Jurnalisme Warga
Uniki, Pusat Literasi Komunitas Milenial
Uniki merupakan sebuah lembaga pendidikan di bawah payung Yayasan Kebangsaan Bireuen dan Yayasan Bina Bangsa Lhokseumawe.
Dr. RITA MEUTIA, S.E., M.Si, Ak., Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala (USK), melaporkan dari Kota Juang, Bireuen
UNIVERSITAS Islam Kebangsaan Indonesia (Uniki) merupakan kampus yang baru seumur jagung. Tanggal 30 April 2023 lalu baru genap tiga tahun.
Perguruan tinggi ini berpusat di Jeumpa, Kabupaten Bireuen, Aceh. Uniki merupakan sebuah lembaga pendidikan di bawah payung Yayasan Kebangsaan Bireuen dan Yayasan Bina Bangsa Lhokseumawe.
Kampus yang berdekatan dengan Dayah Al-Madinatuddiniyah, salah satu dayah terkenal di Aceh, binaan Abu Tumin di Desa Blang Bladeh, Bireuen. Kedekatannya bagaikan dua sejoli yang sedang merajut cinta akan ilmu pengetahuan umum dan ilmu agama.
Selain berpusat di Bireuen, Uniki juga memiliki kampus yang berada di Buket Rata, Kota Lhokseumawe. Adapun Rektor Uniki saat ini adalah Prof Dr Apridar SE, MSi. Selain letaknya yang sangat strategis, yakni di persis di pinggir jalan nasional Medan-Banda Aceh, kampus ini juga memiliki gedung-gedung yang megah berarsitektur Turki. Ditandai dengan kubah hijau. Kebersihannya pun sangat terjaga. Semua itu sangat sesuai dengan lakabnya yang menggunakan nama Islam, yakni Universitas Islam Kebangsaan Indonesia, disingkat Uniki.
Kampus yang berdiri apik di lahan sekitar 3 hektare ini memiliki berbagai sarana pembelajaran serta fasilitas pendukung lainnya. Kampus ini benar-benar didirikan dengan target agar masyarakat memiliki tempat terbaik untuk menggembleng putra-putrinya dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya insani. Berbagai persyaratan yang ditetapkan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) terus diupayakan secara maksimal.
Riwayat Uniki bermula saat suami Hj Nuryani Rahman, yakni Dr Amiruddin Idris MSi, pada tahun 2007 (di pengujung masa jabatannya sebagai Wakil Bupati Bireuen) mendirikan satu yayasan baru, yaitu Yayasan Kebangsaan Bireuen dan mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Kebangsaan.
Amiruddin selaku Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebangsaan Bireuen mendidirikan STIE pada 12 Muharam 1428 H, bertepatan dengan tanggal 31 Januari 2007 M.
Awalnya sekolah tinggi ini menyewa toko milik Pemkab di Jalan Kayee Jatoe Titian Rumbia dan ternyata berkembang bagus. Lalu tahun 2010 lokasi Kampus STIE pindah ke Desa Blang Bladeh dan ternyata kampus baru ini sangat diminati kawula muda Bireuen dan sekitarnya. Masyarakat banyak yang memilih STIE Kebangsaan sebagai tempat kuliah.
Tahun 2018 Yayasan Kebangsaan Bireuen bersama Yayasan Bina Bangsa Lhokseumawe menggabungkan pengelolaan perguruan tinggi yang ada di kedua yayasan tersebut menjadi satu, dinamakan Uniki, dan telah memiliki SK dari Menristekdikti Nomor 342/KPT/I/2019 tanggal 30 April 2019. Kampus utamanya berada di Jalan Medan-Banda Aceh, Gampong Blang Bladeh, Bireuen. Sedangkan Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU) berada di Kampus Lhokseumawe, tepatnya di Simpang Alue Awe, Jalan Medan-Banda Aceh, Kota Lhokseumawe.
Di kampus ini jiwa kewirausaan terus dipatrikan kepada mahasiswanya. Bagi mereka yang kuliah di Fakultas Pertanian dan Peternakan diberikan bibit ternak untuk dilakukan observasi dan pembelajaran yang terintegrasi. Sehingga, terciptanya ‘linkage’ antara mata kuliah dengan dunia usaha. Jadi, mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga malakukan praktik pemeliharaan sekaligus turut serta sebagai pengusaha pemula.
Dalam waktu singkat, pengembangan fakultas yang dikelola Uniki bertambah menjadi enam fakultas, yaitu: 1) Fakultas Ekonomi dan Bisnis dengan Prodi Manajemen dan Prodi Akuntansi; 2) Fakultas Hukum dan Syariah dengan Prodi Hukum dan Prodi Paralegal; 3) Fakultas Komputer dan Multimedia dengan Prodi Informatika jenjang S1, dan Prodi Teknologi Informasi; 4) Fakultas Pertanian dan Peternakan dengan Prodi Sains Pertanian dan Prodi Peternakan; 5) Fakultas Keguruan dan Ilmu Kependidikan dengan Prodi Pendidikan Jasmani. 6) Fakultas Teknik.
Mahasiswa disantrikan
Di bawah kepemimpinan Prof Apridar, Uniki mewajibkan mahasiswi dari luar Kota Bireuen yang tinggal di rumah susun sewa (rusunawa) atau asrama mahasiswa dengan fasilitas hotel bintang tiga, untuk mengikuti kegiatan akademik ekstra, yaitu pembelajaran Al-Qur’an dan berbagai kajian ilmu agama.
Program eksklusif tersebut dicanangkan agar para lulusan nantinya memiliki keterampilan tambahan, dibandingkan dengan universitas umum lainnya.
Program khusus sekaligus andalan Uniki adalah mahasiswanya disantrikan. Ini merupakan kontemplasi dan bandingan di mana kita lihat sekarang sudah mulai langka ilmuwan yang menguasai ilmu agama. Uniki ke depan ingin menghasilkan sarjana yang sujana di mana mereka memiliki ilmu di bidang spesialisasinya, serta taat dan santun terhadap agamanya.
Selama mondok di rusunawa, mereka dididik menjadi mahasiswa plus dengan mata kuliah pendidikan agama sebanyak 8 satuan kredit semester (SKS).
Mereka nyantri dan dibimbing oleh delapan guru pamong yang terdiri atas ustaz/ustazah yang didatangkan dari luar serta dari kalangan dosen Uniki, khususnya dosen yang berlatar belakang ilmu Pendidikan Agama Islam (PAI). Ketika lulus nantinya mereka diharapkan akan dapat dijadikan sebagai model atau contoh lulusan yang memiliki karakter mumpuni.
Pesantren mahasiswa yang digembleng dalam rusunawa berlantai tiga, memiliki 60 kamar tersebut mampu menampung 240 santri. Setiap malam mereka melakukan pengajian Al-Qur’an dan pendalaman agama Islam hingga shalat subuh berjamaah.
Berbagai aktivitas religi yang dilakukan di Uniki, diharapkan menjadi benteng ketahanan kaum milineal terhadap pengaruh negatif dari lingkungan yang dihadapi.
Kebijakan mulia yang diterapkan kampus membuat para orang tua wali berlomba-lomba agar anaknya dapat diterima dalam program khusus tersebut. Di mana penerapan pendidikan yang dilakukan Uniki menjadi model yang sangat cocok diterapkan di Aceh yang menjalankan syariat Islam.
Pendidikan ilmu umum yang dikolaborasikan dengan ilmu agama atau disebut sebagai “pesantren mahasiswa” yang diterapkan Uniki, seharusnya dilaksanakan juga oleh perguruan tinggi lain yang ada di Aceh.
Momentum pemberlakuan Kampus Merdeka yang diberi peluang untuk melengkapi kurikulum telah diupayakan maksimal oleh Uniki untuk memasukkan program pesantren mahasiswa secara optimal sebagaimana ketentuan kurikulum nasional.
Langkah maju yang dilakukan kampus kecintaan kaum milenial tersebut, sangat diapresiasi oleh pemerintah daerah serta para ulama.
Keunikan pengelolaan di Uniki juga terlihat dalam pembagian tugas yaitu rektorat menjalankan urusan akademik, sedangkan yayasan merawat dan memelihara aset, serta dewan pembina yayasan melakukan pengadaan serta pembangunan fisik. Kolaborasi yang begitu indah dapat mempercepat pengembangan kampus kebanggaan masyarakat Bireuen ini. Hal tersebut ditandai dengan minat calon mahasiswa untuk kuliah di kampus milenial tersebut terus meningkat pesat.
Dalam waktu tiga tahun, Uniki sudah memiliki hampir lima ribuan mahasiswa yang terdaftar di Pangkalan Data Pendidikan Tinggi. Untuk kampus swasta di Aceh yang baru, jumlah tersebut merupakan prestasi luar biasa. Kampus ini tidak membatasi usia mahasiswa yang ingin kuliah, umur berapa pun diterima. Tapi uniknya, yang paling banyak mendaftar sebagai mahasiswa baru di Uniki adalah mereka yang baru lulus SMA, MA, dan SMK. Fakta ini menunjukkan bahwa Uniki merupakan kampus yang diminati kaum milenial.
Belakangan, di Uniki sudah diresmikan pula Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Uniki. Melalui wadah ini minimal sebulan sekali dilakukan latihan kepenulisan atau kelas literasi yang diasuh oleh guru-guru andal dari FAMe. Sebelumnya sudah dibentuk pula UKM Jurnalistik sehingga Uniki telah melahirkan kader-kader yang bagus penguasaan literasinya dan terus berpacu menuju Kampus Pusat Literasi Komunitas Milenial di Aceh.
Semoga Allah senantiasa meridai langkah positif yang dilakukan para pengelola Uniki.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Rita-Meutia-99878.jpg)