Video

VIDEO Dua Dekade Tsunami, Isak Tangis dan Harapan di Kuburan Massal Ulee Lheu

Dua dekade peristiwa tsunami Aceh, lantunan zikir dan doa mengenang peristiwa kelam tersebut di Kuburan Massal Ulee Lheu sanyup terdengar.

Penulis: Indra Wijaya | Editor: Aulia Akbar

Laporan Indra Wijaya | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH -  Minggu 26 Desember 2004, mentari mulai bersinar dari arah Timur. Warga Banda Aceh beraktifitas seperti biasa. Sebagian dari mereka bersiap untuk piknik bersama keluarga. Suasana sejuk dan riuhnya suara kicauan burung santer terdengar.

Suasana damai di akhir pekan itu berubah menjadi petaka. Gempa berkuatan 9,3 skala ritcher (SR) mengguncang Serambi Mekkah. Masyarakat tumpah ruah berlari menyelamatkan diri keluar dari rumah. Suasana mencekam menyelimuti libur akhir pekan tersebut.

Dua dekade peristiwa tsunami Aceh, sejuk pagi sama terasa di Kuburan Massal Ulee Lheu, Kecamatan Meuraxa. Cuaca yang cerah dengan sejuknya embun pagi menghiasi kuburan tersebut. Bedanya mereka tidak sedang menyelematkan diri, melainkan larut dalam lantunan zikir dan doa mengenang peristiwa kelam tersebut.

Suasana penuh haru dengan isak tangis tumpah ruah di kuburan massal tersebut. Mereka tak kuasa membendung air mata ketika membacakan surah Yasin kepada anggota keluarga mereka yang meninggal akibat bencana dahsyat tersebut.

Meski tak mengetahui secara pasti bahwa sanak keluarganya disemayamkan di kuburan massal tersebut, batin mereka mengatakan bahwa anak dan keluarga berada disana. Hal itu seakan menjadi harapan untuk mendoakan mereka yang menjadi korban tsunami 2004 silam.

Triansyah Putra (52) salah seorang peziarah yang berasal dari Gampong Punge, Kecamatan Meuraxa, merasa yakin bahwa saudara dan orang tuanya disemayamkan di kuburan massal tersebut. Meski tak ada gambaran pasti, dirinya tetap melantunkan ayat suci Al-Qur'an untuk sanak familinya. Hampir setiap tahunnya itu berziarah ke makam tersebut.

Saat tsunami itu terjadi ia dan keluarganya sedang berada di rumah. Dimana saat itu ia sudah mengetahui berkat laporan masyarakat bahwa air mulai naik dari arah pantai Ulee Lheu. Minim pengetahuan terkait bencana tsunami, saat ia merasa bahwa air tidak akan sampai ke tempat tinggalnya. Lantaran jarak pantai dengan Gampong Punge terpaut lumayan jauh.

Namun tak lama berselang, air laut dengan cepat menghancurkan seluruh rumah yang ada di sekitar tempatnya. Ia dan keluarganya tak sempat berlari ke tempat lebih jauh untuk menyelamatkan diri. Ia dan keluarga terhapus gelombang dahsyat tersebut.

Beruntung saat itu, Triansyah Putra berhasil selamat. Namun orang tua dan saudaranya tak kunjung ditemukan akibat peristiwa tersebut. "Hati saya mengatakan bahwa mereka disemayamkan disini yang terdiri dari orang tua, saudara dan keponakannya. Rumah saya itu lantai dua juga hancur saat peristiwa itu," katanya, Kamis (26/12/2024).(*)

VO: Dara
Editor Video: Muhammad Aulia

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved