Berita Aceh Tamiang
PKA 8 Hidupkan Kembali Tradisi Seni dan Budaya Melayu Tamiang dari Gerusan Modernisasi Zaman
Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) Ke-8 dinilai efektif menghidupkan kembali tradisi kesenian dan kebudayaan Aceh dari ancaman modernisasi zaman.
Penulis: Rahmad Wiguna | Editor: Saifullah
Laporan Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang
SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG – Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) Ke-8 dinilai efektif menghidupkan kembali tradisi kesenian dan kebudayaan Aceh dari ancaman modernisasi zaman.
Dengan sedikit polesan kreativitas, kekayaan seni dan budaya yang dimiliki Aceh sangat berpotensi menjadi destinasi wisata unggulan.
Apresiasi ini disampaikan Anggota DPRA, Asrizal H Asnawi setelah merasakan dampak positif dari pagelaran even empat tahunan yang dipusatkan di Taman Sulthanah Safiatuddin, Banda Aceh.
Tema yang dipilih pun dinilainya sangat mewakili semangat para pelaku seni dan budaya untuk lebih dikenal ke seluruh dunia, “Rempahkan Bumi, Pulihkan Dunia”.
“Aceh sangat kaya akan kesenian dan budaya, dunia harus tahu tentang ini,” kata Asrizal, Kamis (9/11/2023).
Asrizal pun mengapresiasi Pemerintah Aceh, khususnya Dinas Pariwisata yang telah mendesain PKA dengan baik dan meriah.
Melalui pagelaran ini, masyarakat bisa lebih mengenal seni dan budaya dari seluruh kabupaten/kota di Aceh.
PKA telah menjadi momentum untuk mempromosikan kembali dan menunjukkan kepada dunia bahwa kesenian dan kebudayaan Aceh masih eksis, tidak punah di tengah gempuran produk modern.
“Khususnya generasi milenial, melalui PKA mereka bisa melihat dan merasakan langsung tentang adat, budaya, dan sosial dari daerah lain,” ungkapnya.
Berbicara soal Aceh Tamiang, Anggota DPRA dari daerah pemilihan VII (Langsa–Aceh Tamiang) ini pun memastikan daerah asalnya memiliki kultur yang sangat menarik.
Dalam beberapa tahun terakhir, Asrizal mencoba aktif menggabungkan seni dan kebudayaan ini dengan entertainmen.
“Saya berpikiran bila kekayaan seni dan budaya Aceh Tamiang bisa dikemas dengan baik, maka akan menjadi sebuah destinasi wisata yang menarik,” kata Asrizal.
Eksistensi seni dan budaya melayu di Aceh Tamiang ini dibuktikan dengan penghargaan yang diberikan kepada tokoh adat dan budaya Aceh Tamiang, Muntasir Wan Diman dalam rangkaian Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) Ke-8.
Penghargaan ini diberikan atas sumbangsih dan konsistensinya dalam pelestarian adat dan budaya, terutama sejarah dan Peradaban Melayu di Bumi Muda Sedia.
Selain itu, Kontingen Aceh Tamiang juga diganjar sebagai yang terbaik setelah cabang seumapa/berbalas pantun berhasil memukau pengunjung.
Ketua DPD PAN Aceh Tamiang ini meyakini, kalau Aceh Tamiang diuntungkan dengan letak geografisnya yang berbatasan langsung dengan Sumatera Utara.
Jarak tempuhnya dengan Kota Medan, Sumatera Utara yang hanya kurang lebih 3 jam bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan lokal.
“Sebelum menuju ke Medan, orang-orang harus singgah dulu di Aceh Tamiang. Kami pastikan Aceh Tamiang sangat nyaman dan aman bagi wisatawan,” tegasnya.(*)
PKA Ke-8
Pekan Kebudayaan Aceh (PKA)
budaya melayu
Anggota DPRA Asrizal H Asnawi
Aceh Tamiang
Serambi Indonesia
Serambinews.com
Tunjangan Rumah Rp 3 Juta per Hari, Anggota DPR RI Disarankan Tinggal di Hotel |
![]() |
---|
Penuhi Cadangan Beras, Aceh Tamiang Perluas Gerakan Tanam Padi |
![]() |
---|
Kaki Palsu Tiba dari Jakarta, Siswi di Aceh Tamiang Doakan Para Donatur |
![]() |
---|
Butuh Kaki Palsu, Siswi SMP di Aceh Tamiang Temui Babinsa |
![]() |
---|
Sering Cekcok, Leman Ditebas Parang Wak Yes Cs di Tambak di Aceh Tamiang |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.