Citizen Reporter

Keajaiban Ziarah Tanah Haram

Berziarah ke Tanah Haram merupakan impian umat Islam seluruh dunia, baik yang kaya maupun miskin. Menginjakkan kaki di Kota Mekkah Almukarramah dan Ma

Editor: mufti
IST
JULIANI JACOB, SHI, M. Ag., Amil Baitul Mal Aceh dan Pegiat Sosial 

JULIANI JACOB, SHI, M. Ag., Amil Baitul Mal Aceh dan Pegiat Sosial

Berziarah ke Tanah Haram merupakan impian umat Islam seluruh dunia, baik yang kaya maupun miskin. Menginjakkan kaki di Kota Mekkah Almukarramah dan Madinatul Munawwarah akan menjadi candu meskipun sudah pernah ke sana.

Orang-orang yang dipanggil Allah ke Tanah Haram ialah orang-orang pilihan. Tidak sedikit juga orang miskin yang Allah panggil menuju tanah suci, seperti seorang ibu pedagang sayur kaki lima di Pasar Lambaro, Aceh Besar, cleaning service, dan masyarakat yang ekonominya lemah tiba-tiba Allah mampukan bisa ke sana. Yakinlah, ketika Allah berkata kun maka fayakun.

Begitu pun saya. Sejak tahun 2016 sangat ingin ke sana bersama orang tua. Saking inginnya, saya memasukkan umrah dalam buku impian dan menargetkan bisa berangkat pada tahun 2019. Alhamdulillah, impian tersebut Allah wujudkan pada Mei 2023.

Rasa haru terasa begitu kentara ketika membaca ucapan selamat datang dalam enam bahasa di Imigrasi Bandara Internasional Pangeran Mohammad bin Abdul Aziz. “Welcome to the city of Profet Mohammad (Peace Be Upon Him)”  begitu kalimat yang tertulis di sana.

Air mata tak bisa dibendung lagi. Keluar dengan sendirinya. Kami merasa disambut dengan begitu hangat. Rasa ini sulit dinarasikan dengan kata-kata. Meskipun sama-sama bandara internasional dengan beberapa bandara negara Asia dan Eropa yang pernah saya singgahi, nilai spritualitasnya jauh berbeda.

Keberangkatan umrah kami ini bisa dikatakan perjalanan yang sangat singkat. Program 13 hari termasuk perjalanan pergi dan pulang. Lima hari di Madinah dan enam hari di Mekkah. Namun hari terakhir di Mekkah, waktu kami dihabiskan hanya untuk perjalanan menuju Bandara Jeddah dan menanti jadwal kepulangan di bandara dari siang hingga malam.

Saat berada di Madinah, kami memanfaatkan waktu untuk beriktikaf di masjid selama tiga hari. Di Masjid Nabawi, kami fokus melaksanakan shalat wajib berjamaah dan salat-salat sunah lainnya seperti salat tahajud, salat taubat nasuha, salat hajat, salat duha, dan juga salat jenazah secara berjamaah setiap selesai salat wajib lima waktu. Aktivitas ini sudah menjadi rutinitas para jamaah di sana.

Beribadah di Masjid Nabawi terasa sangat nyaman. Saf para jamaah ditertibkan oleh para askar (petugas). Namun saat mengunjungi Raudhah (taman syurga), semua orang terlihat sangat antusias karena ingin berdoa dan salat sunah di tempat yang dijamin semua do’a  Allah ijabah. Tidak ada lagi saf yang nyaman untuk melakukan salat sunah. Semua orang berebutan sehingga ada kepala yang terinjak saat sedang sujud. Bahkan ada yang terdorong saat sedang rukuk, dan tersenggol-senggol.

Rasa haru dan sedih bercampur aduk karena bisa sampai di dekat makam Rasulullah Muhammad saw. Seandainya semua bisa lebih tertib, maka kenyamanan saat salat sunah dan berdoa di sana akan lebih maksimal lagi. Kondisi ini menuntut kita harus bisa menjaga dan mengelola perasaan kita. Allah akan mudahkan semua langkah kita jika hati lapang menerima segala kemungkinan yang terjadi.

Begitu juga saat berada di Masjidil Haram, Mekkah. Kondisi cuaca yang panas dan ketidaktertiban di Masjid Nabawi, kita betul-betul diuji untuk bisa terus bersabar dan memelihara pikiran yang positif. Kita harus meyakini, Allah akan tunjukkan keajaiban-keajaiban bagi hamba-hamba-Nya yang bersyukur.

Keajaiban di Tanah Haram

Tanah Haram benar-benar tempat yang Allah ijabahkan doa. Saya dan umi beberapa kali merasakan keajaiban di sana. Ada beberapa keinginan yang terwujud sesaat setelah berdoa kepada Allah. Suatu ketika di Masjid Nabawi, umi sangat menginginkan tasbih kayu. Tak berapa lama, datang orang yang tidak dikenal membagi-bagikan tasbih kepada setiap orang di sana.

Begitu pun saat di Mekkah, umi sangat ingin membeli Al-Qur’an Rasm Ustmani. Saat berada di halaman Masjidil Haram  dalam hati saya berdoa, “Ya Allah, kami sangat ingin punya dua Al-Qur’an Rasm Utsmani itu,”. Sesaat kemudian ketika kami sudah memasuki Masjidil Haram dan hendak turun menuju ke Ka’bah, ada orang yang memanggil kami dan mengatakan “Halal, halal, halal,” sambil menghadiahkan kami Al-Qur’an Rasm Utsmani yang sudah distempel waqf lillah. Masya Allah, terharu sekali, kami betul-betul terkejut dan merasa sangat bahagia bisa mendapatkan yang kami inginkan.

Keajaiban lain yang juga saya rasakan saat tawaf sunah. Saat itu kondisi di sekeliling Ka’bah sangat padat, bahkan saya tidak bisa mendekat ke Ka’bah. Jadi saya hanya bisa memandang Ka’bah dari jauh dan terus berdoa dalam hati agar bisa mendekat ke Ka’bah dan Hajar Aswad. Saya betul-betul merasakan kun fayakun-nya Allah. Tiba-tiba di samping saya jadi lempang, seperti diarahkan menuju Ka’bah dan saat sudah dekat Multazam. Tiba-tiba saya sudah menginjakkan kaki di dekat pintu Ka’bah dengan posisi jongkok.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved