Jurnalisme Warga
Berlatih Jadi Santri Jurnalis di Baitul Arqam Sibreh
Kelas Jurnalistik merupakan program unggulan madrasah dan sudah banyak pula santri yang tulisannya berhasil
Oleh: Hukma Shabiyya, siswi kelas VIII Madrasah Tsanawiah Baitul Arqam melaporkan dari Sibreh, Aceh Besar
SAAT pertama sekali mendaftarkan diri di kelas ekstrakurikuler Jurnalistik Dayah Pesantren Baitul Arqam, saya memikirkan bagaimana cara menulis yang lebih baik sehingga tulisan-tulisan saya dapat dibaca oleh banyak orang.
Itulah alasan pertama saya untuk bergabung menjadi Santri Jurnalis Baitul Arqam. Ini program sekolah yang memang sudah ada sejak pertama sekolah ini berdiri.
Kelas Jurnalistik merupakan program unggulan madrasah dan sudah banyak pula santri yang tulisannya berhasil menembus media arus utama (mainstream) setelah mengikuti program ini.
Kelas dimulai pada minggu kedua semester genap dan dibuka bagi santri yang berminat mengikutinya. Pengumuman mengenai perekrutan itu ditempelkan di sebuah majalah dinding (mading) yang dinamakan Acta Diurna. Mading itu berada tepat di sudut utara lapangan Pesantren Baitul Arqam.
Saya dan beberapa teman berminat mengikuti ekstrakurikuler tersebut. Dari pengunguman yang ada di mading, santri yang berminat harus menulis esai motivasi dan datang ke perpustakaan untuk mendaftarkan diri. Rata-rata yang mengikuti Kelas Jurnalistik itu adalah teman sekelas saya dan kakak kelas X Aliah. Mereka adalah Nasywa, Nailah, Kinan, Riva, Syifa, Kak Vina, Kak Haura, Kak Nabila, Kak Irma, dan Kak Sri Malem.
Terus terang, saya tidak menyangka kelas ini akan terus berlanjut di bulan Ramadhan 1445 Hijriah yang lalu, sebab biasanya kami diberikan libur sebulan penuh di bulan puasa.
Awalnya saya dan teman-teman merasa keberatan karena bulan Ramadhan waktunya beristirahat dan berkumpul dengan keluarga.
Selain itu, sebagai anak muda, kami ingin juga bersantai sambil menonton, bermain gim atau media sosial selama berpuasa agar proses menanti sirene berbuka tidak terlalu menjemukan.
Kami juga khawatir merasa kelelahan saat belajar di bulan Ramadhan, merasa tidak bersemangat karena tidak ada camilan dan minuman untuk memberi energi saat sedang lelah-lelahnya belajar. Namun, setelah saya dan teman-teman berdiskusi ulang dan memikirkan kembali, kami setuju dengan kelas pelatihan menulis di bulan Ramadhan, dan kami bisa bersama-sama saling menyemangati hingga datang waktu berbuka.
Sebenarnya, di bulan Ramadhan lalu, bukan hanya anak Kelas Jurnalistik yang diharuskan mengikuti pelatihan, melainkan santriwan juga ada yang mengikuti pelatihan imam dan dai untuk Safari Ramadhan di seputaran Aceh. Mereka dilatih oleh Ustaz Naufal Hidayat Lc, ME dan Ustaz Laksamana Muflih Lc, MA. Sedangkan yang kelas jurnalistik didampingi oleh mentor menulis yang biasa kami panggil dengan Bunda Syarifah Aini.
Baca juga: Muhammad Rafi dari Organisasi Santri Isadasa di Aceh Utara Juarai Lomba Baca Kitab Kuning
Selama satu minggu, kami digembleng di Kelas Jurnalistik. Mulai dari bangun sahur, shalat Subuh, dan tilawah pagi. Guru pendamping sudah berada di kelas sesaat setelah kami selesai tilawah Al-Qur’an. Kami hanya sempat mengganti mukena dan bergegas masuk ke dalam kelas.
Hari pertama kami diberikan materi tentang bagaimana menulis naskah berita. Naskah berita ini yang biasanya akan disampaikan oleh penyiar berita. Sebelumnya kami menonton beberapa berita terlebih dahulu. Contoh-contoh berita tentang liputan sekolah yang mengadakan acara bazar dan berbagai perlombaan,
Ada juga liputan tentang Tarawih pertama yang disiarkan di televisi milik pemerintah. Bunda Aini juga memberi tahu bahwa rata-rata pesantren Muhammadiyah secara terjadwal diminta mengirimkan liputan-liputan ke Televisi Muhammadiyah (TVMu), termasuk Pesantren Baitul Arqam.
Kemudian di hari kedua, kelas mulai serius. Kami diajarkan menulis jernih, sebab berbeda dengan aktivitas menulis lainnya, tulisan-tulisan jurnalistik lebih to the point. Di kelas-kelas dulu kami sudah diajarkan mengenai unsur 5W+1H (What, When, Where, Who, Why, dan How). Ada juga konsep piramida terbalik dan latihan dasar untuk menulis rilis acara.
Dalam pelatihan Ramadhan lalu, kami diajarkan hal-hal yang lebih teknis dan detail. Ada juga materi menulis dengan kalimat efektif, dikenalkan dengan tata bahasa dan tanda baca. Kami juga melakukan latihan yang selalu diberikan setiap materi selesai.
Selain itu, kami diharuskan membaca buku yang bagus-bagus dan mengulasnya. Kami juga latihan cara menulis kalimat inversi yang benar dan yang keliru, juga bagaimana membuat kalimat periodik. Itulah beberapa materi yang sempat saya ingat.
Setelah tugas-tugas selesai kami bisa bersantai sejenak dan beristirahat. Jika masih ada kesulitan dalam memahami tugas, kami masih bisa bertanya dan Bunda Aini akan mengulang penjelasannya. Pelatihan dimulai bakda subuh dan tilawah hingga pukul 09.30 WIB. Santri yang sudah menyelesaikan tugas, bisa pulang ke asrama untuk mandi dan shalat Duha. Laporan aktivitas rutin ini disampaikan lewat grup yang ada di WhatsApp. Laporan selesai, tugas kami selanjutnya membereskan tempat tidur, mandi, dan kegiatan mandiri lainnya.
Saat azan zuhur berkumandang via toa musala, kami sudah harus berada di musala. Setiap menjelang sore, kami juga membantu Ustazah Sinta untuk menyiapkan makanan berbuka puasa dan membereskan rumah kembali.
Selain menulis, kami juga berlatih keterampilan manajemen waktu. Jadi, walau kami diperbolehkan memegang gawai, harus dimanfaatkan untuk belajar.
Di Kelas Jurnalistik kami juga diajari bagaimana cara memakai gawai, ada materi literasi digital. Di dunia digital semua sudah canggih, jadi kami harus mengatur waktu dan manajemen diri yang baik. “Jangan sampai lalai dan dikendalikan oleh gawai,” pesan Bunda Aini.
Memakai gawai tanpa berhenti, bisa merusak otak. Makanya saat malam hari hingga subuh, kami diwajibkan fokus beribadah malam dan istirahat dengan menyimpan ponsel kami kepada pengasuh dan ustaz atau ustazah.
Perjanjian kami dengan ustaz/pengasuh, jika bangun sahur telat atau setelah pukul 05:00 WIB, maka ponselnya akan tetap disimpan sampai besok.
Ironis, tepat setelah kontrak belajar malamnya, paginya para santriwati malah telat bangun sahur. Saat santriwan sudah bersiap-siap pergi ke musala dan menghabiskan satu ceret air teh, para santriwati baru terbangun. Kami memang masih sempat sahur, tetapi celakanya, kami tidak diberikan izin memakai gawai hari itu sebagai konsekuensinya.
Sebelum tidur kami wajib membaca buku minimal satu halaman, sebuah artikel atau esai, cerpen, atau puisi bagus. Materi-materi yang diajarkan juga dibagikan di dalam grup WA, jadi tetap bisa dibaca ulang. Kami memang agak kewalahan dengan materi dan latihan-latihan menulis yang diberikan mentor jurnalistik, tetapi kami bisa merasakan perubahan dalam tulisan-tulisan kami.
Hari terakhir, sebagai penutup, kami berbuka puasa bersama dengan anak yatim di seputaran Gampong Suka Makmur, Sibreh, Aceh Besar, dan juga anak-anak LKSA Muhammadiyah Punge Blang Cut, Banda Aceh.
Hadir pula kakak-kakak mahasiswa Universitas Muhammadiyah Aceh yang sedang kuliah kerja nyata (KKN) di pesantren kami.
Oh ya, ada tamu spesial datang dari Palestina yang bernama Ms Fatma untuk menyampaikan informasi tentang kondisi Palestina saat ini. Beliau hadir ditemani tim Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Aceh, dr Aslinar SpA, MBiomed. Fatma berbahasa Arab dan Ustaz Naufal menjadi penerjemahnya. Alhamdulillah, kami menjalani awal Ramadhan yang sangat seru.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/HUKMA-SHABIYYA-Murid-Kelas-VIB-SDN-1-Pagar-Air-Aceh-Besar-melaporkan-dari-Banda-Aceh.jpg)