Kamis, 7 Mei 2026

Citizen Reporter

Mengenang Diplomasi Kedekatan Indonesia dan Mesir

Mesir sangat mencintai Indonesia, mereka memberi dukungan yang lebih positif lagi kepada perjuangan Indonesia.

Tayang:
Editor: mufti
IST
AZMI PUTRA GAYO 

AZMI PUTRA GAYO, Mahasiswa Universitas Al-Azhar Kairo, pegiat Literasi Mahasiswa Al-Azhar Mesir, dan Anggota Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh, melaporkan dari Kairo, Mesir

78 Tahun Indonesia telah merdeka, merdeka dari penjajahan. Soekarno memproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, tetapi masih butuh diplomasi dari negara lain, dunia harus tahu Indonesia itu ada dan sudah terbebas dari cengkeraman Hindia Belanda maupun Jepang.

Mesir sangat mencintai Indonesia, mereka memberi dukungan yang lebih positif lagi kepada perjuangan Indonesia. Rakyat Mesir di bawah pemimpin-pemimpin mereka mengadakan rapat umum pada 16 Oktober 1945. Berdasarkan desakan berbagai pihak, selesai rapat tersebut dibentuklah sebuah badan yang disebut Panitia Komite Pembela Indonesia.

Tugas panitia  ini adalah memengaruhi pendapat umum (public opinion) rakyat Timur Tengah untuk kemenangan Indonesia.

Panitia mendesak Kerajaan Mesir dan negara-negara Liga Arab mengakui kemerdekaan Indonesia sepenuhnya.

Panitia Komite Pembela Indonesia diketuai Jenderal Mohammad Saleh Harbi Pasya, yang pernah menjadi Menteri Pertahanan  Mesir. Di antara anggota panitia ini tersebutlah nama Abdurrahman Azzam Pasya yang juga Sekretaris Jenderal (Sekjen) Liga Arab,  M Ali  Attahir, pejuang Palestina, dan semua tokoh Mesir di Kairo.

Setelah menempuh berbagai rintangan, barulah dalam  Sidang Liga Arab tanggal 18 November 1946 diputuskan bahwa setiap negara anggota Liga Arab dianjurkan mengakui kemerdekaan Indonesia secara penuh, de facto dan de jure.

Sidang  kali ini juga menugaskan kepada Sekjen Liga Arab untuk mengirimkan perutusan ke Indonesia guna menyampaikan maksud Liga Arab tersebut.

Abdurrahman Azzam Pasya selaku Sekjen Liga Arab bermaksud memimpin sendiri perutusan itu ke Indonesia. Namun, niat baik Sekjen Liga Arab ini dihalangi oleh Sekutu, terutama Inggris, yang tidak bersedia memberikan visa kepada para perutusan.

Kemudian, dengan penuh rahasia karena takut diketahui mata-mata  Sekutu, Abdurrahman Azzam Pasya menghubungi Konsulat Jenderal  Mesir di Bombay untuk berangkat ke Indonesia. Dengan menyamar sebagai turis, konsul tersebut, Abdul Mun'im, berangkat dari Bombay, India, menuju Singapura.

Pada tahun 1947 datang empat orang di depan pintu Bandara Kairo diadang oleh petugas imigrasi yang bertubuh tegap dengan kumis yang melintang. Petugas itu mengernyitkan dahinya melihat empat orang yang memakai jas kumal dan sendal sepatu yang lusuh memberikan secarik kertas lecek yang banyak coretan dan tanda berasal dari Republik Indonesia. Aneh bin ajaib karena setiap negara biasanya menggunakan buku kecil bukan kertas lecek yang membuat petugas imigrasi bingung.

Salah seseorang dari empat orang itu bertubuh pendek berkata "mision diplomasi, negara baru di Asia, Indonesia" sambil tersenyum sejurus kemudian petugas itu bertanya, "Are you moslem?"
"Yes, we are moslem," jawab pemuda tadi serentak sambil tersenyum tipis menertawakan sikap mereka. "Then, we'll, Ahlan wa sahlan, welcome," sambil tersenyum seraya mempersilakan untuk masuk melewati pintu Bandara Kairo.

Keempat orang itu adalah KH Agus Salim, Menteri Luar Negeri Indonesia sekaligus pemimpin diplomasi pertama, AR Baswedan, Rasjidi, dan Mr Nadzir. Mereka melenggang menuju ruang tunggu yang mana mahasiswa Indonesia di Mesir dan Sekjen Liga Arab Azzam Pasha yang telah menunggu kedatangan mereka.

Kunjungan diplomasi Indonesia ini merupakan balasan dari kunjungan Muhammad Abdul Mun’im yang sebelumnya datang ke Yogyakarta 13-14 Maret 1947 yang ingin menyampaikan pesan mendukung kemerdekaan Indonesia dan menyampaikan pesan-pesan dari Liga Arab, tepatnya keputusan sidang Liga Arab yang berisi anjuran untuk negara-negara Arab mendukung kemerdekaan Indonesia.

Di sisi lain, Belanda mengetahui kedatangan Agus Salim dan jajarannya, maka Belanda berusaha untuk menggagalkan diplomasi Agus Salim dengan menyebarkan opini negatif kepada seluruh rakyat Mesir dengan statement bahwa Nusantara masih di bawah kekuasaan Belanda dan yang datang dari Indonesia merupakan perusuh dan pemberontak negara Hindia Belanda yang berdaulat.

Sebelum ke Mesir, Agus Salim pergi ke acara internasional di Mumbai, India, untuk mencari dukungan dunia atas kemerdekaan Indonesia, terutama negara Asia. Mereka berharap agar bangsa Asia mendukung kemerdekaan Indonesia.

Belanda di Mesir juga memprovokasi Kedutaan Mesir agar tidak mendukung Indonesia. Agus Salim menunggu di ruang tunggu kantor diplomasi karena pihak Belanda sedang negosiasi dengan Mesir terkait Indonesia milik Belanda.

Pada saat itu, PM Noraskhi bersikukuh mendukung Indonesia atas nama persaudaraan keagamaan dan kemanusiaan Mesir juga yang berani menentang diplomat Hindia Belanda yang berada di Mesir dan menghadapi teror dilaporkan ke PBB untuk membatalkan perjuangan Mesir untuk Palestina yang hendak dibawa ke anggota PBB dan melaporkan Mesir ke PBB dengan dalih menerima pemberontak negara yang sah Hindia Belanda.

Namun, Mesir tidak gentar sedikit pun, 14 Juni 1947 persahabatan Mesir dan Indonesia ditandatangani dengan tanda tangan tersebut Indonesia sah menjadi sebuah negara berdaulat pengakuan de jure dan de facto dari negara yang sah.
Intuisi kemerdekaan terasa sekali di Mesir bahkan sampai sekarang Indonesia dan Mesir menjadi negara sahabat.

Kedekatan Indonesia dan Mesir bertambah dengan pergerakan nonblok yang didirikan oleh Soekarno yang tidak memihak blok Timur maupun blok Barat. Seolah Soekarno ingin mendamaikan Perang Dunia saat itu dengan pergerakannya tersebut.

Hampir semua negara Timur-Tengah mengikuti gerakan nonblok atau bisa disebut gerakan politik bebas aktif karena dengan salah satu alasan mendukung perdamain dunia setelah bertahun-tahun berperang yang mana perang selalu menjadi kegelisahan seperti neraka yang mengorbankan rakyat sipil.

Nama Soekarno dan Hatta diabadikan untuk sebuah jalan di Tahrit Jalan Ahmad Soekarno dan Muhammad Hatta, mahasiswa Indonesia di Mesir menambahkan Ahmad di depan nama Soekarno untuk menunjukkan bahwa Soekarno beragama Islam.

Sejarah itu kembali diulang untuk mengingatkan anak bangsa, terutama di Mesir, agar selalu ingat bahwa sejarah kita sejarah bangsa Indonesia memiliki tokoh-tokoh yang berani dan sangat cinta kepada negara mengobarkan semangat perjuangan sehingga rela  berpura-pura dan menyusup ke forum Liga Arab untuk memproklamasikan bahwa Indonesia masih ada, Indonesia layak dibantu.

Beberapa kali pelajar Nusantara berunjuk rasa di depan Kantor Diplomasi Hindia Belanda menuntut agar mereka melepaskan Indonesia.

Semangat itu harus selalu dijaga, walaupun dalam bentuk yang berbeda dengan semangat memerangi kebodohan dan mempersatukan Indonesia di bawah panji-panji keislaman yang damai.

Selain itu, mengedepankan toleransi seperti ajaran Al-Azhar, yaitu washatiyah, mengembangkan diri lebih baik, untuk sebuah desa untuk sebuah kota untuk sebuah negara yang benderanya terinspirasi dari pedang bendera Rasulullah. Yang Pancasilanya berdasarkan ayat-ayat Allah yang mana Pancasila sebagai dasar negara memiliki ideologi yang dapat diterima blok Timur dan blok Barat.

Pancasila seolah menjadi pendamai di kedua belah pihak. Ada ideologi sosialis dan liberalis. Kita harus bangga dengan Indonesia dan harus merasa selalu rendah hati mengejar rida Ilahi.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved