Jurnalisme Warga
Mahasiswi PMM asal Ternate Kagumi Khanduri Laot di Aceh
Kami juga terjun langsung dan ikut serta menarik pukat darat bersama para nelayan dan masyarakat di titik 0 Km Banda Aceh.
Hal ini manjadikan saya lebih bersyukur atas nikmat hidup yang diberikan kepada saya, memberikan saya pengalaman baru, bahwa hidup butuh perjuangan dan kerja keras agar apa yang kita inginkan bisa tercapai.
Setelah mendapat ikan dari hasil tarik pukat ini, dilanjutkan dengan khanduri laot oleh para nelayan dan masyarakat, yakni makan-makan bersama dari hasil tangkapan. Ikannya dimasak di tempat secara langsung untuk bekal makan bersama. Selain gulai dan goreng ikan, ada juga menu lain yang dihidangkan, yakni kuah beulangong (gulai kari daging).
Khanduri laot ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur dan terima kasih para nelayan atas rezeki berupa aneka ikan yang diberikan Allah, juga atas keselamatan selama melaut.
Khanduri laot ini juga merupakan wahana untuk mempererat tali silaturahmi antara para nelayan dan masyarakat setempat melalui acara makan bersama.
Hal ini menjadikan pembelajaran juga bagi kaum muda, khususnya bagi pemuda Aceh agar tetap menjaga dan melestarikan tradisi khanduri laot ini agar tak punah pada generasi berikutnya.
Dari kegiatan khanduri laot ini saya banyak sekali mendapat pengetahuan baru, wawasan baru, dan pengalaman baru tentunya. Yaitu, dapat mengetahui budaya dari khanduri laot di Titil Nol Kilometer Banda Aceh.
Saya melihat langsung para nelayan bekerja keras dalam menangkap ikan. Saya juga mendapatkan pengetahuan baru dan pengalaman pertama dalam menarik pukat darat. Saya juga mendapatkan pengalaman pertama makan bersama dengan masyarakat di Gampong Jawa, Banda Aceh.
Selain kegiatan khanduri laot, ada juga kegiatan pendukung lain yang ditampilkan, yakni tarian tarik pukat yang ditampilkan oleh pemuda-pemudi Aceh. Tarian ini dipentaskan dengan sangat memikat dan kompak antara anggota tim. Ada juga penampilan pantun-pantun, nasihat, syair-syair, atau gurindam dalam bahasa Aceh. Ini merupakan pengalaman pertama saya mendengarkan nasihat-nasihat dalam bahasa Aceh, yang dilantunkan dengan sangat indah didengar. Saya sampai terkagum-kagum pada beberapa fragmen budaya Aceh yang ditampilkan di pantai Gampong Jawa itu.
Pesan saya kepada seluruh masyarakat Aceh dan juga generasi muda seluruh Indonesia, marilah kita jaga kebudayaan dan tradisi masing-masing daerah, dengan mempertahankan budaya tersebut agar tidak punah. Hal ini menjadikan salah satu identitas dari suatu daerah.
Jaga dan lestarikanlah budaya khanduri laot ini agar anak cucu kita kelak bisa mengetahui, menyaksikan, dan merasakannya, di samping bisa menjadi hal yang pantas kita banggakan kepada masyarakat di daerah lain.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/AINAYA-RAHAYAU.jpg)