Perang Gaza
Tel Aviv, Ibu Kota Israel Mendadak Sepi, Bersiap Hadapi Serangan Iran
Yana Levitan, pemilik Alternative Souvenir, sebuah toko di kota tua Yafo, berbagi perasaannya kepada The Media Line.
SERAMBINEWS.COM - Yafo, yang dikenal di seluruh dunia sebagai pusat bisnis, perdagangan, dan hiburan Israel, biasanya merupakan kota yang penuh kehidupan.
Jalanan biasanya dipenuhi pembeli, pantainya dipenuhi orang yang berjemur, dan malam hari dipenuhi dengan pesta dan acara.
Wisatawan berbondong-bondong mengunjungi pasar, kafe, dan landmark budaya yang menjadikan kota ini tujuan utama para pelancong.
Namun belakangan ini, gambaran berbeda muncul.
Jalanan sangat sepi, toko-toko tutup lebih awal dan keheningan menggantikan hiruk pikuk biasanya.
Ketakutan telah merasuki atmosfer, dan ketegangan yang mencemaskan menyelimuti seluruh kota.
Bagi warga dan pemilik usaha, perubahan ini terlihat jelas.
Yana Levitan, pemilik Alternative Souvenir, sebuah toko di kota tua Yafo, berbagi perasaannya kepada The Media Line.
“Saya merasakan dari jalanan bahwa orang-orang khawatir berada di sini, berada di Israel.
Baca juga: Dua Rudal M90 Milik Hamas Jatuh di Jantung Kota Tel Aviv, Israel Terkejut dan Beri Respon Begini
Masyarakat Israel khususnya khawatir berada di kota tua Yafo.
Saya tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi kami akan tetap di sini apapun yang terjadi,” katanya.
Ancaman pembalasan dari Iran semakin memperdalam krisis ini.
Dampaknya terasa di berbagai industri
Sadi, seorang sopir taksi keturunan Arab-Israel, menggambarkan situasinya kepada The Media Line: “Orang-orang tidak ingin datang ke Timur Tengah saat ini; mereka tidak merasa aman. ... Aku belum pernah melihat sesuatu seburuk ini sebelumnya. Kami hampir tidak bisa bertahan.”
Namun, meski ada ketakutan dan ketidakpastian, semangat ketahanan tetap kuat.
Yoel, seorang warga Tel Aviv, mengatakan kepada The Media Line, “Ada ketakutan namun rakyat Israel tangguh… kami berada di luar dan kami tidak berhenti hidup.”
Momen unik dalam sejarah Tel Aviv ini menghadirkan cerita dari semua lapisan masyarakat.
Mahmoud, seorang warga Palestina di Yerusalem yang mengunjungi Yafo, mengungkapkan harapannya akan perdamaian: “Ketika perang berakhir, segalanya akan kembali normal.”
Yoav, warga Kiryat Shmona, yang tinggal sementara di Yafo, menyampaikan sentimen yang sama, menceritakan bagaimana perang berdampak pada komunitas Yahudi dan Arab: “Kami dapat dengan mudah hidup bersama tanpa masalah politik apa pun. Satu-satunya masalah adalah sikap radikal di antara kedua belah pihak. Tanpa mereka, kita akan hidup lebih baik.”
Bahkan ketika kota ini bergulat dengan dampak perang, masyarakat Tel Aviv terus maju.
Wisatawan seperti Michael dan Kyara dari Perancis menggambarkan gambaran kompleks Tel Aviv pada masa perang—di mana kehidupan terasa familiar sekaligus terganggu.
Meskipun mereka melihat toko-toko tutup dan jalan-jalan lebih sepi, kunjungan mereka mengungkapkan bahwa kota tersebut masih bertekad untuk mempertahankan denyut nadinya.
Baik bagi penduduk lokal maupun pengunjung, konflik yang sedang berlangsung telah membuat kehidupan sehari-hari hampir terhenti.
Namun, seperti yang dieksplorasi dalam video ini, ketahanan masyarakat Tel Aviv tetap tidak terputus dalam menghadapi ketidakpastian, dengan harapan bahwa kota kehidupan ini akan segera kembali ke kondisi semula.(*)
| Armada Sumud Dekati Gaza, Angkatan Laut hingga Drone 3 Negara Kawal Kapal Bantuan |
|
|---|
| 20 Poin Kesepatakan Trump & Netanyahu, TNI Siap Dikerahkan ke Gaza? |
|
|---|
| Tuai Pro Kontra Internasional, Siapa Tony Blair yang Disebut Bakal Pimpin Transisi Gaza? |
|
|---|
| IDF Semakin Bar-bar, 48 Ribu Warga Gaza Terpaksa Mengungsi, Israel Buka Rute Baru Selama 48 Jam |
|
|---|
| Ungkap 9 Langkah Hentikan Genosida di Gaza, Spanyol Embargo Senjata dan Minyak Israel |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/roket-hamas-hantam-tel-aviv.jpg)