Opini

Tanda Kehancuran Israel

Pengakuan serdadu Israel itu tentu suatu hal yang bertolak belakang dengan keganasan mereka selama ini terhadap rakyat Palestina. Mereka adalah geromb

|
Editor: mufti
IST
Arif Ramdan, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry 

Arif Ramdan, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry

"MOHON jangan bunuh Saya, Kami yang kriminal karena kami tidak paham, dan jika kalian membebaskan Saya. Saya berjanji Saya akan pergi ke negeri Anda atau ke negeri lainnya. Anda tidak akan pernah melihatku lagi melakukan hal ini lagi. Saya dan keluarga saya semuanya tidak menginginkan kejahatan ini…"

Penggalan kalimat di atas merupakan bagian dari rekaman video serdadu Israel menangis memohon agar tidak dibunuh oleh Pasukan Hamas yang menawannya di Gaza. Video itu viral di jejaring media sosial. Ia berjanji jika dilepas akan pergi dari Tanah Palestina yang diduduki dan tidak akan ikut campur urusan penjajahan Israel. Ia akan pergi jauh dan tidak ingin melihat lagi tanah yang didudukinya.

Pengakuan serdadu Israel itu tentu suatu hal yang bertolak belakang dengan keganasan mereka selama ini terhadap rakyat Palestina. Mereka adalah gerombolan bersenjata yang takut akan kematian, berbeda jauh dengan para pejuang Hamas yang cinta mati, pantang menyerah, serta teguh dalam berjuang membela negaranya.

Tangisan kedua orang tua dari tahanan wanita Israel, Shani Louk juga trending di media Israel. Sambil menangis Ricarda Louk, ibunda dari Shani Louk mengatakan kepada stasiun televisi ARD bahwa putrinya masih hidup namun mengalami cedera kepala parah dan berada dalam kondisi kritis.

Ricarda Louk dan suaminya terlihat begitu terpukul saat anaknya ditawan Hamas, berbeda jauh dengan seorang perawat di Gaza yang anaknya meninggal akibat bom Israel. Ia menangis tetapi gembira karena diyakini anaknya sebagai syuhada.

Shani Louk (22), seorang wanita muda yang ditangkap oleh para pejuang Hamas dalam penyerbuan di acara festival musik gurun di Israel, diyakini masih hidup. Shani Louk sedang menghadiri festival musik gurun di dekat Kibbutz Re'im ketika militan Hamas tiba di lokasi.

Sejak perang meletus, Israel terus membombardir Gaza tanpa jeda dengan menyasar rumah-rumah warga bahkan rumah sakit. Sementara situasi di Israel justru diliputi kecemasan yang luar biasa. Pemerintah Netanyahu mendapat protes keras dari warganya. Ia dianggap tidak becus memberikan rasa aman.

Kunjungan salah satu menteri ke rumah warga di Israel di Tepi Barat justru mendapat kecaman dan amarah warga. Sang Menteri wanita bernama Idit Silman itu diusir tidak hormat oleh warga Israel sendiri saat dirinya tengah melakukan kunjungan ke rumah sakit, tempat para korban perang dirawat.

Gelombang demonstrasi menolak Pemerintahan Benyamin Netanyahu terus terjadi di Israel. Sejak Juli lalu demonstrasi antipemerintah mengguncang Kota Tel Aviv, pusat bisnis Israel. Warga Israel menentang dan menolak Pemerintahan Netanyahu. Kemarahan semakin memuncak tatkala Hamas sukses membobol pertahanan Israel, suatu pemandangan memalukan dari narasi hebat tentang kecanggihan Iron Dome, suatu sistem pertahanan udara canggih yang mampu menghalau serangan roket Hamas ke wilayah Israel.

Dunia menyaksikan begitu rapuhnya tentara Israel saat operasi Taupan Al Aqsha yang dilancarkan Hamas di perbatasan di mana Hamas telah menujukkan kesiapan operasi tersebut dengan rapi dan terdokumentasi dengan baik.

Para pemeluk Yahudi Ortodoks bersuara menentang kebrutalan Zionis Israel dan meminta perang dihentikan. Gelombang kemarahan universal lintas agama, ras, dan suku kepada Israel terus digaungkan di seluruh bagian dunia. Meski Amerika Serikat menjadi penyokong utama bagi Israel, tetapi rakyat Amerika di beberapa negara bagian turun ke jalan menentang kebrutalan Israel ke Gaza. Kemarahan dunia memuncak saat Rumah Sakit Ahli Baptis di Gaza juga diserang roket Israel dan menewaskan 500 orang termasuk anak-anak.

Data-data dari reaksi atas kelakuan Israel hari ini menunjukkan pendudukannya di Palestina telah menemui jalan buntu dan akan segera berakhir. Kebohongan Pemerintah Zionis Israel semakin terungkap ke publik dan menjadi kesadaran kolektif bagi penduduk dunia bahwa penjajahan telah mencederai hidup warga bumi.

Israel seharusnya belajar dari setiap penolakan eksistensi mereka di dunia, mulai dari tim maupun atlet olahraga mereka kerap mendapat pil pahit penolakan bertanding di berbagi event olahraga.

Tanda ilahiah

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved