Konflik Palestina vs Israel

9 Warga Israel Luka Parah Ditembak di Ariel Tepi Barat, Brigade Al-Qassam Bertanggung Jawab

Magen David Adom menambahkan, dari sembilan korban itu kondisi 3 di antaranya serius.

Editor: Faisal Zamzami
khaberni/HO
Pelaku penembakan terhadap sembilan warga Israel di Pemukiman Ariel di Tepi Barat, Jumat (29/11/2024) ditembak pasukan Israel. 

Smotrich menyerukan agar Israel segera mencaplok Tepi Barat yang diduduki, memicu gelombang kecaman di seluruh dunia Arab .

Pada Senin (11/11/2024), Smotrich mengatakan dia menginstruksikan Divisi Pemukiman dan Administrasi Sipil Israel untuk memulai pekerjaan dasar infrastruktur untuk "menerapkan kedaulatan" di Tepi Barat.

 
Atas perintah ini, Israel secara vulgar menerapkan langkah-langkah aneksasi Tepi Barat menjadi wilayah pendudukan mereka sepenuhnya.

Aksi Israel ini memicu kemarahan dunia Arab.

Kementerian Luar Negeri Qatar menyebut seruan menteri Israel tersebut sebagai "pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional."

Pernyataan kementerian tersebut mengecam seruan tersebut sebagai "eskalasi berbahaya yang akan menghambat peluang perdamaian di wilayah tersebut, terutama dengan perang brutal yang sedang berlangsung di Jalur Gaza dan dampaknya yang mengerikan."

Qatar menyerukan kepada masyarakat internasional "untuk menentang keras kebijakan pemukiman, kolonial, dan rasis pendudukan, serta serangan berulang-ulang terhadap hak-hak Palestina, terutama kejahatan yang terus berlanjut di Tepi Barat."

"Pernyataan berulang Israel yang melanggar hukum dan resolusi internasional dengan jelas menunjukkan bahwa pendudukan adalah hambatan bagi segala upaya untuk mencapai perdamaian dan stabilitas" di kawasan tersebut," kata kementerian tersebut.

Kementerian Luar Negeri Mesir mengecam seruan Smotrich sebagai "pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional dan hukum humaniter internasional."

"Pernyataan yang tidak bertanggung jawab dan ekstremis oleh seorang anggota pemerintah Israel jelas mencerminkan penolakan Israel untuk mengadopsi opsi perdamaian di kawasan tersebut," kata kementerian tersebut dalam sebuah pernyataan.

Adapun Yordania menyebut seruan menteri Israel sebagai "rasis" dan "ekstremis"

"Pernyataan Smotrich disebut sebagai "pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan hak yang tidak dapat dicabut dari rakyat Palestina untuk mendirikan negara merdeka mereka dengan kedaulatan di sepanjang perbatasan 4 Juni 1967 dan ibu kotanya di Yerusalem yang diduduki," bunyi pernyataan sikap dan kecaman Yordania terhadap Israel.

Juni ini, Smotrich mengonfirmasi laporan dari The New York Times bahwa ia mempunyai "rencana rahasia" untuk mencaplok Tepi Barat dan menggagalkan segala upaya untuk menggabungkan wilayah tersebut ke dalam negara Palestina di masa mendatang.

Pada bulan Juli tahun ini, Mahkamah Internasional (ICJ) mengeluarkan pendapat penting yang menyatakan pendudukan Israel selama puluhan tahun atas tanah Palestina sebagai "ilegal" dan menuntut evakuasi semua permukiman yang ada di Tepi Barat dan Yerusalem Timur.

Menurut lembaga penyiaran publik Israel KAN pada Selasa, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berencana untuk memperkenalkan kembali aneksasi Tepi Barat ke agenda pemerintahannya ketika Presiden terpilih AS Donald Trump menjabat.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved