Mihrab

Penyebaran Dakwah Melalui Tastafi

"Namun pasca kemerdekaan, dakwah Islam tampaknya melemah dari Aceh untuk melebarkan sayap ke penjuru dunia,” ungkapnya.

Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Ansari Hasyim
IST
Ketua Umum DPP Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD) Aceh, Tgk Mustafa Husen Woyla memberi argumen dalam Kajian Aktual Tastafi Banda Aceh, Sabtu (12/8/2023) 

SERAMBINEWS.COM - Ketika menyebut Aceh, pertama tergambar oleh orang-orang adalah daerah Islam dan Tsunami. Selain Sabang dan Teuku Umar, itulah tanda paling mudah dikenal dunia luar.

Islam Masuk ke Aceh bukan melalui jalur ekspansi tapi melalui jalur perdagangan maritim. Sebab itu, Islam di Aceh lebih berwajah damai berbanding di belahan negara lainnya seperti di Mesir, Suriah, Spanyol, Yerusalem dan Armenia.

Hal itu diungkapkan oleh Ketua Umum Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD) Aceh, Tgk Mustafa Husen Woyla pada Kamis (30/11/2023).

Menurutnya, Islam pertama kali masuk ke wilayah Indonesia melalui Aceh pada abad ke-7 lewat para pedagang Arab.

Islam kemudian berkembang melalui berdirinya beberapa kerajaan Islam di Aceh seperti Perlak, Samudera Pasai, dan Aceh Darussalam yang berperan penting dalam penyebaran agama ini ke daerah lain.

“Berangkat dari sejarah dari itu, Islam menapaki Nusantara termasuk Asia Tenggara melalui Aceh,"

"Namun pasca kemerdekaan, dakwah Islam tampaknya melemah dari Aceh untuk melebarkan sayap ke penjuru dunia,” ungkapnya.

Baca juga: ISAD Aceh Gelar Kajian Tastafi Bahas Kemerdekaan Palestina dan Akidah Generasi Muda

Dikatakan Tgk Mustafa, setidaknya hal ini terlihat pergerakan dan dakwah Islam selalu di pimpin oleh orang luar Aceh.

Misalnya ada tiga organisasi besar, Muhammadiyah, NU dan Persatuan Islam (Persis) di Aceh yang berbasis agama Islam dan pesantren/dayah semuanya menginduk ke luar Aceh.

Sementara organisasi masyarakat (ormas) Islam asli Aceh, misal Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) didirikan 1939 di Bireuen, hanyalah organisasi daerah.

Begitu juga ormas Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) yang masih berskala domestik.

“Juga sejumlah nama ormas yang ada unsur nama daerah seperti MUNA, ISAD, RTA, IPSA, IKADAB, IMADA, ISKADA dan HATHAR yang tidak mengepak sayapnya keluar Aceh,” tutur Tgk Mustafa.

Namun saat ini, sebutnya, yang hanya terlihat geliat dakwah di Aceh mungkin Majelis Pengajian Tasawuf, Tauhid dan Fiqh (Tastafi) yang baru dilantik kepengurusan periode 2023-2028.

Baca juga: Kajian Bulanan Tastafi Bahas Fenomena Tingginya Angka Perceraian & Jarimah di Aceh, Ini Pematerinya

Majelis ini diharapkan dapat menyelenggarakan kegiatan pengajian di seluruh Aceh dan bahkan luar Aceh.

“Sebagai upaya membumikan pengajian Tasawuf, Tauhid dan Fikih berdasarkan Aqidah Ahlusunah Wal Jama'ah serta melindungi masyarakat dari ajaran sesat, Liberalisme, Sekulerisme dan Radikalisme,” papar Tgk Mustafa.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved