Kupi Beungoh
Tu Sop Menjadi Syuhada saat Proses Pilkada
Meskipun bumi Aceh dan penduduk langit masih terus berduka dan menangis dengan tersiarnya kabar meninggalnya seorang ulama karismatik Aceh Tgk H Muham
Oleh: Tgk Mukhtar Syafari SSos MA*)
MESKIPUN jasad Tgk H. Muhammad Yusuf bin Abdul Wahab (Tu Sop) telah terkubur tetapi perjuangan beliau untuk Aceh tidak beliau boleh terkubur bersama jasadnya.
Sebagian muridnya masih merasakan getaran seolah olah Ayah Sop masih hidup. Hati yang terus mendapatkan bisikan olehnya untuk melanjutkan perjuangannya.
Perjuangan untuk memperbaiki orang kuat dan menguatkan orang lemah tidak boleh padam ketika jasad beliau telah tiada. Ilmu dan semangat darinya selalu hadir untuk kita semua.
Meskipun bumi Aceh dan penduduk langit masih terus berduka dan menangis dengan tersiarnya kabar meninggalnya seorang ulama karismatik Aceh Tgk H Muhammad Yusuf bin Abdul Wahab (Ayah Sop Jeunieb) pada Sabtu 7 September 2024.
Tetapi kita sebagai salah seorang dari ratusan ribu muridnya tidak boleh terus larut dalam kesedihan yang bisa melemahkan semangat kita untuk melanjutkan perjuangannya.
Baca juga: Fadhil Rahmi Menangis Ceritakan Sosok Tu Sop: Ayah tidak Tergantikan, Saya Hanya Meneruskan
Tu Sop bukan hanya Ulama tarbiyah (pendidik ummat) tetapi juga Ulama pergerakan (Ulama harakah) karena terlibat dalam politik praktis dan sosial kemasyarakatan. Wawasan dan genetika politik juga terwarisi dari keluarga besarnya.
Tu Sop Jeunieb dilahirkan pada 12 Desember 1964 dan dibesarkan dalam lingkungan dayah. Ayahnya Tgk Abdul Wahab bin Hasbullah seorang ulama pimpinan dayah dan tokoh yang terlibat politik praktis bersama partai Islam.
Paman dari pihak ibunya, Tgk H. Abdul Aziz bin Shaleh, Pimpinan Dayah MUDI Samalanga saat itu pernah diangkat sebagai Gubernur GAM pertama wilayah Batee Iliek oleh pimpinan GAM Tgk Hasan di Tiro pada tahun 1977.
Adik bungsu ummi Tu Sop, Tgk Abdullah bin Shaleh (Abon Dolah) juga seorang ulama pimpinan dayah Darul Atik Jeunieb dipercayakan sebagai Kadhi (Ketua Mahkamah Agung) dalam struktur pemerintahan GAM yang sangat dihormati dan disegani. Ia meninggal di hutan Jeunieb pada tahun 2003 saat konflik berkecamuk.
Ayah Sop seorang ulama yang berpikiran moderat yang memiliki cita cita besar ingin Aceh ini makmur dan sejahtera dalam naungan Dinul Islam untuk kebahagian dunia dan akhirat. Karena itulah beliau siap diusung untuk berjuang dalam pergerakan politik untuk maju sebagai Calon Wakil Gubernur Aceh pada Pilkada 27 November 2024
Tu Sop Masuk Arena Pilkada
Sejak beberapa tahun lalu, penulis sangat menginginkan suatu saat Aceh kembali dipimpin seorang yang alim (Ulama). Harapan ini muncul sejak tahun 2016 menjelang Pilkada 2017.
Harapan besar ini disebabkan banyaknya bukti sejarah bahwa kejayaan Aceh di masa silam terjadi di saat Aceh dipimpin orang alim seperti Sultan Iskandar Muda (baca opini : Saatnya Ulama Memimpin Aceh, Serambinews (19/5/24).
Untuk mewujudkan niat ini, penulis membentuk grup WA: Tu Sop for Aceh pada malam Nisfu Sya'ban 1445 lalu atau 24 Februari 2024. WAG ini untuk memperkuat gagasan dan memfasilitasi diskusi agar Tu Sop bisa maju sebagai Calon Gubernur Aceh.
| Ekoteologi Islam: Peringatan Iman atas Kerusakan Lingkungan dan Bencana Ekologis Aceh |
|
|---|
| Duka dan Air Mata Rakyat Aceh Dibalik Usaha Membersihkan Rumah Pasca Banjir Bandang |
|
|---|
| Simpang Lima di Kala Malam: Refleksi tentang Keindahan, Ketertiban, dan Identitas Aceh |
|
|---|
| Diaspora Aceh di Malaysia, Cahaya Persatuan di Tengah Bencana |
|
|---|
| Relawan, Ajang Anak Muda Mengabdi untuk Negeri |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Mukhtar-Syafari-4849.jpg)