Wisata
Sensasi Naik Perahu Berpetualang ke Rawa Singkil
Setelah melewati sungai berkelok yang dipagari rimbun beringin, perahu mulai masuk ke sungai yang disesaki tanaman bakung.
Penulis: Dede Rosadi | Editor: Ansari Hasyim
Laporan Dede Rosadi I Aceh Singkil
SERAMBINEWS.COM, SINGKIL - Sinar mata hari masih menyengat ubun-ubun ketika perahu kayu yang ditumpangi Dandim 0109/Aceh Singkil, Letkol Inf Moh Mulyono membelah sungai selebar 300 meter.
Rumah kayu penduduk Teluk Rumbia, berjajar di sisi kanan menjadi pandangan pertama ketika perahu melaju ke arah hulu sungai.
Pandangan berikutnya di sisi sebelah kiri, berupa hamparan tanah kosong diselingi tumbuhan liar.
Lewat tengah hari itu, dengan naik perahu kayu Dandim berpetualang ke Lae Treup, spot paling hits di Rawa Singkil.
Berlayar sekitar 15 menit perahu belok kiri masuk ke sungai kecil. Itulah pintu gerbang masuk Lae Treup.
Baca juga: Selamatkan Jurnalisme Berkualitas
Terdapat dua perbedaan mencolok warna air.
Di sungai besar air cenderung keruh. Sementara Lae Treup airnya hitam, namun bersih
Setelah melewati sungai berkelok yang dipagari rimbun beringin, perahu mulai masuk ke sungai yang disesaki tanaman bakung.
Berkali-kali kepala harus mengelak, agar terhindar dari tamparan daun bakung.
Makin ke dalam hawa sejuk mulai terasa menerpa raga yang tersengat panas sinar matahari.
Pemandangan mulai berganti dengan aneka ragam tumbuhan aquatik. Hamparan air sungai berwarna hitam menarik tangan segera menyentuhnya.
"Airnya dingin," ujar Letkol Mulyono sambil mencoba mencicipi air sungai Lae Treup mengikuti anjuran nakhoda perahu yang memandunya.
Setelah melewati sesak bakung, sampai di alur sungai yang cukup lebar.
Lokasi itu, sekelilingnya tumbuhan bakung diselingi bunga vanda hookeriana.
Vanda hookeriana merupakan tanaman endemik khas Rawa Singkil. Walau tak sedang musim mekar, namun kehadiran vanda hookeriana tetap mempesona petulangan yang datang.
Di lokasi itu, Dandim diajak nakhoda perahu masuk ke alur kecil untuk melihat lokasi warga lokal memasang bubu perangkap lele.
Setelahnya perahu digeser ke dekat plang peringatan bahwa lokasi tersebut merupakan habitat buaya.
Di sana nakhoda perahu mencoba mengangkat bubu. Sayang sedang tak beruntung, di dalamnya tak ada lele yang terperangkap.
Hari mulai mendekat sore, tidak memungkinkan melanjutkan petualang lebih dalam ke alam liar Rawa Singkil.
"Airnya luar biasa, jalannya eksotik banyak tumbuhan bakau," kata Dandim usai menikmati pesona Lae Treup.
Lae Treup sebut Letkol Mulyono, merupakan lokasi bagi masyarakat lokal mencari lele. Sehingga harus dijaga agar tetap lestari hingga ke anak cucu kelak.
Terkait wisatawan, Dandim menyatakan cukup recommended. Hanya saja harus ada pembatasan.
"Wisatawan rekomendasi, cuman harus ada pembatasan. Pengamanan jauh dari mana-mana, BKSDA harus terus melakukan penjagaan," pungkasnya.(*)
Baca juga: Penjahat Kelamin Memang Harus Dihukum Berat
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/naik-perahu-i0.jpg)