Berita Luar Negeri
Warga Korea Utara Mulai Muak dengan Lagu Propaganda 'Friendly Father'
Seorang penduduk provinsi Ryanggang mengaku, dirinya mendengarkan lagu tersebut setiap hari sejak diperkenalkan pada April lalu.
Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Muhammad Hadi
Misalnya, di kota Hyesan, di perbatasan dengan Cina, ada sebuah taman tempat para pensiunan berkumpul untuk menghabiskan waktu luang mereka dengan berbincang-bincang, bernyanyi, menari, bermain game, atau berolahraga.
Namun, ketika pihak taman mematikan musik mereka dan mulai memutar lagu “Friendly Father” melalui pengeras suara taman, para warga mulai pulang ke rumah.
“Pengelola memaksa mereka untuk berhenti menari dan segera untuk memuji lagu Friendly Father,” katanya.
“Orang-orang tua berhenti menari dan mulai kembali ke rumah. Lagu itu bergema di taman yang kosong tempat semua orang pergi satu per satu hingga taman itu menjadi sepi.”
Taman tersebut, yang dulunya dipenuhi orang tua dari matahari terbit hingga terbenam, kini kosong hampir setiap hari, katanya.
Masalah lain dengan lagu tersebut berasal dari budaya Konfusianisme Korea.
Seringkali orang yang tidak dikenal diharapkan memberikan rasa hormat tertentu kepada orang yang lebih tua hanya karena mereka lebih tua, dengan janji bahwa mereka akan menerima rasa hormat yang sama dari orang muda ketika mereka mencapai usia yang sama.
Namun, orang-orang yang berusia 70-an dan 80-an terpaksa memanggil Kim Jong Un, yang baru berusia 40-an dan seusia dengan putra-putra mereka, sebagai 'ayah yang ramah', kata penduduk tersebut.
Dorongan pemerintah terhadap "Friendly Father" bahkan lebih agresif daripada upayanya untuk mempromosikan lagu-lagu dari masa pemerintahan ayah dan kakek Kim Jong Un.
Hal ini diungkapkan seorang penduduk provinsi timur laut Hamgyong Utara mengatakan kepada Radio Free Asia (RFA), yang meminta untuk tidak disebutkan namanya.
“Dulu lagu-lagu mereka kadang diputar di mobil pengeras suara, tapi mereka tidak menyuruh orang bernyanyi di, juga tidak memaksa orang tua bernyanyi seperti yang mereka lakukan sekarang,” katanya.
Warga mencemooh gagasan bahwa Kim Jong Un bisa menjadi “ayah yang ramah” bagi mereka, karena mereka tidak percaya pada kemampuan kepemimpinannya, kata warga kedua.
“Mereka tidak memiliki harapan pada pemimpin mereka, tetapi mereka dipaksa untuk membiasakan mata, telinga, dan mulut mereka dengan citranya sebagai ayah mereka yang ramah melalui lagu tersebut,” katanya.
Tampaknya upaya propaganda menjadi lebih besar dan lebih keras karena ketidakpuasan orang terhadap masyarakat meningkat, katanya.
(Serambinews.com/Agus Ramadhan)
| 191 Tewas Selama 4 Hari Perayaan Festival Air ‘Songkran’di Thailand, 911 Orang Terluka |
|
|---|
| Setelah Filipina, Krisis BBM Kini Hantam Bangladesh, Antrean SPBU Mengular Akibat Pasokan Kurang |
|
|---|
| Stok BBM Filipina Sisa 45 Hari, Status Darurat Energi Ditetapkan, Apa Konsekuensinya? |
|
|---|
| Drone Iran Hantam Bandara Internasional Kuwait, Tangki Bahan Bakar Meledak di Tengah Perang AS-Iran |
|
|---|
| Krisis BBM Meluas, Filipina Beri Sinyal Hentikan Penerbangan Imbas Perang AS-Israel vs Iran |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Pemimpin-Korea-Utara-Kim-Jong-Un-menghadiri-upacara-di-Pyongyang.jpg)