Sabtu, 11 April 2026

Info Cuaca

Oktober, Aceh Masuki Musim Hujan, NTP Petani Naik

Daerah yang diprediksi akan mengalami musim hujan di atas normal tersebut adalah, Kabupaten Aceh Singkil

Penulis: Herianto | Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS.COM/HENDRI
Ilustrasi - Hujan Ringan 

Laporan Herianto l Banda Aceh

SERAMBINEWES.COM - Petani padi, kacang kedelai, jagung, hortikultura dan lainnya, akan merasa senang, bahagia dan gembira pada saat mendengar informasi dari Badan Metrologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang menyatakan, pada bulan Oktober – Desember 2023 ini, sekitar 75 persen  wilayah di Aceh, mulai memasuki musim hujan normal dan 25 persen lagi berada di atas normal.

Daerah yang diprediksi akan mengalami musim hujan di atas normal tersebut adalah, Kabupaten Aceh Singkil bagian Barat, Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Tamiang bagian Barat, Kabupaten Aceh Timur, bagian Timur  dan Kabupaten Gayo Lues bagian Timur.  Demikian press rilis yang disampaikan Stasiun Klimatologi Aceh, Rabu (4/10/2023).

Kepala Stasiun Klimatologi Aceh, Muhajir mengatakan, selain  empat daerah tadi, masih ada beberapa daerah lagi yang diperkirakan volume curah hujannya pada bulan ini cukup tinggi, yaitu Kabupaten Nagan Raya bagian Selatan, Aceh Barat Daya bagian Timur, Aceh Selatan bagian Utara, Aceh Tenggara bagian Barat, Gayo Lues bagian Selatan, Aceh Jaya bagian Timur, Aceh Barat bagian Utara dan Pidie bagian Selatan.

Baca juga: Jembatan Lalla Simeulue Mulai Tergerus Aliran Sungai Saat Diguyur Hujan Deras

Periode puncak musim hujan, ungkap Muhajir, diperkirakan akan terjadi pada bulan November – Desember 2023, di hampir semua wilayah Aceh. Oleh karena itu, kelompok tani yang ingin merealisasikan tanaman pertanian, hortikultura dan perkebunannya, sudah bisa membuat program perencanaan penanaman komoditas pangannya.

Namun begitu, kata Muhajir, Pemerintah dan masyarakat tani, bersama instansi dan lembaga teknis, perlu antisipasi terhadap kemungkinan  dampak musim hujan, terutama di wilayah yang diperkirakan frekuensi dan volume curah hujan yang akan turun di atas normal.

Maksudnya, lanjut Muhajir, Pemerintah Daerah, yang wilayahnya diperkirakan akan mengalami turun hujan di atas normal, Badan Penanganan Bencana Alam daerah setempat, bersama dinas dan lembaga teknis serta masyarakat taninya, perlu lebih waspada lagi, dalam menghadapi bencana banjir dan tanah longsor.

Kepala Dinas Perkebunan dan Pertanian Aceh, Cut Huzaimah melalui Kabid Produksinya, Safrizal yang dimintai tanggapannya terkait bulan ini, Aceh sudah mulai masuk musim hujan mengatakan, petani padi, pasti mereka merasa senang, dan gembira.

Pada musim kemarau kemarin, sebut Safrizal, ada sekitar 498 hektar tanaman padi di Aceh yang puso, akibat kekeringan, tersebar di 10 kabupaten/kota. Paling banyak terkena puso di Kabupaten Bireuen capai 293 hektar, Aceh Besar 94 hektar, Aceh Utara 65 hektar, Nagan Raya 35 hektar dan beberapa daerah lainnya.

Setelah bulan ini, air hujan sudah mulai turun dari langit, kata Safrizal, diharapkan para petani kembali mengolah sawahnya untuk ditanami padi di musim rendeng.

Pada musim tanam padi gadu kemarin, target tanam padi Aceh dari April hingga September 2023 sekitar 131.137  hektar, realisasi tanamnya hanya mencapai 92.383 hektar.

Karena realisasi tanaman padinya, cuma mencapai 70,44 persen, kata Safrizal, target produksi padi ikut tidak, sehingga membuat stok gabaha di tingkat petani dan penggilingan jadi rendah. Konsekuensinya, harga gabah dan beras bergerak naik.

Dampak dari kenaikan harga gabah pada bulan September kemarin, kata Safrizal, telah membuat nilai tukar petani (NTP) Aceh, pada bulan tersebut jadi naik 2,31 persen menjadi 118,03.

Peningktan NTP itu, lanjut Safrizal, menurut pihak BPS, juga terjadi pada sub sektor pertanian lainnya, diantaranya hortikultura dan perkebunan, peternakan dan perikanan. Karena pada bulan September lalu harga komoditas tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan perikanan sedang naik.

Jika harga komoditi pertanian meningkat, menurut pihak BPS, Indek Harga yang diterima petani meningkat sebesar 2,85 persen dan indeks yang dibayar petani juga meningkat 0,52 persen. Tapi karena indek yang diterima petani kenaikannya besar, maka kenaikan indeks yang dibayar petani kecil, petani masih diuntungkan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved