Kamis, 7 Mei 2026

Citizen Reporter

Pengalaman Punya Keluarga Angkat di Amerika Serikat

Pengalaman ini tidak hanya tentang pembelajaran di luar kelas, tetapi juga tentang pertumbuhan pribadi dan rasa hormat terhadap keberagaman di dunia i

Tayang:
Editor: mufti
IST
DEFA RIZKY GHAISAN, Siswa SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe, Peserta Program KL-YES Tahun 2024, melaporkan dari Arizona, Amerika Serikat 

DEFA RIZKY GHAISAN, Siswa SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe, Peserta Program KL-YES Tahun 2024, melaporkan dari Arizona, Amerika Serikat

BAYANGKAN pindah ke negara yang jauh pada usia 17 tahun, mempelajari budaya baru dan jauh dari zona nyaman Anda. Menakutkan? Barangkali saja menyenangkan? Tentu saja! Anda mungkin merasa cemas dan bersemangat pada saat bersamaan. Petualangan luar biasa ini menawarkan banyak pelajaran dan pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan dan inilah petualangan saya.

Halo, nama saya Defa Rizky Ghaisan dan bersekolah di SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe. Sebelum saya pergi, saya adalah seorang remaja normal dari Indonesia yang memiliki impian besar untuk melihat dunia. Saya beruntung menjadi siswa pertukaran yang diberi kesempatan emas untuk belajar di Amerika melalui Kennedy-Lugar Youth Exchange and Study Program (KL-YES) Tahun 2024. Selama sepuluh bulan saya tinggal di Amerika Serikat (AS), saya mendapatkan banyak pengalaman yang luar biasa. Dari belajar di sekolah AS, tinggal di keluarga angkat, liburan seru, hingga jalan-jalan ke berbagai negara bagian Amerika.

Jadi, saya ditempatkan di Phoenix, Arizona, salah satu negara bagian terpanas di AS. Saat ini, Arizona berpenduduk sekitar 7 juta jiwa dan negara bagian ini menghasilkan tembaga. Kota ini dikelilingi oleh tebing, dataran dan pegunungan, serta terletak di tengah gurun yang gersang. Pada saat pertama kali tiba, salah satu ‘culture shock’ (keterkejutan budaya) yang saya rasakan adalah meskipun suhu sangat panas, saya tidak berkeringat. Itu rasanya sangat aneh dan berbeda dengan apa yang saya alami di Indonesia. Beradaptasi di lingkungan AS yang begitu berbeda awalnya saya kira akan menjadi hal yang sangat sulit. Namun, ternyata tidak sama sekali. Ada beragam aspek untuk beradaptasi di lingkungan baru. Bisa jadi makanannya yang terasa berbeda, contohnya mencoba sereal dan pasta sebagai makanan sehari-hari atau waktu dan jadwal yang berbeda, seperti sekolah yang dimulai lebih terlambat.

Saat pertama saya di sini, saya benar-benar merasakan perubahan kecil tersebut dan bagaimanapun saya bisa menyesuaikan diri. Untuk hal-hal yang lebih besar dan membingungkan seperti peraturan, ‘behavior’, bahkan slang-slang, saya biasanya bertanya ke orang-orang di sekitar untuk memastikan saya tidak melanggar aturan apa pun.

Di sini, saya tinggal bersama siswa pertukaran lainnya yaitu dari Estonia dan kami dibesarkan oleh keluarga yang luar biasa. Mereka selalu memperlakukan kami seperti anak mereka sendiri dan merencanakan banyak petualangan seru selama sepuluh bulan kami di Amerika. Mereka memperkenalkan kepada kami berbagai budaya di Amerika, tempat-tempat keren, dan juga festival-festival di Phoenix, di antaranya Phoenix Festival, Phoenix Film Festival, Phoenix Chinese Week. Salah satu petualangan favorit saya adalah perjalanan ke Los Angeles dan San Francisco, California, tempat Jembatan Golden Gate dan Penjara Alcatraz berada. Namun, Alcatraz sekarang sudah berubah fungsi sebagai salah satu objek wisata yang terkenal di California. Kami bersenang-senang di Disneyland dan merasakan salju untuk pertama kalinya di Taman Nasional Yosemite. Bagi saya, itu kenangan yang sangat berarti.

Kehidupan sekolah di AS juga sangat santai dibandingkan di Indonesia. Sebagai seorang pelajar, saya merasa memiliki kebebasan untuk belajar selama berada di AS karena saya memilih dan mengatur sendiri jadwal atau kelas mana yang saya pelajari selama seminggu. Meski frekuensi mengerjakan tugas dan pekerjaan rumah lebih tinggi, saya tidak merasa terbebani secara berlebihan.  Guru-gurunya juga sangat ‘engage’ dengan murid-murid di kelas. Ditambah dengan fasilitas yang lengkap dan canggih, membuat pergi dan belajar di sekolah tidak menjadi aktivitas membosankan, malah itu menjadi sesuatu yang menarik. Selain itu, banyaknya aktivitas klub membuat sekolah menjadi tempat yang ideal untuk berteman dan bersosialisasi. Di sini, banyak siswa berkumpul dengan orang-orang yang memiliki minat yang sama. Ada banyak klub berbeda, mulai dari klub olahraga, seni , musik,  hingga klub debat dan sains.

Tentu saja saya juga pernah mengalami masa-masa sulit hidup di AS, seperti yang dialami semua ‘exchange student’, yaitu ‘homesickness’. Saya kangen rumah, apalagi kalau ada perayaan besar seperti hari raya. Dan, itu adalah pengalaman pertama saya merayakan Idulfitri sendirian, jauh dari keluarga di Indonesia. Saya sangat merindukan makanan-makanan tradisional di hari raya, seperti ketupat, opor ayam, dan rendang. Saat Natal dan Thanksgiving, keduanya hari libur besar di AS, teman-teman saya berkumpul dengan keluarga mereka, membuat saya terkadang merasa rindu dengan keluarga saya sendiri. Beruntungnya, ada keluarga angkat yang selalu menyambut saya dengan hangat dan membuat saya merasa seperti bagian dari keluarga mereka.

Selama petualangan sepuluh bulan ini, saya belajar lebih dari sekadar akademisi. Pindah ke AS melalui program pertukaran ini mengajarkan saya keberanian, fleksibilitas, dan kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan yang berbeda. Meski ada tantangan seperti rindu kampung halaman dan beradaptasi dengan budaya baru, saya bersyukur atas pengalaman berharga ini. Selain itu, saya juga berkesempatan untuk mengenal berbagai tempat menarik dan menjalin persahabatan yang tak terlupakan. Keluarga angkat saya telah memberikan kehangatan dan dukungan yang luar biasa sehingga membuat saya betah meski jauh dari tanah air.

Kini, saat saya bersiap untuk meninggalkan Amerika Serikat, saya tidak hanya membawa pulang koper penuh kenangan indah, tetapi juga keyakinan baru bahwa saya akan mampu mengatasi rintangan pada masa depan. Pengalaman ini tidak hanya tentang pembelajaran di luar kelas, tetapi juga tentang pertumbuhan pribadi dan rasa hormat terhadap keberagaman di dunia ini. Saya bersyukur atas setiap momen yang saya alami dan tidak akan pernah melupakan petualangan yang mengubah hidup saya ini. 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved