Opini

HIV/AIDS di Kalangan Remaja

HUMAN Immunodeficiency Virus (HIV) adalah masalah global yang serius, yang juga berdampak signifikan pada kalangan remaja. Kelompok remaja usia 15-25

Editor: mufti
IST
dr Devrina Maris, Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Syiah Kuala dan Tim HIV/AIDS RS Harapan Bunda Banda Aceh 

dr Devrina Maris, Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Syiah Kuala dan Tim HIV/AIDS RS Harapan Bunda Banda Aceh

HUMAN Immunodeficiency Virus (HIV) adalah masalah global yang serius, yang juga berdampak signifikan pada kalangan remaja. Kelompok remaja usia 15-25 tahun merupakan salah satu kelompok yang paling banyak berisiko  terinfeksi HIV. Ini berdasarkan data Kementerian Kesehatan per 2022, dimana didapatkan baru 76 persen orang dengan HIV mengetahui statusnya, 41 persen orang dengan HIV mendapatkan pengobatan, serta baru 16 persen orang dengan HIV yang mendapatkan pengobatan, virusnya tersupresi.

Sebagai orang dewasa sadarkah kita bahwa remaja dan generasi muda terus menderita akibat infeksi HIV. Lalu mengapa para remaja ini begitu rentan terhadap infeksi HIV/AIDS tersebut. Sebelum itu kita harus tahu terlebih dahulu apa itu HIV dan AIDS?

Human Immunodeficiency Virus atau biasa disingkat dengan HIV adalah salah satu jenis virus yang dapat menyebabkan penyakit serius bagi penderitanya. Lantaran, HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Lebih tepatnya HIV menyerang salah satu sel di dalam sel darah putih, yaitu sel T atau CD4. Di mana, sel tersebut memiliki peran sangat penting untuk menjaga imun tubuh dan memerangi infeksi yang masuk ke dalam tubuh.

Apabila infeksi yang terjadi akibat virus ini tidak ditangani sesegera mungkin, infeksi HIV ini dapat berkembang hingga mencapai stadium akhir. Dimana stadium akhir dari HIV adalah AIDS. AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome merupakan kumpulan dari beberapa gangguan kesehatan yang disebabkan oleh sangat lemahnya sistem kekebalan tubuh yang mengakibatkan tidak mampu tubuh untuk bisa melawan infeksi yang masuk.

Dengan kata lain, perbedaan HIV dan AIDS ini yaitu terletak pada konteksnya. HIV adalah virus yang menyebabkan melemahnya sistem imunitas tubuh. Sedangkan, AIDS adalah kondisi gangguan kesehatan yang diakibatkan dari melemahnya sistem imunitas tubuh tersebut.

Remaja rentan HIV

Kurangnya Pendidikan Seks. Salah satu faktor utama yang membuat remaja rentan terhadap HIV adalah kurangnya pendidikan yang memadai tentang seksualitas dan HIV/AIDS. Banyak sistem pendidikan belum mengimplementasikan kurikulum yang komprehensif tentang kesehatan reproduksi, penggunaan kondom, dan pencegahan HIV. Kekurangan pendidikan yang akurat dan komprehensif menyebabkan remaja memiliki pengetahuan yang terbatas tentang risiko HIV dan cara menghindarinya.

Tekanan Sosial. Remaja sering menghadapi tekanan sosial yang kompleks seperti ekspektasi seksual, rasa ingin tahu yang tinggi, dan pengaruh dari media sosial. Semua faktor ini dapat memengaruhi komunikasi yang terbuka tentang seks, membuat mereka merasa malu atau enggan untuk mencari informasi tentang seksualitas dan HIV/AIDS. Remaja dapat terlibat dalam perilaku seksual yang berisiko tanpa pengetahuan yang cukup tentang pencegahan HIV.

Stigma dan diskriminasi. Stigma dan diskriminasi yang terkait dengan HIV/AIDS juga merupakan faktor yang signifikan dalam meningkatkan risiko HIV di kalangan remaja. Ketakutan akan penolakan dan diskriminasi dapat mencegah remaja untuk mencari tes HIV, mendapatkan pengobatan yang diperlukan, atau berbagi informasi tentang status HIV mereka dengan mitra seksual mereka. Stigma ini juga dapat menghambat upaya pencegahan HIV dan mengakibatkan keengganan untuk mencari dukungan dan bantuan.

Tantangan dan kesadaran HIV

Ketidaktahuan dan Miskonsepsi. Masalah ini merupakan salah satu tantangan utama dalam mendorong kesadaran tentang HIV di kalangan remaja. Banyak remaja masih menganggap HIV sebagai penyakit tak terjangkit atau hanya terbatas pada kelompok tertentu saja. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk fokus pada pendidikan yang memadai dan bertujuan untuk meluruskan miskonsepsi yang umum tentang HIV.

Kurangnya Sumber Daya dan Fasilitas. Dalam banyak kasus, remaja tidak memiliki akses yang memadai ke sumber daya dan fasilitas yang diperlukan untuk mendapatkan informasi, pemeriksaan, dan dukungan terkait HIV. Kurangnya pusat kesehatan yang ramah remaja, ketersediaan literatur yang relevan, dan bimbingan yang memadai dapat menghambat remaja untuk mencari bantuan dan layanan yang diperlukan.

Media Sosial dan Informasi yang tidak Akurat. Media sosial dan internet dapat berdampak besar pada kesadaran dan penyebaran informasi HIV di kalangan remaja. Sering kali, informasi yang tidak akurat, tidak diverifikasi, atau bahkan berbahaya tentang pencegahan HIV dapat dengan mudah diakses oleh remaja. Kurangnya literasi digital dan kritis membuat mereka lebih rentan terhadap penyebaran informasi yang salah.

Melindungi remaja dari HIV

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved