Berita Aceh Besar
CSEAS Kyoto University Bersama TDMRC dan BAST Selenggarakan Workshop Memorygraph
Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi digital, pendokumentasian sejarah dan budaya semakin mudah dengan adanya aplikasi inovatif.
Penulis: Yarmen Dinamika | Editor: Muhammad Hadi
Laporan Yarmen Dinamika l Jantho
SERAMBINEWS.COM - Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi digital, pendokumentasian sejarah dan budaya semakin mudah dengan adanya aplikasi inovatif.
Salah satu aplikasi dimaksud dalam hal ini adalah Memorygraph. Aplikasi ini dikembangkan oleh ROIS-DS Center for Open Data in the Humanities dan Center for Southeast Asian Studies (CSEAS) Kyoto University, Jepang.
Memorygraph memungkinkan pengambilan foto dengan komposisi yang sama, sangat berguna untuk fotografi sekarang-dan-dulu, sebelum-dan-sesudah, maupun untuk fotografi titik tetap, dan lainnya.
"Di Aceh, aplikasi ini menawarkan potensi besar dalam mendokumentasikan situs-situs bersejarah dan dampak bencana, seperti gempa dan tsunami," ujar Kepala Balai Arsip Statis dan Tsunami (BAST), Muhammad Ihwan MSi kepada Serambinews.com, Rabu (21/8/2024).
Baca juga: Ketika Pangdam IM Berkisah Sejarah Aceh, Penerimaan Prajurit TNI, Hingga Status Tanah Blangpadang
Untuk memanfaatkan potensi ini dan sebagai wujud implementasi kerja sama yang telah disepakati, CSEAS Kyoto University bersama dengan Tsunami and Disaster Mitigation Research Center Universitas Syiah Kuala (TDMRC USK), dan Balai Arsip Statis dan Tsunami (BAST) Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) menyelenggarakan workshop bertajuk "Dari Foto ke Memori: Pemanfaatan Memorygraph dalam Mempertahankan Ingatan Kolektif".
Workshop ini diadakan pada tanggal 21-22 Agustus 2024 di Gedung BAST-ANRI, kawasan Bakoy, Aceh Besar.
Workshop diisi oleh Assoc Prof Dr Yoshimi Nishi dari CSEAS Kyoto University sebagai pemateri dan Alfi Rahman MSi, PhD sebagai moderator.
Peserta workshop merupakan perwakilan dari beberapa instansi dan organisasi yang ada di Provinsi Aceh, di antaranya Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, Museum Tsunami Aceh, Program Studi Magister Ilmu Kebencanaan USK, Pusat Riset Ilmu Sosial dan Budaya (PRISB) USK, Youth Disaster Awareness Forum, termasuk TDMRC dan BAST-ANRI, serta MAN Model Banda Aceh sebagai perwakilan pelajar.
Baca juga: IAIN Lhokseumawe Peroleh Izin Buka Program Doktoral Studi Islam
Workshop ini juga merupakan bagian dari rangkaian acara "Peringatan Dua Dekade Gempa dan Tsunami: Aceh Built Back Better" yang akan diselenggarakan oleh BAST ANRI pada Desember mendatang.
Bertujuan untuk memperkenalkan dan melatih penggunaan aplikasi Memorygraph, serta melakukan dokumentasi lapangan di beberapa situs penting di Aceh.
Melalui workshop ini, kata Ihwan, peserta diharapkan dapat memahami dan menggunakan aplikasi Memorygraph secara efektif, menghasilkan dokumentasi fotografi yang konsisten dari situs-situs bersejarah, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya dokumentasi berkelanjutan dalam pelestarian sejarah dan budaya. (*)
Baca juga: Gajah Kembali Obrak-abrik Kebun Warga di Trumon Timur, BKSDA Diminta Segera Ambil Langkah Konkret
| Awal 2026, Ketua TP-PKK Aceh Besar Perkuat Sinergi Kecamatan–Gampong untuk Tekan Stunting |
|
|---|
| Dipangkas Pemerintah Pusat, Dana Desa Aceh Besar Tahun 2026 Tinggal Rp 150 Miliar |
|
|---|
| Tahun 2026, Alokasi Dana Desa di Aceh Besar Dipangkas Hampir 70 Persen |
|
|---|
| Pedang Pora dan Farewell Parade Sambut Kapolres Aceh Besar yang Baru |
|
|---|
| Tak Ingin Petani Merugi, Bupati Aceh Besar Pastikan Pupuk Kembali Lancar Pascabanjir |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/CSEAS-Kyoto-University-Bersama-TDMRC-dan-BAST-Selenggarakan-Workshop-Memorygraph.jpg)