Jurnalisme Warga
Menyusuri Jejak TM Usman El Muhammadiy
Kami kedatangan sosok panutan, seorang akademisi, penulis, dan pegiat literasi yang menggagas lahirnya Forum Lingkar Pena, sebuah organisasi kepenulis
SYARIFAH AINI, Pegiat Forum Lingkar Pena Aceh, melaporkan dari Banda Aceh
Sekitar seminggu lalu adalah hari-hari yang mengesankan bagi saya pribadi dan tentunya juga bagi para pegiat literasi Forum Lingkar Pena (FLP) di Aceh.
Kami kedatangan sosok panutan, seorang akademisi, penulis, dan pegiat literasi yang menggagas lahirnya Forum Lingkar Pena, sebuah organisasi kepenulisan yang disebutkan Taufik Ismail sebagai hadiah Tuhan untuk Indonesia.
Ini bukan kali pertama bagi Helvy Tiana Rosa menginjakkan kaki ke Serambi Makkah, tetapi kedatangan HTR–begitu ia kerap disapa–merupakan agenda istimewa untuk keperluan riset mengenai seorang tokoh ulama Nusantara: Teuku Muhammad Usman El Muhammadiy yang tak lain adalah kakek HTR sendiri. Sosok TM Usman disebut agak misterius karena anak dan cucunya tidak ada yang tahu pasti siapa ayahnya. Kesimpangsiuran data dan informasi ini membuat HTR ingin meneliti lebih detail dan menuliskannya dalam sebuah novel biografi.
Ada yang mengatakan TM Usman memiliki ayah bernama Nathan Shihab, ada pula yang menyebut Nathan Shahib. Ini perlu diteliti lebih lanjut. Dia lahir di Ulee Lheue yang pada masa Hindia Belanda merupakan pelabuhan yang bukan sekadar tempat berlabuhnya kapal pengangkutan pasukan militer, senjata, dan logistik, tetapi juga merupakan jalur ekspor impor atau jalur komoditas perdagangan dunia. Bukan hanya karena simpang siur dan banyak yang tidak tahu mengenai sejarah cendikia yang seorang pengusaha dan penulis ini, tetapi HTR mengatakan, belum pernah dia menemukan seorang yang sangat multitalenta seperti kakeknya.
TM Usman El Muhammadiy telah menulis puluhan buku dan ratusan artikel dengan spektrum tema yang sangat luas dan futuristik. Tema tersebut berkisar tentang sosiologi, ekonomi, agama, antropologi, Islam, dan politik negara.
Dia jurnalis yang menggagas lahirnya harian Soeara Atjeh, dan selain ahli kimia, dia adalah pengusaha atau produsen minyak nilam dengan merk dagang Tonikum Ibnu Sina. Dia juga mahir bermain musik dan pernah menjadi gubernur Medan dan Jambi.
Harian Soeara Atjeh terbit secara resmi sebelum tahun 1933 dan setelah tahun tersebut, Soeara Atjeh kemudian didanai oleh organisasi Nahdhil Islah Islami yang dibentuk oleh TM Usman El Muhammadiy.
Di tahun tersebut Ali Hasjmy menjadi redakturnya. Maka berdasarkan literatur dan korespondensi yang telah didapat, termasuk dokumen-dokumen foto menunjukkan kedekatan TM Usman dengan Ali Hasjmy. Ada 100 buku yang dia tulis dan artikel mungkin lebih dari 300.
Kemungkinan karena aktivitasnya sebagai saintis dan sering membuat bom botol, dia pernah ditahan di Sabang. Tahun 1934, rumahnya di jalan Laksana Medan dibakar oleh Belanda karena dia memiliki laboratorium pribadi. Keahlian bidang kimia ini dia miliki karena pernah bersekolah di India, bidang farmasi dan tumbuh-tumbuhan.
Saat Sutan Mohammad Hasan, Gubernur pertama Sumatra, ingin agar Taman Siswa berdiri di Sumatra (khususnya Aceh) dan harus bernegosiasi dengan Suwardi Surryaningrat atau Ki Hajar Dewantara, SM Hasan mengatakan, tak ada orang lain yang cocok untuk tugas tersebut kecuali sahabatnya TM Usman. Maka berangkatlah TM Usman untuk ke Yogyakarta untuk menemui Ki Hajar Dewantara.
Sosok TM Usman adalah sosok yang kontroversial, mungkin karena itu tokoh ini tidak lebih populer dari pemikir-pemikir di zamannya. Dia berpulang saat usia 78 tahun dan ketika itu HTR berusia delapan tahun.
Sosok yang pernah menjadi Ketua Jawatan Industri pada masa Jepang ini dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Medan. Dia juga seorang tentara Mayor Purnawirawan.
Ketika TM Usman wafat 1978 dan saat itu HTR baru berusia 8 tahun. “Suatu hari nanti kamu akan menjadi penulis seperti Atok,” itu adalah kata-kata yang paling diingat HTR seperti doa atau “penglihatan” yang dianugerahkan Tuhan pada kakeknya. Bukan hanya karena HTR sangat mengasihi kakeknya, tetapi sosok TM Usman yang multitalenta dan kontribusi besarnya bagi negara, membuat HTR terpanggil untuk menuliskan biografi sosok yang pernah menjadi gubernur Medan dan Jambi ini.
Dalam kesempatan mengunjungi Aceh kali ini, sebagai penggawa di FLP Aceh, HTR juga memberikan seminar untuk para pegiat FLP khususnya dan pegiat literasi Aceh umumnya. Tema seminar kepenulisan tersebut juga masih berkaitan dengan Menulis Biografi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Syarifah-Aini-908.jpg)