Selasa, 14 April 2026

Feature

Kisah Roslaini, Naik Haji dari Hasil Keringat Menjual Keripik di Kota Jantho

Akhirnya nekat masuk dari kantor ke kantor sambil memikul bungkusan keripik ubi dan ketela. Roslaini pun bisa tersenyum, hari pertama berjualan, ia bi

Penulis: Muhammad Nasir | Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS.COM/Muhammad Nasir
Roslaini (66) saat berada di lapak jualannya di depan Masjid Agung Al-Munawwarah Kota Jantho. 

Laporan Muhammad Nasir I Aceh Besar

SERAMBINEWS.COM, JANTHO - Pada suatu hari di tahun 2003, Roslaini baru memulai hari pertama menjual keripik di pusat perkantoran Jantho, Aceh Besar.

Sebagai pedagang pendatang baru, tak mudah baginya untuk mendapatkan pelanggan. Rekan-rekan pedagang lainnya yang mengambil lapak di trotoar jalan, sudah lebih dikenal dan memiliki langganan.

Tak ingin pulang ke rumah tanpa satu sen uang pun, Roslaini memutar kepala, ia mencari cara.

Akhirnya nekat masuk dari kantor ke kantor sambil memikul bungkusan keripik ubi dan ketela. Roslaini pun bisa tersenyum, hari pertama berjualan, ia bisa mengantongi uang Rp 70 ribu.

Baca juga: Kisah Unik Jamaah Calon Haji Sesat di Arab Saudi, Bingung Setelah Keluar Hotel Lupa Arah Pulang

Perempuan yang kerap dipanggil Nek Lemah dan Nek Ndut ini tak menyerah, ia terus berjualan dengan tekun dan konsisten.

Tujuannya utamanya bisa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan sekolah anaknya. Sisanya ia tabung secara tradisional di rumah.

21 tahun berlalu, tak pernah terbayangkan olehnya, jika dari usaha jualan keripik itu, akan mengantarkan dirinya ke Tanah Cuci. Tahun ini Roslaini mendapatkan panggilan untuk berangkat menunaikan ibadah haji.

Tepat Rabu, 29 Mei 2024 sore, Roslaini tergabung dalam kloter 1, menjadi kelompok jamaah haji perdana dari Aceh yang berangkat tahun ini.

“Alhamdulillah tahun ini saya mendapat panggilan bisa berangkat,” ujar Roslaini yang kini berusia 66 tahun.

Saat Serambi menyambangi tempat usahanya di depan Masjid Agung Al-Munawwarah Kota Jantho beberapa hari lalu, iIa menceritakan perjuangannya bisa menyisihkan uang dari jualan keripik sehingga bisa naik haji.

Ia menceritakan, pada awal memulai usaha keripik 2003 lalu, mereka membuka lapak di atas trotoar depan Dinas Kesehatan Aceh Besar.

Saat itu, ia mengerjakan sendiri semuanya, mulai proses mengupas, memasak hingga menjual keripiknya.

Suaminya, Sani Efendi yang awalnya bekerja sebagai buruh bangunan, memilih berhenti bekerja, supaya bisa membantu Roslaini memasak keripik.

Katanya, pada saat itu dalam sehari bisa laku sekitar Rp 200 ribu. Lalu uang itu harus dipotong biaya modal ubi dan ketela. Sehingga sisanya yang pas-pasan digunakan Roslaini untuk kebutuhan sehari-hari.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved