Kisah Inspiratif

Kisah Sukses Azmi, Penjual Mie Sop Legend Takengon, Raup Cuan Jutaan hingga Berdayakan 10 Karyawan

Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Begitu kata Ichwanul Azmi, penjual mie sop daging di Jalan Abdul Wahab, Kota Takengon, Aceh. 

Penulis: Firdha Ustin | Editor: Agus Ramadhan
SERAMBINEWS.COM/FIRDHA USTIN
Seorang karyawan wanita di warung mie sop daging sedang memperlihatkan QR Barcode pembayaran digital QRIS di kedai 'Salmalero Cantino' Takengon, Selasa (21/5/2024). 

Kisah Sukses Azmi, Penjual Mie Sop Legend Takengon, Raup Cuan Jutaan hingga Berdayakan 10 Karyawan

SERAMBINEWS.COM - Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Begitu kata Ichwanul Azmi, penjual mie sop daging di Jalan Abdul Wahab, Kota Takengon, Aceh. 

Berjualan mie sop daging sejak tahun 1983, tak heran membuat rumah makan dengan nama 'Salmalero Cantino' ini dijuluki sebagai kulinier legend di Takengon.

Penjualan mie sopnya yang semakin diminati warga lokal dan wisatawan sehingga mengubah nasib Azmi, sapaan akrabnya hingga mampu memberdayakan orang-orang di sekitar.

Bagi Azmi, berjualan merupakan hal yang menyenangkan, apalagi bisa menghidupi warga sekitar dengan kesempatan bekerja di tempatnya.

Warung Misop milik Azmi telah berdiri sejak 41 tahun yang lalu, ini merupakan warung generasi kedua yang diturunkan dari orang tuanya.

“Warung mie sop ini awal berdirinya di Sumatera Utara terus pindah ke Takengon tahun 1983, usaha ini dimulai dari orang tua, saya kebetulan penerus generasi kedua di Takengon ini,” kata Azmi saat ditemui Serambinews.com, Selasa (21/5/2024).

Baca juga: QRIS 1 Rupiah Jadi Primadona Wisatawan di Sabang Marine Festival 2024

Azmi, pemilik warung mie sop legend 'Salmalero Cantino di Takengon.
Azmi, pemilik warung mie sop legend 'Salmalero Cantino di Takengon. (SERAMBINEWS.COM/FIRDHA USTIN)

Tentu dalam menjalankan bisnisnya, Azmi memberikan cita rasa tersendiri untuk memikat lidah para pecinta kuliner.

Azmi terus konsisten menyajikan menu misop daging, sejinis makanan mie dengan perpaduan kuah sop beserta taburan daging di atasnya.

Rasanya gurih berempah mantap, cocok dinikmati saat udara dingin di Takengon.

Dia menuturkan, dalam sajian mie sop ini, ia menggunakan rempah-rempah pilihan sehingga menghasilkan cita rasa khas, kuah yang segar, gurih dan ringan di mulut. 

Daging yang digunakan merupakan daging kerbau pilihan.

Selain karena sajian ini bisa menghangatkan tubuh di Kota Takengon sehingga banyak wisatawan memburu panganan asal Medan ini. Tak heran, Azmi bisa meraup keuntungan jutaan per harinya.

Baca juga: Mudahkan Wisatawan Berstransaksi, BI Aceh Bangun Ekosistem QRIS Lewat Sabang Marine Festival

Sajian mie sop daging di warung 'Salmalero Cantino' Takengon.
Sajian mie sop daging di warung 'Salmalero Cantino' Takengon. (SERAMBINEWS.COM/FIRDHA USTIN)

 

Dari keuntungan tersebut, Azmi mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga memenuhi kebutuhan rumah tangga. 

Menurutnya, bukan suatu hal yang tidak mungkin saat usaha dibarengi dengan doa hingga menuai keberhasilan. 

Omzet Penjualan Mie Sop Daging

Menurut Azmi, saat ini dia cukup bersyukur dengan penghasilan yang didapatkan dari berjualan mie sop daging.

Per harinya, warung mie sop ini menghasilkan Rp. 7-10 juta.

“Omzet per harinya, kalau kotor per hari Rp.7 juta hari biasa, kalau weekend mau sampai 10 juta dalam sehari,” terang Azmi. Adapun harga per porsinya dibanderol Rp.15-25 ribu. 

Omzet tersebut digunakan untuk perpuataran modal, gaji karyawan, bahan baku dan operasional.

Untuk bahan baku sendiri, Azmi menggunakan daging kerbau. Per harinya Azmi membeli 15 kilogram daging.

Mengingat Takengon adalah penghasil kerbau, sehingga daging kerbau menjadi pilihan Azmi dalam sajian mie sopnya dan menjadi ciri khas tersendiri.

Untuk menambah kenikmatan makan mie sop, Azmi juga menyediakan aneka gorengan, telur hingga perkedel kentang.

Ia mengatakan sejak awal untuk usaha mie sop dari modal sendiri, dari mulai usaha kecil-kecil hingga mempunyai tempat menetap dan membesarkan usaha mie sop daging miliknya.

Dari berjualan mie sop daging kata Azmi, saat ini sudah bisa menyekolahkan anak-anaknya, memenuhi kebutuhan rumah tangga dan yang paling penting menurut Azmi bisa bermanfaat untuk orang lain terutama di lingkungan sosial dengan membuka lapangan kerja.

Termasuk saat ini dia telah mempekerjakan total 10 karyawan dengan rincian delapan orang adalah karyawanan tetap sementara tiga orang lainnya merupakan karyawan lepas yang akan digunakan saat hari libur tiba.

“Bersyukur sekali dari penjualan ini bisa digunakan dalam banyak hal, kalau untuk pribadi bisa menyekolahkan anak dan bisa memiliki beberapa kebutuhan rumah tangga. Rumah sandang dan pangan. Alhamdulillah tercukupi dan kalau untuk sosial saya bisa membantu membuka lapangan kerja bagi beberapa karyawan," timpal Azmi.

Membuka Pembayaraan Uang Digital QRIS

Berbeda jauh dengan anggapan orang yang mengira warung mie sop masih cenderung tradisional, namun kini tampaknya banyak warung mie sop sudah digitalisasi dalam sistem pembayarannya.

Sistem transaksi di warung mie sop milik Azmi ini sudah membuka pembayaran uang digital melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).

Azmi mengatakan, awalnya dia membuka QRIS karena anjuran dari pihak bank sejak satu tahun terakhir.

Seiring berjalannya waktu, Azmi kemudian menyadari dengan menerapkan sistem pembayaraan QRIS justru memudahkan pelaku UMKM dan juga pembeli. Ia kemudian menyediakan QRIS dari Bank Aceh dan Bank Syariah Indonesia (BSI).

Dari sisi pelaku UMKM, Azmi mengakui jika dirinya tak perlu repot setor uang ke bank, keuangan pun semakin terjadwal.

Seorang pembeli sedang melakukan scan QR code untuk melakukan pembayaran uang digital melalui QRIS di warung mie sop daging 'Salmalero Cantino', Takengon.
Seorang pembeli sedang melakukan scan QR code untuk melakukan pembayaran uang digital melalui QRIS di warung mie sop daging 'Salmalero Cantino', Takengon. (SERAMBINEWS.COM)

Sementara dari sisi pembeli lanjut Azmi, wisatawan lebih praktis cukup dengan scan barcode lalu uang pun masuk ke rekening pedagang.

"Alasan menggunakan QRIS karena memudahkan kami selaku UMKM, transaksi lebih mudah, kami menyimpan uangnya juga gak susah-susah kali, uangnya masuk ke rekening jadi kami gak perlu setor ke bank. Kalau untuk pembeli, mereka kan maunya praktis, jadi mereka cukup scan, uangnya langsung masuk ke kami," tambahnya.

Jika dilihat dari persenan perbandingannya, Azmi mengatakan mayoritas yang menggunakan pembayaran digital rata-rata dari wisatawan luar Takengon.

"Kalau untuk transaksi melalui QRIS banyak, apalagi kalau untuk weekend, tamu-tamu dari luar daerah itu mereka lebih mudah menggunakan QRIS nampaknya," sambung Azmi.

Kemudahan usai menerapkan sistem pembayaraan QRIS ini tampak jauh berbeda dari sebelum menerapkan QRIS

Dimana dulunya setiap hari Azmi harus menyetor uang ke bank dari hasil penjualan, namun setelah ada QRIS dia tak perlu repot lagi melakukannya. Artinya, uang yang masuk melalui QRIS otomatis langsung masuk ke rekening.

Sementara pembayaran uang cash dari pembeli bisa digunakan untuk belanja kebutuhan kedai pada keesokan harinya. 

Salah satu pembeli mie sop daging, Muhammad Fiqram Ramadhan, wisatawan asal Neusu Banda Aceh mengatakan, makan mie sop di warung Salmalero Cantino sangat membantu bagi para pembeli yang enggan membawa uang cash.

"Bagi kami yang jarang bawa uang cash sangat terbantu untuk pembayaran melalui QRIS, kalau aku tadi scan pakai Shopee pay aja," ucap Fiqram.

Harapan untuk QRIS

Di balik banyaknya kemudahan yang ditawarkan QRIS untuk pelaku usaha dan juga pembeli, tak dipungkiri Azmi ternyata menaruh harapan besar terutama dalam sistem pemotongan Merchant Discount Rate (MDR) bagi pelaku UMKM.

Ia berharap, pemotongan MDR tersebut seharusnya lebih diperkecil lagi, selain itu Azmi juga menginginkan pemotongan cukup dilakukan per hari bukan per transaksi. 

"Harapannya maunya potongannya dikecilkan lagi lah, saya kurang tau persenannya berapa tapi sedikit agak lebih besar. Kalau kita mau menggunakan sistem transefr saja, kita lebih diuntungkan, cuma konsumen gak mau ribet, mereka sukanya pakai QRIS aja. Makanya harapan saya untuk QRIS pemotongan pajaknya diperkecil dan pemotongannya maunya per hari, berapa transaksi dalam satu hari itu dipotongnya sekali aja, bukan per transaksi," pungkas Azmi. 

(Serambinews.com/Firdha Ustin)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved