Opini
Generasi Santun di Era Digital
Dunia digital ditandai dengan massifnya perkembangan teknologi berbasis internet. Seiring kemajuan teknologi, internet menjadi
Oleh: Nelliani MPd*)
KITA sedang berada di era digital. Suatu zaman dimana hampir seluruh bidang dalam tatanan kehidupan sudah menggunakan teknologi dan semua serba terkoneksi. Perkembangan teknologi informasi begitu cepat dan canggih. Setiap orang dapat saling berkomunikasi dan bertukar informasi tanpa ada sekat geografis, batasan ruang dan waktu.
Dunia digital ditandai dengan massifnya perkembangan teknologi berbasis internet. Seiring kemajuan teknologi, internet menjadi bagian keseharian kita. Ketersediaan layanan internet, smartphone, laptop membantu menunjang beragam pekerjaan, baik sebagai media komunikasi, sumber informasi, jaringan bisnis, maupun memudahkan pembelajaran jarak jauh yang dilakukan sejak pandemi.
Hilangnya kesantunan
Kemajuan teknologi menjadikan generasi muda cerdas secara kognitif, namun lemah secara afektif dan karakter. Teknologi dianggap mampu menyajikan beragam informasi yang memperkaya khasanah keilmuan. Sayangnya, teknologi tidak dapat menyentuh inti dari pendidikan itu sendiri yaitu membangun karakter dan moral peserta didik. Penggunaan yang tidak bijak membuat nilai-nilai kesantunan semakin memudar di kalangan remaja dan pelajar dewasa ini.
Fenomena tersebut sering kita saksikan dari perilaku anak-anak muda belakangan ini. Dimana cara bersikap, tutur kata maupun gaya pergaulan kian jauh dari adab dan norma kesantunan. Maraknya bullying, mudahnya menebar hoaks, ujaran kebencian di media sosial, pornografi bukan hal baru. Pada titik ini rasanya tidak berlebihan untuk tidak menyatakan kemajuan teknologi berperan terhadap merosotnya nilai-nilai kesantunan generasi muda.
Tidak dapat dipungkiri, layanan internet memudahkan pengguna mengakses konten-konten negatif. Game online, video asusila serta tontonan kekerasan yang digemari remaja. Tayangan ini dianggap mampu memberikan kesenangan dan hiburan. Hal tersebut sangat sesuai dengan karakteristik mereka, dimana usia remaja merupakan masa yang aktif, energik, penuh rasa ingin tahu serta senang berimajinasi.
Namun yang dikhawatirkan adalah kegemaran ini berdampak terhadap perilaku dan psikologis penggunanya. Anita Carolina, psikolog dari klinis Personal Growth menyatakan, game atau tontotan negatif mempengaruhi psikologis dan kognitif pemainnya terutama anak-anak dan remaja. Efek yang ditimbulkan, dapat menyebabkan perilaku agresif, permasalahan kontrol emosi, sulit mengendalikan diri hingga menyebabkan perubahan struktur otak. Maka tidak mengherankan kasus-kasus bullying tidak jarang terinspirasi dari game atau video bertema perang dan kekerasan.
Selain menimbulkan agresifitas, tayangan miskin edukasi mempengaruhi adab dan etika dalam interaksi sosial. Hal tersebut terlihat dari makin memudarnya budaya santun di lingkungan pelajar. Cara bersikap, tutur kata baik terhadap yang muda, teman sebaya maupun dengan yang lebih tua, sulit menerima nasehat, susah diatur serta bertindak di luar etika. Padahal jika kita mau menengok ke masa dulu, sikap menghormati dan sopan santun inilah yang membuat masyarakat kita dikenal santun dan beradab.
Menjaga budaya santun
Sopan santun merupakan karakter penting dalam kehidupan bersosialisasi. Pribadi yang memiliki sifat ini tidak kesulitan beradaptasi dan disenangi dimana pun dia berada. Kehidupan akan harmonis dan rukun jika setiap individu selalu mengutamakan kesantunan. Karena dalam kesantunan tercermin nilai-nilai saling menghargai, menghormati, gemar menolong, tenang dan sabar.
Karakter santun merupakan kearifan lokal yang tertanam dalam masyarakat kita sejak dulu. Berbagai kebiasaan yang mencerminkan kesantunan ditunjukkan dalam perilaku keseharian baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat. Sebagai contoh, kebiasaan memberi salam, mencium tangan yang dilakukan anak kepada orang tua, siswa kepada guru atau orang yang lebih tua, membungkukkan badan ketika berjalan di hadapan orang yang lebih tua sebagai bentuk rasa hormat. Bahkan sesederhana mengucap “maaf”, berkata “terima kasih” atau ringannya mengucap “tolong” bila menyuruh sesuatu.
Kita sudah semestinya menjaga kebiasaan-kebiasaan baik tersebut supaya tetap lestari di tengah derasnya pergeseran budaya era digital. Harus disadari, fenomena kemajuan teknologi informasi di zaman milenial begitu luar biasa. Menjauhkan anak dari media sosial jelas tidak mungkin sementara orang tua tidak bisa lepas dari perangkat digital. Mengawasi penggunaan gadget sepanjang hari juga terdengar tidak realistis jika ayah ibu begitu mudah memberikan mereka ponsel dan fasilitas lainnya.
Mencermati kondisi demikian, yang perlu dilakukan adalah penguatan pendidikan karakter dan nilai-nilai agama untuk membekali mereka menghadapi tantangan di era digital. Dimulai dari komunitas terkecil yaitu keluarga, orang tua harus mampu menunjukkan teladan kesantunan melalui kebiasaan-kebiasaan disetiap aktivitas di rumah. Demikian juga dengan segenap elemen pendidikan lainnya, sekolah, masyarakat dan negara bersinergi membangun keteladanan serta menyediakan lingkungan dan sistem yang mendukung sebagai upaya membangun moral dan karakter generasi penerus bangsa.
*) Penulis guru SMAN 3 Seulimeum
| Aceh sebagai Pintu Gerbang Perdagangan Internasional, Mengaspirasi Pembangunan Dubai |
|
|---|
| Nasib Aceh jika Kepala Daerah Dipilih DPRD |
|
|---|
| Menata Standar Pendidikan Menuju Ekosistem yang Lebih Bermakna |
|
|---|
| Dampak Bencana dan Antisipasi Perubahan RPJMA 2025-2029 |
|
|---|
| Bencana yang tak Datang “Tiba-Tiba”, Cermin Gagalnya Kepemimpinan dan Budaya Organisasi Pemerintah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/nelliani-guru-sma-seulimeum.jpg)