Senin, 25 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Perlawanan terahadap Marsose Belanda di Gampong Bucue

TAHUN  1326 Hijriah selesailah disalin Hikayat Muda Belia oleh Teungku (Tgk) Ibrahim di tempat persembunyiannya di dalam rumpun bambu.  Lokasinya di L

Tayang:
Editor: mufti
SERAMBINEWS/tambeh.wordpress.com
T A SAKTI, penerima Kehati Award 2001 dari Yayasan Keanekaragaman Kehidupan Hayati Indonesia (Kehati) Jakarta, melaporkan dari Dusun Lamnyong, Gampong Rukoh, Darussalam, Banda Aceh 

T.A. SAKTI, peminat sejarah dan kitab jameun (manuskrip Aceh), melaporkan dari Gampong Bucue, Kecamatan Sakti, Pidie

TAHUN  1326 Hijriah selesailah disalin Hikayat Muda Belia oleh Teungku (Tgk) Ibrahim di tempat persembunyiannya di dalam rumpun bambu.  Lokasinya di Lampoh Rot Timu (kebun sebelah timur), Gampong Bucue, Kecamatan Sakti, Pidie (sekarang).

Hikayat ini membahas tentang pentingnya rakyat Aceh melawan Belanda yang hendak menjajah negeri Aceh yang mulia. Saat itu, usia perlawanan terhadap Belanda sudah berjalan 37 tahun, dimulai tahun 1289 H/1873 M. Bentuk perlawanan pun bukan lagi perang frontal (secara langsung menyerang musuh), melainkan sudah mengerucut menjadi perang gerilya. Hanya rumpun bambu yang dijadikan “benteng  pertahanan” alias tempat para  gerilyawan bersembunyi dari kejaran Belanda.

Sebenarnya, pihak Belanda  bertahun-tahun sudah mengedarkan pengumuman bahwa siapa pun yang mengambil  surat “tanda menyerah” dipersilakan pulang kampung untuk hidup aman damai. Namun, mayoritas gerilyawan muslimin Aceh tetap menepis anjuran Belanda itu dan terus melanjutkan perlawanan.

Tgk Ibrahim yang merupakan putra asli Gampong Bucue (Maaf, dalam Jurnalisme Warga Serambi Indonesia, Sabtu, 12 Agustus 2023  tertulis: Ia berasal dari Beutong Pocut, Nanggroe Lam Meulo, Pidie. Seharusnya: putra asli Gampong Bucue. Hari itu ia hanya mencari kambing ke Beutong Pocut).

Beliau tidak sendirian bersembunyi di Lampoh Rot Timu. Banyak orang lain yang menyertainya, baik mereka yang asal Bucue maupun yang datang dari tempat-tempat yang jauh seperti dari Tiro, misalnya.
Kesemua mereka digelar "ureueng muslimin" (gerilyawan muslimin Aceh).

Rumpun bambu itu memang cukup luas dan banyak hutan di sekitarnya. Terlihat dari luar, terhampar semak belukar. Akan tetapi, di bagian dalam  terdapat lorong dan bilik yang kebersihannya 'jeuet tapileh bu ro' (dapat dipungut butir nasi yang tumpah).

Lama-kelamaan keberadaan ureueng muslimin di Lampoh  Rot Timu, gampong Bucue tercium juga kepada  'loh' Belanda (mata-mata Belanda), yang di Aceh sekarang lebih sering disebut cuak. Pada awalnya dia merintis persahabatan dengan seorang gerilyawan yang keluar dari “benteng rumpun bambu” pada saat-saat yang aman. Akal bulus yang dipakainya amat jitu. Di saat dirasakan sudah tepat waktunya, dia menceritakan rahasia pribadinya. Bahwa ia diwasiatkan ibunya untuk mengabdi kepada ureueng muslimin/pejuang Aceh. “ Hal  itulah yang menjadi tujuan hidup saya sekarang,” katanya.

Singkat cerita, setelah melewati berbagai pertimbangan, maka  diajaklah si Loh Belanda ini ke tempat persembunyian para gerilyawan. Di sana pun sang penipu ini cukup pintar menggoreng kisah bohongnya. Akhirnya, semua pasukan muslimin Aceh percaya.bahwa tamu mereka itu betul-betul ikhlas “lillahi Ta’ala”(ikhlas demi Tuhan).

Tiba-tiba pada suatu hari, marsose Belanda telah mengepung benteng rumpun bambu itu. Rentetan tembakan Belanda terus menyalak cukup lama. Gerilyawan muslimin Aceh tak dapat meloloskan diri, karena di luar ‘benteng”  dikepung rapat berlapis-lapis. Tindakan terakhir Belanda adalah menyiramkan minyak ke rumpun bambu, lalu membakarnya.

Dalam sekejap rumpun bambu itu ludes terbakar. Terdengarlah thap-thuep (cas-cus...) bunyi kepala para pejuang Aceh yang meledak menjelang hangus. Semua  gerilyawan muslimin Aceh   syahid sebagai syuhada.
Dulu, sewaktu saya sering bolak-balik untuk memasang dan menjemput bubu (bubee)  serta 'plong' penangkap ikan di Lueng Beutong (Sungai Beutong), saya selalu melintas di samping “situs bersejarah” itu. Hati saya selalu bergumam: Teramat kejam marsose Belanda yang tega membakar hidup-hidup para ksatria Aceh.

Pada hari nahas itu Tgk Ibrahim sedang berada di luar benteng rumpun bambu, sehingga beliau selamat dari gempuran musuh. Sejak masa itulah Tgk Ibrahim alias Abi Nyak Jali menjadi buronan marsose Belanda.

Dua pahlawan

Gampong Bucue tidak sunyi dari para pahlawan. Semasa   Belanda masih di Aceh, telah hadir seorang pahlawan yang kawin dengan seorang perempuan keluarga kami. Beliau bernama panggilan Tgk Di Tanjong, yang pernah dibuang Belanda ke Beutawi atau Batavia lebih lima tahun. Sepulang dari sana, ia berumah tangga ke Gampong Bucue.

Pada tahun 1939, terjadi peristiwa amat menegangkan bagi semua warga Gampong Bucue dan kampung lainnya. Sekitar pukul 09.00 pagi terdengar suara gemuruh yang amat gaduh. Semua orang berlarian, baik karena takut maupun karena mencari sumber suara yang mencekam itu. Seluruh penduduk kalang kabut serta bingung, karena tak mengetahui asal gemuruh yang memekakkan telinga  warga.

Tgk Di Tanjong turut bersama masyarakat mencari sumber suara tersebut. Beliau tampak tidak gusar sebagaimana warga lainnya. Sesampai di pinggir persawahan (Aceh: bineh blang), telunjuk tangannya diarahkan ke sumber suara gemuruh sambil berkata: Nyan su kapai teureubang (Itu suara pesawat terbang). Ternyata, tujuh buah kapal terbang melintas di angkasa Gampong Bucue, yang   yang belum pernah dilihat warga Bucue selama ini.

Sejak berada di Betawi,  Tgk Di Tanjong  telah berkali-kali mendengar suara serupa. Menyimak penjelasan Tgk Di Tanjong, barulah warga Bucue merasa aman dan tenang kembali. Sejak itu, beliau semakin dihormati masyarakat Bucue.

Pahlawan kedua yang menjadi warga Gampong Bucue adalah Pang Hab  Keumire (Panglima  Abdul Wahab). Beliau berasal dari Keumire, Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar. Ia kawin dengan Aisyah, warga kampung saya.  Putranya kelahiran Bucue bernama Hasballah (Tgk Aceh), yang masih hidup sampai sekarang. Baru-baru ini Tgk Aceh jatuh dari loteng  rumah orang yang sedang diperbaikinya. Ia terbaring sakit di rumah dan  belum dapat bertukang lagi.

Riwayat hidup Pang Hab puluhan tahun ‘misterius’ bagi saya, barulah terang benderang pada minggu pertama bulan Februari 1993, setelah membaca artikel yang ditulis Prof Ali Hasjmy di Harian Serambi  Indonesia  yang berjudul: Pang Hab, Panglima Perang Aceh di Tiga Zaman.

Pang Hab ialah salah seorang panglima dari para Uleebalang (komandan  batalion) dalam lingkungan Sagoe/Kawom (Divisi  XXII Mukim yang Panglima Sagoenya bergelar Panglima Polem Sri Muda Perkasa).
Beberapa komandan batalion  lain yang sezaman dengan Pang Hab dan juga anak buah Panglima Polem Sri Muda Perkasa  adalah Pang Raden (Pan Den), Pang Husin (Pang  Usen), dan Pang Abbas (Pang Abah, yakni kakek Prof Ali Hasjmy).

Dari ketiga panglima ini, hanya Pang Hab-lah yang masih hidup sampai zaman Indonesia merdeka dan mendapat Piagam Tanda Kehormatan dan Bintang Jasa dari Presiden Republik Indonesia, Soekarno.
Atas nama Presiden Republik Indonesia, pada tanggal 17 Agustus 1961, Gubernur/Kepala Daerah Istimewa Aceh, Ali Hasjmy  menyerahkan Piagam Tanda Kehormatan dan Menyematkan Bintang Tanda Jasa pada dada Pahlawan Tiga Zaman, Pang Hab Keumire itu. Penjelasan  Prof A. Hasjmy  nyaris  lengkap. Termasuk keterangan bahwa  Pang Hab sempat berjuang lagi untuk mengusir Belanda menjelang kedatangan Jepang.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan RI (1945), Pang Hab menggabungkan diri dalam Barisan Mujahidin untuk bertempur melawan Belanda di Medan Area, Sumatera Utara. Ya, demikianlah kisahnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved