Mihrab
Inilah Nasihat Imam al-Ghazali Untuk Pemimpin
Ketika Allah telah menganugrahi kenikmatan iman tersebut, maka harus di rawat dan di pupuk dengan ketaqwaan agar selalu berkembang.
Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Mursal Ismail
“Menurut Imam al-Ghazali, setiap keputusan yang dikeluarkan pemimpin harus berlandaksan pada keimanan dan ketaqwaan.
Setiap kebijakan yang tidak berlandaskan pada akar tadi, maka dikhawatirkan akan luntur dan tidak bertahan lama,” papar Dr Tgk Safriadi.
Imam Ghazali mengibaratkan bahwa pohon keimanan ini mempunyai sepuluh akar dan sepuluh cabang, Akarnya adalah i’tikad dengan hati. Cabangnya ialah beramal dengan anggota badan.
Seorang pemimpin akan berhasil menumbuhkan pohon ini hanya dengan mengosongkan satu hari dalam seminggu untuk beribadah kepada Tuhannya dan fokus melakukan amalan-amalan akhirat di hari itu yakni di hari Jumat.
“Karena hari Jumat adalah hari rayanya mukminin. Hari Jumat memiliki waktu kemuliaan yang siapa saja meminta hajat kepada Allah dengan niat dan perasaan yang suci niscaya Allah akan mengabulkan hajat orang tersebut,” sebutnya.
Dr Tgk Safriadi menyebutkan, Imam Ghazali menganjurkan beberapa langkah dalam menjalankan ibadah tersebut bagi seorang pemimpin, yaitu dengan meniatkan puasa di waktu malam, apabila sanggup untuk menyandingkannya dengan puasa hari kamis maka itu lebih baik.
Kemudian bangunlah di waktu shubuh, mandi dan pakailah pakaian yang memiliki tiga sifat yakni halal, bukan sutra, dan pakaian yang layak untuk shalat.
Pakailah pakaian yang sederhana, sebab selain dari pakaian yang memiliki sifat-sifat ini Allah tidak meridhainya.
“Kemudian lakukanlah shalat shubuh berjamaah, jangan berbicara sampai terbitnya matahari, jangan palingkan mukamu dari kiblat, ambillah tasbihmu dan ucapkanlah “Laa ilaaha illallahu Muhammadur rasulullah” seribu (1000) kali,” sebutnya.
Lalu apabila telah terbit matahari, perintahkanlah seorang pembaca untuk membacakan kitab tibrul masbuq supaya terekam dalam ingatan pemimpin.
Ketika pembaca telah selesai membacakan kitab tersebut, shalatlah empat rakaat dan ucapkan tasbih hingga sampai tiba waktu dhuha, karena ini shalat pahalanya melimpah khususnya di hari Jumat.
“Setelah itu, pemimpin ucapkanlah “Allahumma shalli ‘ala Muhammad” berulang-ulang. Jika dia mampu bersedekah, sedekahkanlah hartanya.
Jadikanlah satu hari jumat ini untuk Allah supaya Allah mengkafarahkan (dosamu) di hari-hari yang tersisa,” pungkasnya. (ar)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/dosen-IAIN-Lhokseumawe-Dr-Tgk-Safriadi.jpg)