Senin, 4 Mei 2026

Berita Banda Aceh

Hindari Pasien Telantar, Ombudsman Aceh Serahkan Hasil Rapid Assessment Tata Kelola Layanan Rujukan

“Salah satunya terkait masih belum optimalnya penerapan aplikasi Sisrute di banyak RSUD di berbagai kabupaten/kota di Aceh,” sambungnya.

Tayang:
Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Muhammad Hadi
FOR SERAMBINEWS.COM
Kepala Ombudsman RI Perwakilan Aceh, Dian Rubianty (tengah) menyerahkan hasil rapid assessment atau kajian cepat terhadap tata kelola layanan rujukan pasien di rumah sakit kepada perwakilan rumah sakit dan pemerintah, Senin (16/12/2024) 

Hindari Pasien Telantar, Ombudsman Aceh Serahkan Hasil Rapid Assessment Tata Kelola Layanan Rujukan

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Ombudsman RI Perwakilan Aceh telah melakukan rapid assessment atau kajian cepat terhadap tata kelola layanan rujukan pasien di rumah sakit.

Hal ini untuk mengurangi jumlah laporan keluhan masyarakat tentang kesehatan, terutama menghindari pasien terlantar di Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan ketiadaan kamar rawat inap di rumah sakit

Hasil kajian cepat tersebut telah diserahkan kepada Pemerintah Aceh, Kepala BPJS Cabang Banda Aceh, Ketua DPR Aceh, Ketua DPRK Aceh Timur, Ketua DPRK Banda Aceh, Ketua DPRK Aceh Barat, perwakilan dinas kesehatan dan rumah sakit beberapa kabupaten/kota di Aceh, Senin (16/12/2024).

Kepala Ombudsman RI Perwakilan Aceh, Dian Rubianty menyampaikan, kajian cepat Ombudsman ini telah melalui tahapan deteksi potensi maladministrasi, telaah regulasi tentang pelayanan kesehatan, tata kelola rujukan pasien, serta pengumpulan dan analisis data lapangan. 

"Kajian ini dilakukan di wilayah Kabupaten Aceh Barat, Aceh Timur dan beberapa rumah sakit di Kota Banda Aceh, dengan melibatkan 41 responden dari 15 lokus,” ungkapnya.

Menurut Dian, hasil kajian menunjukkan penelantaran pasien di IGD terjadi salah satunya karena kendala dalam pelaksanaan Aplikasi Sistem Rujukan Terintegrasi (Sisrute). 

Penggunaan aplikasi itu sendiri bermasalah karena kurangnya sosialisasi dan bimbingan teknis untuk tim pelaksana. 

Namun ada isu yang lebih mendasar, yaitu belum adanya harmonisasi, sinkronisasi, dan mitigasi risiko terkait tata kelola rujukan antara Kemenkes dan BPJS Kesehatan. 

Ia menjelaskan, Ombudsman RI Perwakilan Aceh akan berkoordinasi dengan Ombudsman RI, sehingga permasalahan harmonisasi, sinkronisasi, dan mitigasi risiko terkait tata kelola serta bridging system dapat ditindaklanjuti oleh Ombudsman RI bersama Kemenkes dan BPJS Kesehatan. 

"Ombudsman telah melaksanakan serangkaian rapat koordinasi dengan 73 rumah sakit, dinkes, dan perwakilan RSUDZA pada akhir tahun 2023 lalu,” kata Dian.

“Salah satunya terkait masih belum optimalnya penerapan aplikasi Sisrute di banyak RSUD di berbagai kabupaten/kota di Aceh,” sambungnya.

Oleh karena itu, Ombudsman menyampaikan saran perbaikan untuk ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah, salah satunya meminta Pemerintah Aceh, Pemerintah Kota Banda Aceh, Pemerintah Kabupaten Aceh Barat, dan Pemerintah Kabupaten Aceh Timur untuk menerbitkan surat edaran. 

Surat edaran tersebut menegaskan kewajiban penggunaan Aplikasi Sisrute dalam melakukan rujukan pasien oleh seluruh fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes).

Selain itu, Dinas Kesehatan Aceh perlu menyosialisasikan secara langsung kepada dinas kesehatan seluruh Aceh terkait penggunaan Aplikasi Sisrute dalam melakukan rujukan pasien

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved