Sabtu, 16 Mei 2026

Bireuen

Indahnya Objek Wisata Waduk Paya Nie di Kutablang Bireuen

Kawasan Paya Nie di Desa Blang Mee, kini menjadi destinasi wisata alam yang kelestarian dan manfaat lingkungannya akan dijaga dengan aturan adat.

Tayang:
Penulis: Yusmandin Idris | Editor: Taufik Hidayat
Serambinews.com
Waduk Paya Nie, Kutablang Bireuen masih alami dan memerlukan kerjasama agar waduk terjaga dan terpelihara dengan baik sebagai sumber air dan potensi lainnya 

Laporan Yusmandin Idris | Bireuen

SERAMBINEWS.COM, BIREUEN – Waduk Paya Nie, Kutablang Bireuen salah satu waduk alami  di Bireuen luasnya mencapai 300 hektare lebih dikelilingi tujuh desa, yaitu meliputi Desa Kulu Kuta, Gle Putoh, Buket Dalam, Paloh Dama, Paloh Raya, Paloh Peuradi, Blang Mee.

Kawasan tersebut selain sebagai sumber air juga sejak beberapa waktu lalu dikembangkan menjadi salah satu objek wisata.  Ruas jalan ke lokasi waduk tersebut melalui desa Blang Mee, Kutablang tidak begitu jauh, jalan sudah beraspal, sedikit tanjakan dan turunan, tikungan menjadi daya tarik tersendiri.

Begitu juga ruas jalan dari desa sekeliling waduk sudah mudah dilewati.  Waduk Paya Nie tersebut juga dapat dikembangkan jadi tambak ikan air tawar dan memiliki potensi yang sangat menggiurkan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat.

Di atas waduk tersebut, juga terlihat jembatan jalur rel kereta api yang membentang dekat waduk tersebut. Sehingga menambah indah kawasan waduk potensial. Hamparan luas sejauh mata memandang waduk sangat indah sebagai objek wisata dikelilingi pohon kelapa.

Keuchik Blang Mee, Kutablang Bireuen, Ferizal, Jumat (23/2/2024) mengatakan, sejak beberapa waktu lalu hadir Aceh Wetland Foundation (AWF) yang merupakan salah satu LSM  di awal tahun 2023 berusaha mengubah Kawasan Paya Nie Desa Blang Mee Kutablang Bireuen menjadi ekowisata alam yang bernuansa ramah lingkungan. Apabila dibiarkan begitu saja tanpa dukungan berbagai kalangan dikhawatirkan aduk berubah fungsi misalnya menjadi areal perkebunan kelapa sawit.

“Masyarakat sangat mengharapkan adanya ketentuan agar waduk tidak dirusak atau menjadi lahan perkebunan sawit,” ujarnya.

Menjawab Serambinews.com kemungkinan  secara perlahan-lahan akan menjadi lahan sawah, Ferizal mengatakan, saat kondisi musim kemarau waduk memang terlihat dangkal, ketika musim hujan apabila ada tanaman padi akan terendam lama, masyarakat juga tidak akan memanfaatkan areal tersebut menjadi sawah.

Direktur Eksekutif AWF, H  Yusmadi Yusuf  di sela-sela pameran produk-produk hasil kerajinan tangan di kawasan objek wisata Paya Nie, Desa Blang Mee, Kutablang Bireuen mengatakan, pembentukan Ekowisata di Kawasan Paya Nie atas dasar kesepakatan bersama AWF bersama tokoh masyarakat dimana pada kawasan tersebut dilarang keras untuk melakukan penembakan burung, menangkap ikan yang akan merusak ekosistem Paya Nie.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved