Berita Kutaraja

Wamenkominfo Ulas Soal Hoax Jelang Pemilu 2024, Nezar Patria: Trennya tidak Sama Seperti Pemilu Lalu

“Saya kira masyarakat Indonesia sudah belajar dari dua kali pemilu yang sudah, kita juga sudah paham apa yang namanya hoaks," kata Wamenkominfo.

Penulis: Subur Dani | Editor: Saifullah
Serambi Indonesia
Wamenkominfo, Nezar Patria (tengah) didampingi Sekda Aceh, Bustami Hamzah (kiri), dan Pemimpin Redaksi Harian Serambi Indonesia, Zainal Arifin M Nur (kanan), saat bersilaturahmi dengan jajaran redaksi di ruang rapat Harian Serambi Indonesia, Rabu (25/10/2023) siang. 

Laporan Subur Dani | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Kontestasi Pemilu 2024 mulai terasa dengan mengerucutnya tiga pasangan bakal calon presiden dan wakil presiden yang telah mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI di Jakarta.

Kini, media sosial dan media massa, telah dipenuhi narasi-narasi politik terkait informasi dari masing-masing calon pasangan.

Bercermin dari Pemilu 2019 lalu, konten-konten hoaks biasanya berseliweran di media sosial (medsos).

Kadang, informasi-informasi hoaks sengaja diciptakan untuk menjatuhkan lawan politik, bahkan tak jarang untuk mendulang suara pasangan calon tertentu.

Lantas bagaimana tren penyebaran informasi hoaks jelang Pemilu 2024?

Wakil Menteri Komunikasi dan Informatikan (Wamenkominfo) RI, Nezar Patria menjawab hal itu saat berkunjung ke Kantor Serambi Indonesia, Rabu (25/10/2023) siang.

Menurutnya, tidak terjadi peningkatan hoaks jelang Pemilu atau Pilpres 2024. “Kominfo dalam soal ini mendeteksi soal itu, tapi kita belum melihat tren seperti dua pemilu sebelumnya,” kata Nezar.

“Kalau dua pemilu sebelumnya, masa-masa seperti sekarang ini sudah dipenuhi oleh hoaks yang sangat massif, sistematis, dan terstruktur,” ujarnya.

Nezar mengatakan, mungkin hal itu dipengaruhi oleh pengalaman dua pemilu sebelumnya, di mana hoaks yang beredar kala itu nyaris membuat terbelah para loyalis masing-masing calon.

“Pengalaman dua kali pemilu, hoaks memang sangat luar biasa dan sangat berpengaruh terhadap partispiasi pemilihan dan ketenangan masyarakat. Nyaris terbelah dan itu terjadi  karena hoaks,” katanya.

Nezar mengatakan, saat ini, masyarakat sudah lebih cerdas dalam memfilter setiap informasi yang diterima.

“Saya kira masyarakat Indonesia sudah belajar dari dua kali pemilu yang sudah, kita juga sudah paham apa yang namanya hoaks, ada informasi yang sengaja disebar untuk kekecauan informasi,” ujarnya.

Putra Aceh kelahiran Pidie itu berharap, masyarakat bisa menangkal informasi-informasi yang tidak benar.

Menurutnya, jika kondisi kontestasi politik kondusif, penyebaran hoaks juga tidak akan massif.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved