non Muslim saat Idul Adha? Begini Kata Buya Yahya 

SERAMBINEWS.COM - Bolehkah daging kurban diberikan kepada Non Muslim saat Idul Adha? Simak penjelasan Buya Yahya dalam artikel berikut ini.

Menunaikan ibadah kurban adalah salah satu ibadah yang sangat dianjurkan untuk ditunaikan oleh umat Islam saat Idul Adha.

Terdapat berbagai macam hal perlu untuk diperhatikan ketika menunaikan ibadah kurban, termasuk perihal pembagian daging kurban kepada golongan yang berhak untuk menerima daging kurban.

Dikutip dari Kompas.com, ada tiga golongan yang berhak mnerima daging kurban.

Golongan pertama adalah shohibul kurban atau orang yang berkurban.

Golongan kedua adalah teman, dan kerabat.

Baca juga: Banyak dapat Daging Kurban Waktu Idul Adha? Bolehkah Kita Menjualnya? Begini Kata Buya Yahya

Terakhir, golongan fakir miskin.

Dalam pembagian kurban Idul Adha muncul pertanyaan. Apakah boleh daging kurban diberikan kepada non muslim?

Menjawab hal tersebut, pengasuh LPD Al Bahjah KH Yahya Zainul Ma’arif atau Buya Yahya menjelaskan, daging kurban Idul Adha boleh diberikan kepada non muslim, apa lagi tetangga non muslim yang sudah lama hidup bertetangga.

Namun, tidak semua nonmuslim dapat diberi daging kurban.

“Kalau kafir harbi, orang kafir yang memusuhi Islam gak boleh kita kasih. Tapi kalau orang kafir yang hidup berdampingan dengan kita (kafir dzimmi) orang nonmuslim Yahudi, Nasrani, Hindu, Budha di kanan-kiri kita boleh untuk mereka,” jelasnya dikutip dari YouTube Al Bahjah TV.

Lebih lanjut Buya Yahya mengatakan, kebolehan memberikan daging kurban kepada nonmuslim tergantung jenis kurbannya.

Baca juga: Mana yang Terbaik, Kurban Hewan Jantan atau Betina? Buya Yahya Singgung yang Paling Banyak Dagingnya

Menurut pendapat mazhab Syafi’i, apabila kurbannya wajib karena nazar maka tidak boleh diberikan, tapi kalau kurban sunnah boleh diberikan.

“Tapi jumhur ulama mengatakan boleh, tapi hukumnya makruh. Makruh itu bukan sesuatu yang haram. Bahkan bisa saja kemakruhan itu akan hilang jika melihat pentingnya kebersamaan yang harus diwujudkan di saat hidup bertetangga,” pungkas Buya Yahya.

Hukum Menjual Daging Kurban, Halal atau Haram? Begini Penjelasan Buya Yahya : Hak Kita

Pendakwah Buya Yahya mengungkap hukum menjual daging kurban.

Sebagaimana diketahui, setiap perayaan Idul Adha, pembagian daging kurban dilakukan sebagai membantu sesama dan untuk menyemarakkan hari raya kurban.

Daging kurban saat Idul Adha biasa berlimpah. Bahkan di satu keluarga bisa mendapatkan lebih dari satu jatah.

Hingga terbersit untuk menjual daging kurban unutk mendapatkan uang.

Lantas seperti apa hukum menjual daging kurban? Apakah boleh menjual daging kurban atau justru haram?

Pengasuh Pondok Pesantren LPD Al-Bahjah, Buya Yahya menjelaskan terkait hukum menjual daging kurban.

Menurut penjelasan Buya Yahya, menjual daging kurban adalah halal jika daging kurban tersebut sudah kita terima, artinya sudah menjadi hak kita.

"Kalau kita sudah menerima daging kurban, milik saya, boleh saya jual kemana saja," kata Buya Yahya dikutip Serambinews.com dalam unggahan video YouTube Al Bahjah TV, Selasa (20/6/2023).

Justru yang tidak boleh kata Buya Yahya adalah menjual daging kurban sebelum dibagikan, ini menjadi haram biarpun itu hanya sekedar kulit dari hewan kurban.

"Yang nggak boleh menjual daging kurban sebelum dibagi, biarpun kulitnya tidak boleh dibagi," lanjut Buya Yahya.

Jadi menurut Buya, jika seseorang sudah menerima pembagian daging kurban, adalah sudah menjadi haknya.

Boleh saja orang tersebut menjual daging kurban ke mana saja. Apalagi mengingat jika orang tersebut mungkin sudah memiliki banyak daging di rumahnya atau tidak bisa mengonsumsi daging.

"Jadi kalau saya nerima daging kurban , ya suka-suka saya jual wong milik saya, wong milik saya, saya jual dong. Mungkin di rumah sudah banyak daging atau saya tidak makan daging,
masa dipaksa makan daging," imbuhnya.

Simak penjelasan Buya Yahya dalam video berikut ini :

Kisah Inspiratif, Buya Yahya Sebut Ada Tukang Becak Berkurban Kambing Tiap Tahun: Rahasianya di Sini

Pendakwah Buya Yahya membagikan kisah inspiratif dari seorang tukang becak yang bisa berkurban kambing setiap tahun pada hari raya Idul Adha.

Buya Yahya juga mengungkap rahasia dari kisah inpiratif tukang becak tersebut sehingga bisa berkurban setiap tahunnya pada hari raya Idul Adha.

Semua profesi dalam hidup memiliki kesempatan yang sama untuk berkurban pada hari raya Idul Adha, termasuk tukang becak.

Kisah tukang becak setiap hari raya Idul Adha berkurban kambing diulas oleh Buya Yahya, bahkan disebutkan kambing milik tukang becak yang dikurbankannya paling besar.

Kisah inspiratif tersebut dibagikan Buya Yahya melalui kajian dakwahnya yang diunggah kanal YouTube Al Bahjah TV, Jumat (9/6/2023).

Berkurban memang ibadah sunnah yang sangat dianjurkan untuk dilakukan setahun sekali pada hari raya Idul Adha.

Kurban juga sebagai bukti seorang hamba, peduli terhadap sesama, pada mereka yang kurang beruntung dan sebagainya.

Anjuran berkurban seperti dalam surat Al-Kautsar ayat 1-2.

"Sesungguhnya kami Telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat Karena Tuhanmu; dan berqurbanlah," (QS-Al-Kautsar:1-2).

Allah memerintahkan kepada hamba untuk berkurban, bagi siapapun yang memiliki kemudahan.

Namun, kisah satu ini benar-benar membuat seseorang bisa fokus untuk mempersiapkan diri berkurban jika berkeinginan dan berniat berkurban namun tidak mengeluarkan biaya besar.

Seperti kisah yang dibagikan Buya Yahya ini, seorang tukang becak berkurban setiap tahun dan kambing yang dikurbankannya adalah kambing paling besar.

"Saya pernah dengar ada kisah inspiratif, ada seorang tukang becak, dia cerdas," kata Buya Yahya.

Tukang becak ini tidak memiliki harta kekayaan sebagaimana orang-orang kaya pada umumnya, namun ia memiliki keinginan yang kuat dan memiliki tips agar dirinya bisa berkurban setiap tahun.

Diungkap Buya Yahya, tukang becak tersebut menerapkan cara jika setelah selesai Idul Adha, ia membeli tiga kambing kecil sisa dari Idul Adha.

Seperti diketahui, harga kambing setelah hari raya Idul Adha biasanya murah.

"Setelah setiap selesai hari raya kurban, dia pergi ke pasar karena setelah selesai hari raya kurban itu kambing paling murah, dia beli kambing kecil-kecil tiga, setelah itu dirawat sampai besar," kata Buya Yahya.

Usai membeli kambing, tukang becak tersebut kemudian merawat kambing-kambingnya dengan sangat baik.

Menjelang bulan haji pada tahun berikutnya, tukang becak tersebut menjual satu hingga dua kambing miliknya sementara satu kambing lagi ia kurbankan pada hari raya Idul Adha untuk disembelih.

Uang hasil menjual kambing digunakan lagi untuk membeli kambing usai lebaran Idul Adha.

Ternyata, kebiasaan ini dilakukan tukang becak itu setiap tahun agar bisa berkurban setiap tahun ketika Idul Adha tiba.

"Duitnya (hasil jual kambing) ditunggu setelah bulan haji beli tiga lagi, sampai tahun berikutnya sama yang satu dijual, jadi duit. Nanti setelah bulan haji pasti jatuh harganya, beli lagi setiap tahun bisa kurban padahal seorang tukang becak," sambungnya.

Lebih lanjut, Buya Yahya mengungkap ternyata kambing kurban yang telah dibesarkan dari tukang becak tersebut adalah kambing paling besar dari hewan kurban lainnya.

"Bahkan di kampung itu katanya pasti kambingnya yang paling gede, dia orang hebat ,orang cerdas," timpal Buya.

Kisah ini bisa menjadi contoh bagi kaum muslimin yang hendak berkurban tahun depan.

Jika tidak memiliki kesanggupan dana untuk membeli besar sekaligus, maka dari saat ini bisa membeli kambing kecil atau kira-kira bisa untuk di kurbankan tahun depan.

Momen berkurban merupakan amalan yang dilakukan setahun sekali dan memiliki pahala yang sangat besar, maka berkurban harus diupayakan dengan serius kata Buya.

Jika anda dalam satu keluarga terdiri dari lima orang namun tidak mampu berkurban lima ekor hewan, maka satu ekor hewan pun diberi keringanan daripada tidak melakukannya sama sekali.

"Setahun sekali loh ya, ayo InsyaAllah. Setiap tahun kita setiap satu orang satu dianjurkannya. Kalau lima orang ya 5, nggak punya 5 ya 4, gak punya 4 ya 3, gak punya 3 ya 2, gak punya 2 yang penting jangan sampai tidak ada yang berkurban di rumahnya," pungkas Buya Yahya.

(Serambinews.com/Firdha Ustin)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved