Selasa, 14 April 2026

Internasional

Pemberontak Masuki Aleppo, Serangan Mendadak Guncang Posisi Pemerintah Suriah

Dua sumber militer Suriah mengungkapkan bahwa pesawat tempur Suriah dan Rusia telah menargetkan posisi pemberontak di pinggiran Aleppo

Penulis: Sri Anggun Oktaviana | Editor: Ansari Hasyim
Reuters
Para pejuang oposisi Suriah berdiri di depan Universitas Aleppo, setelah pemberontak yang menentang Presiden Suriah Bashar al-Assad mengatakan bahwa mereka telah mencapai jantung kota Aleppo, Suriah, pada 30 November 2024. 

SERAMBINEWS.COM - Militer Suriah mengonfirmasi bahwa puluhan tentaranya tewas dalam serangan mendadak yang dilancarkan oleh pemberontak di wilayah barat laut Suriah pekan ini.

Dilansir dari kantor berita Reuters pada Sabtu (40/11/2024), dalam serangan tersebut, kelompok pemberontak berhasil memasuki sebagian besar kota Aleppo, wilayah yang dikuasai pemerintah sejak hampir satu dekade terakhir, memaksa tentara Suriah melakukan penempatan ulang.  

Menurut pernyataan resmi militer Suriah, serangan itu dipimpin oleh kelompok Islamis Hayat Tahrir al-Sham, yang berhasil mengguncang posisi pertahanan pemerintah di kota Aleppo.

Pernyataan ini juga menjadi pengakuan pertama militer bahwa pemberontak telah menembus garis pertahanan pemerintah di kota tersebut.    

Pihak militer menjelaskan bahwa jumlah besar pemberontak dan banyaknya garis pertempuran memaksa angkatan bersenjata Suriah untuk melakukan strategi penempatan ulang.  

"Jumlah besar teroris dan banyaknya garis depan pertempuran mendorong angkatan bersenjata kami untuk melakukan operasi penempatan ulang yang bertujuan memperkuat garis pertahanan guna menyerap serangan, melindungi nyawa warga sipil dan tentara, serta mempersiapkan serangan balik," kata pihak militer dalam pernyataannya.  

Meski pemberontak berhasil masuk ke Aleppo, militer Suriah mengklaim bahwa mereka belum mampu membangun posisi tetap karena serangan udara dan bombardir artileri yang terus dilakukan.  

Dua sumber militer Suriah mengungkapkan bahwa pesawat tempur Suriah dan Rusia telah menargetkan posisi pemberontak di pinggiran Aleppo pada Sabtu (30/11).

Rusia, yang telah mendukung pemerintahan Presiden Bashar al-Assad sejak tahun 2015 melalui pengerahan angkatan udaranya, memainkan peran penting dalam meredam serangan ini.  

Menanggapi situasi ini, juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyatakan bahwa Moskow memandang serangan pemberontak tersebut sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan Suriah.
 
"Kami mendukung pihak berwenang Suriah untuk memulihkan ketertiban di wilayah tersebut dan mengembalikan tatanan konstitusional secepat mungkin,"ujar Peskov dalam konferensi pers pada Jumat (29/11/2024).  

Serangan ini menjadi tantangan terbesar bagi Presiden Bashar al-Assad dalam beberapa tahun terakhir.

Sejak 2020, garis pertempuran perang saudara Suriah sebagian besar berada dalam kondisi stabil.

Namun, serangan mendadak ini berhasil mengguncang situasi di lapangan, menunjukkan bahwa ancaman terhadap pemerintahan Assad masih jauh dari selesai.  

Pemberontak memulai ofensif ini dengan menyapu kota-kota yang dikuasai pemerintah sebelum mencapai Aleppo. Kota ini sebelumnya berhasil direbut kembali oleh pasukan Assad pada 2016 dengan dukungan dari Rusia dan Iran, setelah bertahun-tahun menjadi medan pertempuran sengit antara pemerintah dan kelompok pemberontak.  

Seiring dengan meningkatnya intensitas serangan, kekhawatiran terhadap kondisi warga sipil di Aleppo juga meningkat.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved