Senin, 25 Mei 2026

Opini

Penderita Kanker, Bolehkah Berobat Kampung?

Kemajuan dibidang kesehatan suatu negeri akan meningkatkan harapan hidup penduduknya, sayangnya bertambahnya usia menyebabkan insiden kanker ikut meni

Tayang:
Editor: mufti
IST
dr Munizar SpOG-KOnk, Konsultan Onkologi Ginekologi RSUDZA 

dr Munizar SpOG-KOnk, Konsultan Onkologi Ginekologi RSUDZA

SEMOGA cepat sembuh atau sehat selalu, adalah doa atau harapan yang kerap disematkan pada ucapan saat mengunjungi orang sakit atau memberi ucapan selamat ulang tahun. Hal tersebut menandakan betapa nikmat sehat tidak ternilai harganya. Sehat senantiasa bukan sehat saat memperingati “Hari Kesehatan Nasional” saja. Berbagai usaha ditempuh untuk mencapai kondisi sehat tersebut, mulai diet, berolahraga hingga meminum suplemen tertentu.

Kemajuan dibidang kesehatan suatu negeri akan meningkatkan harapan hidup penduduknya, sayangnya bertambahnya usia menyebabkan insiden kanker ikut meningkat, suatu penyakit mematikan yang terus meningkat di Indonesia.

Berdasarkan Riskesdas tahun 2018, prevalensi kanker adalah 1,79/1.000 penduduk, meningkat dari tahun 2013 yakni 1,4/1.000 penduduk. Kanker merupakan pertumbuhan sel atau jaringan yang tidak terkendali, terus bertumbuh dan bertambah serta dapat menyusup ke jaringan sekitar membentuk anak sebar yang berakibat fatal. Oleh karena itu dibutuhkan perawatan dan pengobatan jangka panjang.

Pengobatan dasar untuk kanker adalah pembedahan, kemoterapi dan radioterapi. Pengobatan lebih canggih antara lain targeted terapi, immunoterapi, dan terapi hormonal serta ikut uji klinis. Ketersediaan modalitas pengobatan tersebut sangat berhubungan dengan kemajuan suatu negara dan pasti membutuhkan dukungan keuangan yang cukup.

Berbicara pengobatan kanker, banyak informasi beredar di masyarakat mengenai obat herbal yang menjanjikan kesembuhan. Ironisnya tidak sedikit yang percaya dan justru menghentikan pengobatan medis untuk beralih ke pengobatan herbal (baca: berobat kampung).

Kanker memang bukanlah penyakit yang mudah disembuhkan, apalagi sudah stadium lanjut. Memilih pengobatan alternatif dilakukan karena berharap bisa mempercepat penyembuhan. Namun, amankah atau bolehkah penderita kanker meminum obat herbal atau berobat kampung?

Pengobatan alternatif

Banyak masyarakat percaya bahwa pengobatan alternatif seperti herbal aman untuk penderita kanker, dan mengonsumsi sendiri tanpa berkonsultasi dengan dokter sebelumnya. Hal ini memprihatinkan karena terapi berbasis biologis seperti ramuan herbal dapat berinteraksi dengan obat-obatan kanker.

Pengobatan alternatif dan komplementer dalam istilah medis dikenal dengan Complementery and Alternative Medicine. Bahkan di beberapa negara, pengobatan medis konvensional dan alternatif telah disatukan untuk penanganan kanker, dikenal dengan “Integrative Medicine”. Termasuk kedalamnya yaitu terapi berbasis biologis seperti herbal, suplemen dan diet tertentu, terapi jiwa-raga (meditasi-yoga), dan pengobatan tradisional china-india, massase, dan chiropractic.

Praktik tersebut diatas bukanlah bagian perawatan medis standar. Sebaliknya pengobatan konvesional adalah praktik dokter pada umumnya, pengobatan penyakit berbasis bukti lewat uji klinis secara ketat untuk memastikan kemanjuran dan keamanan suatu obat.

Diperkirakan 38-60 persen pasien kanker menggunakan pengobatan komplementer dan alternatif tanpa diketahui oleh petugas medis. Mereka meyakini bahwa sesuatu yang bersifat alami lebih baik. Hal ini  perlu disikapi dengan edukasi karena beberapa ramuan herbal seperti jamu dan suplemen justru dapat berinteraksi dengan obat kanker serta menjadi racun bagi tubuh.

Banyak jenis herbal dan suplemen berpotensi merugikan. Herbal dan suplemen ini harus dianggap seperti obat yang diresepkan dokter karena berpotensi mengganggu proses biologis tubuh, meracuni organ, meningkatkan risiko kanker sekunder serta berinteraksi dengan obat-obat kanker.

Bukti riset

Memang benar, obat alamiah untuk sebagian besar penyakit termasuk kanker, ada di sekitar kita, contohnya sirsak (Annona Muricata). Hasil riset membuktikan bahwa ekstrak tumbuhan memiliki sejumlah efek terapeutik sebagai antioksidan, antimikroba, antiradang, antimalaria, antidepresi, insektisida, larvasida, obat hati dan lambung, menurunkan kadar gula, penyembuhan luka, dan meningkatkan daya tahan tubuh serta sebagai anti tumor dan kanker.

Khusus untuk sirsak lebih dari 150 jurnal telah membahas khasiat pohon tersebut, diketahui mengandung lebih dari 200 senyawa kimia, antara lain alkaloid, phenol dan acetogenin dengan khasiat teurapeutik di atas. Namun efek merusak terhadap saraf juga ditemukan, oleh karena itu tentu dibutuhkan penelitian lanjutan untuk mengetahui dosis optimal, efek samping dan keamanannya. Obat-obatan herbal tetap disebut obat herbal dan bukan obat anti kanker.

Beberapa waktu lalu jagat maya juga dihebohkan dengan khasiat anti kanker pohon bajakah dari Kalimantan, dan sekarang sudah diperjual belikan meskipun belum melewati uji klinis yang disyaratkan. Obat anti kanker bersumber tumbuh-tumbuhan yang sudah dipakai lama adalah etoposide (tumbuhan podophyllum) dan vincristin (tumbuhan vinca rossea) membuktikan bahwa anti kanker bisa saja berasal dari tumbuhan bahkan ada yang berasal dari jamur.

Perbedaan obat

Meskipun mirip, keduanya memiliki perbedaan. Obat herbal mengandung sejumlah kandungan berbeda yang belum dimurnikan. Kandungan kombinasi ini dianggap meningkatkan daya kerja dan mengurangi efek samping. Hal ini bertolak belakang dengan obat konvensional yang menghindari pemberian kandungan obat dalam jumlah banyak (polifarmasi). Hal yang sangat penting terkait obat adalah uji toksisitas. Obat-obatan herbal semestinya juga melewati uji toksisitas sehingga pengaruh buruknya dapat dihindari.

Pembuatan jamu dan suplemen dapat bervariasi dari satu pabrik dengan pabrik yang lain bahkan dalam satu pabrik yang sama. Karena komponen aktif suatu produk sering kali tidak jelas, standardisasi tidak mungkin dilakukan, dan efek klinis dari merek berbeda tidak dapat dibandingkan. Pernah ada formula herbal untuk kanker prostat (PC-SPES) ditarik dari peredaran karena mengandung kontaminan berbahaya.

Mengonsumsi herbal

Sel tubuh dapat mengalami kerusakan bila timbul Ketidakseimbangan antara radikal bebas dan antioksidan. Kerusakan ini meningkatkan risiko kanker. Makanan berlemak, berkurangnya aktivitas fisik dan paparan matahari meningkatkan radikal bebas, sehingga ada saran untuk mengonsumsi antioksidan, vitamin dan herbal.
Efek obat kemoterapi dan radiasi pada kanker sangat tergantung pada kerusakan oksidatif yang ada pada sel kanker itu sendiri, sehingga makin tinggi stres oksidatif pada sel kanker makin mudah kemoterapi/radiasi mematikan sel kanker. Mengonsumsi antioksidan/herbal pada saat sedang menerima pengobatan kemoterapi dan radiasi justru menurunkan keampuhan kemoterapi dan radiasi. Di sini muncul kekhawatiran bahwa antioksidan/herbal dapat mengganggu hasil terapi radiasi dan beberapa obat kemoterapi.

Efek produk

Produk herbal sebaiknya digunakan secara hati-hati. Beberapa penelitian melaporkan kandungan herbal dapat meningkatkan risiko perdarahan seperti gingko biloba, sejenis jahe, alpukat, asam jawa, sejumlah vitamin, minyak ikan, bawang putih dan lain-lain. Kandungan herbal yang dapat meningkatkan risiko pembekuan darah antara lain ganggang hijau chlorella, ginseng dan lain-lain.

Kandungan herbal yang dapat meracuni hati, antara lain echinacea, lidah buaya, rumput laut, jahe, sejenis teh, bawang putih, ginseng dan lain-lain. Bahkan ada produk herbal dengan kandungan hormon alih-alih menyembuhkan justru memperberat kanker . Konsumsi suplemen asam folat oleh penderita kanker trofoblas akan mendorong perkembangan penyakit. Dengan demikian, kehati-hatian akan selalu dianggap sebagai pendekatan yang bijaksana.

Penelitian tentang efek herbal/antioksidan pada terapi kanker memberikan hasil beragam, beberapa melaporkan efek merugikan, yang lain mencatat ada manfaat, dan sebagian besar menunjukkan tidak ada hubungan yang berarti. Apakah antioksidan bermanfaat atau berbahaya merupakan pertanyaan kritis yang belum memiliki jawaban ilmiah yang jelas saat ini; sebaliknya, hal ini tetap menjadi ranah penelitian dan kontroversi yang terus berlanjut.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved