Sabtu, 11 April 2026

Info Kesehatan Aceh

Pria Lebih Memilih Rokok daripada Makanan Bergizi, Meningkatkan Risiko Tuberkulosis

Sebuah laporan menyatakan bahwa banyak pria cenderung lebih memilih membeli rokok daripada makanan bergizi, dan hal ini memiliki dampak negatif....

Editor: IKL
IST
Pria Lebih Memilih Rokok daripada Makanan Bergizi, Meningkatkan Risiko Tuberkulosis 

SERAMBINEWS.COM - Sebuah laporan menyatakan bahwa banyak pria cenderung lebih memilih membeli rokok daripada makanan bergizi, dan hal ini memiliki dampak negatif yang signifikan. Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Aceh, dr. Ferry Dwi Kurniawan, SpP(K), mengungkapkan keprihatinannya terhadap kebiasaan ini dan meminta masyarakat untuk mengubah pola pikir mereka.

“Ketika ada yang sakit TB, tak perlu takut menjauhi. Kita semangati untuk minum obat. Kalau ada yang sakit, kita sarankan segera ke dokter,” katanya.

Menurut dr. Ferry, prevalensi penyakit tuberkulosis (TB) di Aceh cukup tinggi, dan kebanyakan pasien datang untuk pengobatan dalam kondisi yang terlambat. Penyakit ini harus segera ditangani karena jika tidak, dapat memiliki konsekuensi yang fatal. Bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menyebabkan TB dapat menginfeksi organ tubuh lainnya, sehingga memerlukan pengobatan yang lebih sulit.

Dr. Ferry juga mengingatkan bahwa keluarga penderita TB harus mendukung proses pengobatan yang dilakukan oleh pasien. Ketidakdukungan dari keluarga dapat membuat penderita kurang termotivasi untuk memeriksakan diri ke dokter.

Selain itu, dr. Ferry mendorong masyarakat untuk menjalani gaya hidup sehat guna mengurangi risiko terkena berbagai penyakit. Ia menyadari bahwa merokok dapat menjadi kecanduan yang sulit untuk dihentikan, namun kesadaran individu harus diutamakan. Banyak masyarakat cenderung lebih memilih membeli rokok daripada makanan bergizi, dan ini dapat meningkatkan risiko terkena TB serta berbagai penyakit lainnya.

Dinas Kesehatan Aceh sebelumnya telah melaporkan bahwa sekitar 20 persen penduduk Aceh adalah perokok berat. Jika populasi Aceh saat ini sekitar 5,5 juta orang, maka jumlah perokok di Aceh diperkirakan mencapai lebih dari 1 juta orang. Uang yang dihabiskan untuk membeli rokok seharusnya dapat digunakan untuk membeli makanan yang bergizi bagi keluarga.

Faktor ini juga dianggap menjadi penyebab tingginya kasus stunting di Aceh, yang angkanya di atas rata-rata nasional. Selain stunting, penyakit lain juga banyak muncul akibat paparan asap rokok, baik oleh perokok itu sendiri maupun anggota keluarga lain yang terkena dampaknya.

Dalam literatur medis, terdapat bukti bahwa perokok pasif memiliki risiko terkena kanker paru-paru. Anak-anak yang terpapar asap rokok, terutama jika orang tua mereka adalah perokok, berisiko mengalami gangguan pernafasan seperti pneumonia, bronkiolitis, bronkitis, dan masalah pernapasan lainnya.

Kesadaran akan bahaya rokok dan asap rokok harus meningkat di masyarakat, terutama dalam hal kesehatan paru-paru dan penyebaran penyakit menular seperti TB. Masyarakat perlu beralih ke pola hidup sehat, meninggalkan kebiasaan merokok, dan memprioritaskan pemenuhan nutrisi yang tepat agar dapat mencegah berbagai penyakit yang berpotensi fatal.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved