Senin, 27 April 2026

Opini

Santri di Persimpangan Zaman, Merajut Tradisi, Menaklukkan Era Digital

Perjuangan santri di Aceh memiliki akar yang sangat dalam. Aceh, sebagai salah satu wilayah dengan sejarah perlawanan terpanjang melawan penjajahan, s

Editor: Ansari Hasyim
FOR SERAMBINEWS.COM
Tgk. Nanda Saputra, M.Pd, Ketua PC ISNU Pidie, Dosen STIT Al-Hilal Sigli & Kandidat Doktor Universitas Sebelas Maret 

Oleh: Tgk Nanda Saputra MPd*)


HARI Santri Nasional yang jatuh setiap tanggal 22 Oktober adalah tonggak penting dalam sejarah bangsa Indonesia. Sejak pertama kali ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo pada tahun 2015, Hari Santri menjadi pengakuan resmi atas kontribusi besar para santri dan ulama dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan.

Hari ini merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad yang dicetuskan oleh KH. Hasyim Asy'ari pada tahun 1945, di mana beliau menyerukan kepada umat Islam di seluruh Indonesia untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan dari ancaman kembalinya kolonialisme. Resolusi ini bukan hanya sebuah seruan jihad dalam konteks perang fisik, tetapi juga panggilan moral dan spiritual untuk mempertahankan kemerdekaan dan nilai-nilai luhur bangsa. Di berbagai daerah, termasuk Aceh, santri berperan sebagai penggerak perjuangan. Mereka tidak hanya terlibat dalam perlawanan fisik melawan penjajah, tetapi juga menjadi penjaga nilai-nilai agama dan moralitas bangsa.

Perjuangan santri di Aceh memiliki akar yang sangat dalam. Aceh, sebagai salah satu wilayah dengan sejarah perlawanan terpanjang melawan penjajahan, selalu menempatkan ulama dan santri sebagai garda terdepan. Pesantren atau dayah di Aceh, selain menjadi pusat pendidikan Islam, juga berfungsi sebagai benteng perlawanan rakyat terhadap kolonialisme.

Ulama-ulama besar seperti Tgk. Chik di Tiro dan ulama lainnya menggerakkan perjuangan tidak hanya dengan senjata, tetapi juga dengan semangat jihad yang disemangati oleh ajaran agama. Dayah, hingga saat ini, terus menjadi salah satu institusi penting dalam membangun karakter religius masyarakat Aceh. Namun, di era globalisasi dan digitalisasi yang serba cepat ini, peran santri mengalami pergeseran. Tantangan yang dihadapi tidak lagi dalam bentuk perlawanan fisik, melainkan perang ideologi dan informasi yang datang dari segala penjuru dunia melalui media digital.

Tantangan dan Peran Santri di Era Millenial

Di era digital, tantangan yang dihadapi oleh para santri tidak kalah berat dibandingkan masa perjuangan fisik. Saat ini, santri dihadapkan pada arus informasi yang sangat deras dan terkadang menyesatkan. Akses informasi yang begitu mudah, meskipun membawa dampak positif dalam memudahkan penyerapan ilmu pengetahuan, juga membuka peluang bagi masuknya ideologi-ideologi yang bertentangan dengan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.

Santri yang selama ini dikenal sebagai penjaga moralitas dan akhlak bangsa kini harus mampu menghadapi gempuran arus informasi yang tidak selalu sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan di pesantren. Tidak hanya itu, tantangan lain seperti radikalisme melalui media sosial, penyebaran hoaks, hingga budaya konsumerisme yang merajalela menjadi ancaman nyata bagi moralitas santri di era ini. Mereka harus mampu memilah dan memilih informasi yang benar serta tetap teguh pada nilai-nilai keislaman di tengah derasnya arus globalisasi.

Santri harus mempersiapkan diri menghadapi tantangan tersebut dengan bekal literasi digital yang kuat. Salah satu solusi untuk menghadapi tantangan ini adalah dengan meningkatkan literasi digital para santri. Literasi digital bukan hanya kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan untuk berpikir kritis terhadap informasi yang diterima dan memahami dampak teknologi terhadap kehidupan sosial dan agama.

Di Aceh, di mana pesantren masih memegang peran penting dalam pendidikan agama, perlu ada pembaruan dalam kurikulum yang menyertakan literasi digital sebagai bagian dari pendidikan agama. Santri tidak hanya perlu menguasai ilmu agama secara mendalam, tetapi juga harus memiliki kemampuan untuk menggunakan teknologi secara bijak dan produktif. Kemampuan ini akan memungkinkan santri untuk tetap relevan di era digital, sekaligus menjaga nilai-nilai keislaman dan kebangsaan yang telah mereka warisi dari para pendahulu.

Selain literasi digital, penting bagi para santri untuk terlibat aktif dalam menciptakan konten-konten positif yang berbasis pada nilai-nilai Islam. Dunia digital adalah medan baru untuk berdakwah, dan santri memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan dalam menyebarkan ajaran Islam secara kreatif dan inovatif. Mereka bisa memanfaatkan platform media sosial seperti YouTube, Instagram, atau TikTok untuk menyebarkan dakwah dan konten-konten edukatif yang bernilai positif.

Dengan pemahaman agama yang mendalam dan kreativitas yang diimbangi dengan keterampilan teknologi, santri bisa menjadi duta dakwah yang menyebarkan pesan-pesan Islam rahmatan lil ‘alamin kepada masyarakat luas, termasuk generasi milenial yang sangat akrab dengan dunia digital. Hal ini juga akan membantu mencegah penyebaran ideologi yang bertentangan dengan Islam, seperti radikalisme dan ekstremisme, yang sering kali menyasar generasi muda melalui media sosial.

Lebih jauh lagi, santri juga harus didorong untuk memiliki kemandirian ekonomi yang berbasis teknologi. Salah satu solusi untuk memberdayakan santri di era digital adalah dengan mengembangkan kewirausahaan digital di kalangan santri. Pesantren atau dayah bisa menjadi inkubator bagi para santri untuk mengembangkan ide-ide kreatif yang berorientasi pada bisnis berbasis syariah.

E-commerce, content creation, hingga pengembangan aplikasi-aplikasi Islami adalah beberapa contoh bidang yang bisa digeluti oleh para santri. Kemandirian ekonomi ini tidak hanya akan meningkatkan kesejahteraan para santri, tetapi juga memberikan kontribusi yang lebih luas bagi masyarakat sekitar. Dengan bekal ilmu agama yang kuat dan keterampilan digital yang memadai, santri tidak hanya menjadi penjaga moral bangsa, tetapi juga pelaku aktif dalam membangun ekonomi yang berlandaskan prinsip-prinsip syariah.

Dengan demikian, slogan “Menyambung Juang Merengkuh Masa Depan” menjadi sangat relevan dalam konteks perjuangan santri di era digital. Jika dulu santri berjuang di medan perang fisik melawan penjajah, kini perjuangan mereka adalah menjaga moralitas bangsa dan nilai-nilai Islam di tengah tantangan globalisasi dan digitalisasi.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved