Kamis, 11 Juni 2026

Mihrab

Pilkada Aceh: Refleksi Kedewasaan Politik dan Keimanan

Pilkada di Aceh tahun ini menjadi momen yang penuh makna, menandai tingkat kedewasaan berpolitik masyarakat yang semakin matang. 

Tayang:
Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Ansari Hasyim
Dok Pribadi
Guru Besar Filsafat UIN Ar-Raniry, Prof Dr Syamsul Rijal MAg 

Pilkada Aceh: Refleksi Kedewasaan Politik dan Keimanan

SERAMBINEWS.COM - Pilkada di Aceh tahun ini menjadi momen yang penuh makna, menandai tingkat kedewasaan berpolitik masyarakat yang semakin matang. 

Pelaksanaan Pilkada ini dinilai terbaik sepanjang era reformasi, bahkan pasca damai. 

Guru Besar Filsafat UIN Ar-Raniry, Prof Dr Syamsul Rijal MAg mengatakan proses pemungutan suara sudah dilaksanakan pada Rabu (27/11/2024), dan semua pihak harus menerima segalanya dengan sikap bijak, sebagai cerminan dari sikap kedewasaan berpolitik. 

“Diperlukan upaya menghadirkan Tuhan dalam berjuang, dan menerima hasil perjuangan itu adalah sesuatu yang bijak dan sangat tepat. Hal ini sebagai sikap penting bagi kita sebagai makhluk beragama dan bermoral,” ujarnya, Kamis (28/11/2024).

Ia meyakini, kepala daerah telah berikhtiar dan rakyat sebagai pemilih pun sudah berusaha keras. 

Hal ini telah menunjukkan kesungguhan, membuktikan bahwa semua pihak serius dalam mencapai tujuan memenangkan pilihannya. 

Namun bagaimanapun juga ikhtiar yang ditunjukkan mereka telah memberikan sebuah arti, yaitu arti kepuasan, keikhlasan, dan keridhaan sebagai sebuah proses berusaha. 

Sebagain insan, diperlukan menghilangkan kecemasan dan berserah diri-lah kepada Allah SWT.

“Peningkatan keikhlasan (tawakkal) membuat seseorang menjadi ikhlas menerima hasil apapun, baik itu sukses maupun gagal, sejati Allah akan membalas apa yang diusahakan, walaupun yang diusahakan belum menuju sebuah kemenangan dalam makna kontestasi politik,” ungkap Pembina Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD) Aceh Ini.

Prof Syamsul Rijal pun mengajak semua pihak untuk mengingat akan dua filosofi kehidupan. 

Pertama, disaat meraih keberhasilan, maka bersyukurlah kepada Allah SWT dan tidak menyombongkan diri karena susksesnya itu.

“Kedua, disaat gagal, tentu meyakini bahwa itu adalah kehendak terbaik dari takdir Allah yang harus diterima,”

“Dengan sikap ini, akan terlahir sikap berjiwa besar, melakukan refleksi, dan evaluasi diri untuk pembenahan dan keinsafan terhadap kekurangannya, agar dikesempatan selanjutnya disempurnakan di masa datang,” sebuynya.

Sebagaimana mencontohi sikap Rasulullah SAW saat peristiwa Fathun Mekkah, dimana Nabi menaklukkan orang kafir Quraisy kala itu dengan penuh ketundukkan, mendekap punuk ontanya saat memasuki kota Mekkah. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved