Breaking News

Citizen Reporter

Pendidikan Karakter ala Finlandia

Pada kesempatan ini, saya akan berbagi pengalaman ketika melakukan observasi di The Finnish International School of Tampere, Finlandia. Di sekolah ini

Editor: mufti
IST
ZUBIR, peserta Short Course “Curriculum Development for Climate Change Education” Finlandia dan Direktur Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe, melaporkan dari Helsinki, Finlandia 

ZUBIR, Guru Informatika Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe, melaporkan dari Tampere, Finlandia

Pada kesempatan ini, saya akan berbagi pengalaman ketika melakukan observasi di The Finnish International School of Tampere, Finlandia. Di sekolah ini siswanya berasal dari berbagai negara, termasuk dari Indonesia. Mayoritas berasal dari Finlandia.

Menuju sekolah, kami menggunakan trem (moda transportasi seperti kereta api yang beroperasi di perkotaan). Di dalam trem, di pagi itu, sudah terlihat banyak anak sekolah, termasuk anak yang masih TK (pre-school). Mereka pergi sekolah tanpa diantar orang tuanya.

Saya turun trem beserta puluhan anak-anak yang lain. Mereka jalan dengan sangat cepat, saya pikir karena sudah terlambat. Kami pun menyesuaikan langkah dengan ritme langkah mereka. Namun ternyata, begitu sampai di sekolah, mereka langsung ke area permainan yang sudah dipenuhi oleh teman-temannya yang sudah duluan tiba.

Ada banyak fasilitas bermain yang tersedia di sekolah. Anak-anak ini memulai hari dengan kebahagiaan. Dari halaman depan sekolah, saya sudah bisa membayangkan kualitas pendidikan di sekolah ini.

Tak lama dari itu, bel berbunyi. Secara mandiri, semua siswa bergegas ke kelas masing-masing. Guru sudah menunggu di pintu dan menyambut siswa. 

 

Observasi di kelas

Hari itu, kami diajak untuk melakukan observasi di kelas 5, 8, dan kelas 2. Di sini, SD dan SMP digabung menjadi satu atap dengan satu orang kepala sekolah.

Kami dipersilakan masuk dan duduk di kursi belakang. Ada beberapa siswa yang terlambat, guru bertanya alasan keterlambatan. Setelah siswa memberi alasan, mereka dipersilakan duduk di kursi yang telah ditentukan.

“Ada juga ya anak yang terlambat di sini. Mungkin mereka keasyikan main futsal tadi,” bisik saya ke teman di samping.

“Ya, mereka kan juga anak-anak. Tapi di sini kalau terlambat nggak dihukum. Kalau di tempat kita bakal disuruh kutip sampah tuh anak.”

Guru memulai dengan menjelaskan tujuan pembelajaran. Per semester ini, ada mata pelajaran baru yang diajarkan di seluruh sekolah di Finlandia. Mata pelajaran ini lahir atas riset yang dilakukan oleh universitas. Dari hasil riset, diperoleh data bahwa kemampuan untuk saling berinteraksi sesama, kemampuan untuk bekerja sama, dan keterampilan ‘social skill’ anak-anak Finlandia mengalami penurunan.

Atas dasar itu, seluruh sekolah di Finlandia perlu segera menangani hal ini. Guru diberi kebebasan untuk meningkatkan kompetensi ‘social skill’ siswa.

Di kelas yang kami observasi, Mikki, guru di kelas tersebut menggunakan gim (game) dalam proses pembelajaran. Gim ini sudah disiapkan khusus oleh universitas. Dalam aktivitas bermain gim, siswa akan terbangun interaksi, komunikasi, dan kerja sama tim. Juga akan tumbuh kepekaan sosial siswa berdasarkan alur perjalanan di gim. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved