Opini

Biang Bias P5 Kurikulum Merdeka

Lebih tepatnya P5 dihadirkan secara khusus di dalam Kurikulum Merdeka sebagai penguatan pendidikan karakter. Jika dulunya pendidikan karakter dimasukk

Editor: mufti
IST
Khairuddin SPd MPd, Kepala Sekolah Penggerak, SMA Negeri 1 Matangkuli, Aceh Utara dan Microsoft Innovative Education Expert 

Khairuddin SPd MPd, Kepala Sekolah Penggerak, SMA Negeri 1 Matangkuli, Aceh Utara dan Microsoft Innovative Education Expert

PROJEK penguatan profil pelajar Pancasila (P5) merupakan kegiatan yang boleh saja disebut baru dalam Kurikulum Merdeka, atau dimodifikasi sehingga memperoleh penekanan khusus pada pelaksanaannya. Meski sebenarnya jika dipahami dengan seksama, hanya terjadi pembaharuan pada pola pelaksanaan. Namun spirit dan tujuan tetaplah bermuara pada pembiasaan karakter yang luhur sesuai dengan profil Pancasila bagi murid yang didoktrin di sekolah.

Lebih tepatnya P5 dihadirkan secara khusus di dalam Kurikulum Merdeka sebagai penguatan pendidikan karakter. Jika dulunya pendidikan karakter dimasukkan dalam kegiatan pembelajaran tatap muka atau intrakurikuler. Namun dalam Kurikulum Merdeka, pendidikan karakter diberikan porsi jam tersendiri melalui kegiatan yang tanpa mengatasnamakan bidang studi tertentu, tanpa harus mengaitkan dengan materi pelajaran.

Bahkan, Kemendikbuddistek tidak menyediakan capaian pembelajaran untuk kegiatan P5. Oleh sebab itu, meski keberadaan kegiatan P5 berasal dari jam tatap muka yang dipotong satu jam (kecuali mata pelajaran Pancasila, Bahasa Inggris dan Seni Budaya), namun tidak dapat disatukan menjadi rangkaian pelajaran tertentu.

Misalnya, jam Matematika selama kurikulum K13 berlangsung 4 jam per minggu. Dalam Kurikulum Merdeka, jam Matematika tetap 4 jam, disusun 3 jam untuk mengajar dan 1 jam terpisah untuk kegiatan P5. Jam intrakurikuler tidak dapat digabung dengan jam P5 atau kokurikuler. Sehingga kumpulan “potongan” jam dari setiap mata pelajaran digabung, lalu ditempatkan sebagai blok.

Penempatannya dapat pada blok setiap minggu, misalnya 2 jam per hari atau hari tertentu di setiap minggu sejumlah sekian jam, atau minggu khusus untuk P5 setelah pelaksanaan intrakurikuler dalam periode tertentu. Sementara pada fase F Kurikulum Merdeka, P5 hanya diampu oleh guru yang mengajar mata pelajaran wajib saja.

Projek bukan proyek

Tidak sedikit guru mengeluh harus melakukan aktivitas apa ketika P5 berlangsung. Produk apa yang harus didorong ke siswa agar terjadi suatu kegiatan. Tidak kurang banyak juga guru mengajukan proposal rancangan biaya kepada kepala sekolah agar membiayai setiap kegiatan siswa sehingga menghasilkan produk.

Belum lagi pada akhirnya siswa dan wali murid mengeluh jika hari tertentu harus mengeluarkan biaya untuk melakukan kegiatan P5. Tentu saja hal ini menjadi konsep yang bias dari P5. Harus dipahami bahwa P5 berlandaskan projek, bukan proyek.

Mengacu pada definisi di KBBI, projek merupakan tugas-tugas belajar yang meliputi kegiatan perancangan, pelaksanaan, dan pelaporan, baik secara tertulis maupun lisan, dalam waktu tertentu. Maka P5 dirancang sedemikian bagus untuk menguatkan karakter siswa meliputi orientasi, kontekstualisasi, aksi dan refleksi.

Sementara proyek tentu saja gambaran pikiran kita sesuatu yang memiliki modal untuk kemudian menghasilkan keuntungan. Sehingga tidaklah heran, masih banyak satuan pendidikan memulai kegiatan P5 dengan mengajukan proposal anggaran atau kegiatan yang mengeluarkan biaya, sehingga ketika pameran hasil karya siswa, pajangan produk siswa seolah harus dibeli. Berubahlah refleksi P5 siswa menjadi market day.

Berbasis proses

Setidaknya ada tiga projek dalam Kurikulum Merdeka. Pertama, projek mata pelajaran, suatu aktivitas dalam materi pelajaran tertentu yang bersifat projek dan tujuan esensialnya harus mengacu pada capaian pembelajaran yang sudah ditentukan Kemendikbud.

Kedua, projek berbasis produk yang dikemas dalam pembelajaran Prakarya dan Kewirausahaan. Lalu ketiga, projek menguatkan karakter siswa yaitu P5 yang menjadi wajib dilaksanakan di satuan pendidikan sebagai kokurikuler.

Hal inilah yang menjadi biang bias P5 paling senjang, masih banyak guru kita menjadikan P5 sebagaimana pembelajaran prakarya, hampir tidak ada bedanya. Bahkan ada guru yang bingung, tiba-tiba menjadi guru lintas pelajaran, guru prakarya. Tentu saja keliru, bukan seperti itu yang diharapkan.
Jelaslah bahwa pada akhirnya P5 selalu melirik pada produk apa yang dihasilkan, bukan proses karakter apa yang diperoleh dalam aktivitas. Padahal Kemendikbudristek memberikan pedoman jelas dalam naskahnya tentang pelaksanaan P5 dan spiritnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved