Mihrab
Inilah Nasihat Imam al-Ghazali Untuk Pemimpin
Ketika Allah telah menganugrahi kenikmatan iman tersebut, maka harus di rawat dan di pupuk dengan ketaqwaan agar selalu berkembang.
Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Mursal Ismail
Oleh sang sultan meminta kepada Imam al-Ghazali untuk menuliskan dalil-dalil yang dikemukakan dalam perdebatannya tersebut, dan memberikan catatan tersebut dalam bentuk sebuah kitab kepada sang Raja.
SERAMBINEWS.COM - Asal muasal penulisan kitab Tibrul Masbuq Fi Nashihatil Muluk terjadi ketika Imam al-Ghazali ditantang berdebat dengan sejumlah orang di hadapan sultan Bani Saljuk, Muhammad bin Malik Shah.
Pedebatan itu tentang beberapa hal keagamaan, di antaranya persoalan teologi dan proses penciptaan alam semesta.
Oleh sang sultan meminta kepada Imam al-Ghazali untuk menuliskan dalil-dalil yang dikemukakan dalam perdebatannya tersebut, dan memberikan catatan tersebut dalam bentuk sebuah kitab kepada sang Raja.
“Sebagai gantinya, Imam al-Ghazali mendapatkan hadiah berupa seekor rusa hasil buruan tangan sultan sendiri,"
"Kemudian, ia membalas pemberian itu dengan sebuah buku, At-Tibrul Masbuk fi Nashihatil Muluk,” ujar Pengurus Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD) Aceh, Dr Tgk Safriadi SHI MA pada Kamis (19/10/2023).
Baca juga: Hari Jumat Jangan Lupa Kerjakan 7 Amalan Ini, Dianjurkan Rasulullah Bisa Raih Berkah dan Pahala
Mudir Makhad Aly Raudhatul Maarif itu mengatakan, Imam al-Ghazali memberikan nasihat kepada para pemimpin agar bermoral tinggi, berakhlak mulia, dan tidak berbuat zalim kepada rakyatnya serta merumuskan konsep kenegaraan yang ideal.
“Imam Ghazali mengibaratkan perolehan kedudukan dan jabatan pemimpin sebagai nikmat yang sepatutnya harus disyukuri, maka jika tidak bisa mensyukurinya, nikmat tersebut akan hilang dan menyebabkan penyesalan di hari kiamat kelak,” sebutnya.
Dikatakannya, kenikmatan yang akan kekal selamanya di dunia dan di akhirat adalah nikmat keimanan.
Ketika Allah telah menganugrahi kenikmatan iman tersebut, maka harus di rawat dan di pupuk dengan ketaqwaan agar selalu berkembang.
Imam Ghazali mengibaratkan keimanan itu dengan benih pohon sehingga ketaatan itu di umpakan dengan air yang dapat menyirami benih tersebut.
Apabila ketaatannya bertambah tentulah benih itu semakin kuat menancapkan akarnya ke bumi serta batang dan rantingnya semakin besar, tinggi dan kuat menjulang ke langit.
“Namun sebaliknya menurut Ghazali, apabila akar pohon tidak kokoh dengan keimanan dan cabangnya tidak sempurna, maka dikhawatirkan diterpa angin kematian dan sifat-sifat kebinasaan, pada akhirnya pohon itu akan tercabut dan yang tersisa hanyalah sifat kehambaan. Na’uzubillah wal ‘iyadhu billah,” imbuhnya.
Baca juga: Hari Jumat, Jangan Lupa Lakukan 7 Amalan Ini, Tambah Pahala dan Raih Keberkahan Dunia Akhirat
Imam Ghazali juga mengibaratkan kepemimpinan dengan iman sebagai akar dari pohon yang kokoh (asl al-iman) dan membentang dedaunnya (sajarat al-iman).
Tanduk kepemimpinan yang dilandasi dengan rasa keimanan yang tinggi akan menghasilkan pemerintahan yang rapi dan kokoh.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/dosen-IAIN-Lhokseumawe-Dr-Tgk-Safriadi.jpg)