Kamis, 30 April 2026

Lingkungan

Forum Wacana Lestari Malaysia, Akademisi USK Ingatkan Pentingnya Kelestarian Tanah Sawah

Dr Yasar yang juga Ketua Lembaga Kajian Pembangunan Pertanian dan Lingkungan (LKPPL) memaparkan tema tentang Perubahan Guna Tanah dan Keselamatan Maka

Tayang:
Editor: Ansari Hasyim
Thumbnail Serambi On TV
Muhammad Yasar 

SERAMBINEWS.COM - Akademisi Universitas Syiah Kuala Dr Muhammad Yasar STP MSc menjadi pembicara tunggal di forum Wacana Lestari Universiti Kebangsaan Malaysia, Rabu (20/3/2024).

Forum Wacana Lestari UKM tersebut dibuka Direktur/Pengarah Institut Alam Sekitar dan Pembangunan (LESTARI) Prof Madya ChM Goh Choo Ta.

Goh Choo Ta menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan rangkaian acara dalam rangka memperingati hari jadi Institut Alam Sekitar dan Pembangunan UKM ke-30.

Melalui Wacana Lestari pihaknya mengumpulkan para alumni untuk berbagi informasi dan pengalaman di bidang pembangunan pertanian berkelanjutan.

Dr Yasar yang juga Ketua Lembaga Kajian Pembangunan Pertanian dan Lingkungan (LKPPL) memaparkan tema tentang Perubahan Guna Tanah dan Keselamatan Makanan di Indonesia (Landuse Change and Food Security in Indonesia).

Baca juga: Nenek yang Memimpin Gerakan Pemukim Zionis Ini Sangat Berambisi Duduki Tanah Gaza Pasca Perang

Menurut Yasar yang juga Ketua Majelis Pengurus Wilayah Pemuda Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia MPW Pemuda ICMI Aceh, sebagai sumber daya lahan pertanian, sawah memiliki arti penting bagi kehidupan masyarakat di Indonesia.

Yasar mengungkapkan bahwa selain dikenal sebagai sarana untuk memproduksi makanan pokok rakyat, yaitu padi, sawah juga memiliki fungsi sosial, ekonomi dan lingkungan.

Baca juga: Pria di Makassar Aniaya Ibu Kandung dan Ancam Bakar Rumah, Sempat Cekcok dengan Kakak

Sehingga ketika lahan sawah terkonversikan kepada penggunaan lain terutama di luar sektor pertanian, maka dapat memberikan dampak yang negatif di tengah-tengah kehidupan.

Secara produksi jelas akan menurun seiring maraknya aktivitas konversi sementara jumlah penduduk terus meningkat seperti dalam teori Malthus. Konsekuensinya, ketahanan pangan nasional pasti terancam, ujar Yasar.

Dari segi sosial, petani berpeluang kehilangan pekerjaan apabila tidak memiliki skill yang lain. Dan tentu dapat berpengaruh langsung terhadap ekonominya.

Sementara dari segi lingkungan kurang disadari bahwa sawah sebenarnya berfungsi sebagai penampung dan penyerap air hujan. Itulah mengapa di kawasan tanpa sawah sering mengalami banjir atau genangan air.

Yasar juga mengungkapkan kalau sekarang di Indonesia masih berpacu menangani kemungkinan dampak konversi lahan.

Di satu sisi menghentikan laju konversi melalui regulasi, di sisi yang lain terus mensubtitusi lahan yang telah hilang dengan cetak sawah baru.

Yang mengkhawatirkan adalah tidak seimbangnya kemampuan subtitusi dengan laju konversi. Sumber daya lahan tersedia yang memiliki tingkat kesesuaian semakin berkurang, sementara implementasi regulasi lahan abadi belum efektif.

Jika tidak serius ditangani, Indonesia akan mengalami defisit lahan pada 2030, ungkap Yasar.

Oleh sebab itu, Yasar berharap Indonesia serius mengantisipasi konversi lahan ini, sementara Malaysia walaupun tidak semasiv di Indonesia juga mengalami hal yang sama.

"Ini penting dicermati demi ketahanan pangan di kedua negara," ujarnya.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved