Jumat, 17 April 2026

Perang Gaza

PBB Tandai 30.000 Anak-anak di Gaza dengan Gelang Identitas

Dujarric juga menyatakan bahwa mitra perlindungan PBB telah mendistribusikan lebih dari 30.000 gelang identitas anak kepada anak-anak di bawah usia em

Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/instagram
Seorang ayah memeluk anaknya dengan dekapan penuh kasih di lantai sebuah rumah sakit di Gaza sesaat akan mendapat perawatan akibat pemboman penjajah Israel. Saat ini dilaporkan banyak di antara anak-anak Gaza yang menderita kelaparan, sekarat dan meninggal akibat blokade bantuan oleh Israel. 

SERAMBINEWS.COM - PBB, pada Senin, melaporkan bahwa lebih dari 30.000 gelang identitas anak-anak dibagikan kepada anak-anak di Gaza ketika keluarga terus bergerak melintasi Jalur Gaza, Anadolu Agency melaporkan.

Mengutip Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), juru bicara Stephane Dujarric dalam konferensi pers PBB mengatakan bahwa bersama dengan mitra kemanusiaan lembaga itu memperluas operasi bantuan penyelamatan jiwa karena semakin banyak pasokan kemanusiaan memasuki Gaza.

Memperhatikan bahwa “Pengungsi terus berpindah antara Gaza selatan dan utara saat mereka bersatu kembali dengan keluarga dan mulai membangun kembali kehidupan mereka,” Dujarric melaporka.

"Hingga saat ini, kami dan mitra kemanusiaan memperkirakan bahwa lebih dari 545.000 orang telah menyeberang dari selatan ke utara Gaza selama seminggu terakhir.”

“Lebih dari 36.000 orang terlihat bergerak dari utara ke selatan,” katanya.

Dujarric juga menyatakan bahwa mitra perlindungan PBB telah mendistribusikan lebih dari 30.000 gelang identitas anak kepada anak-anak di bawah usia empat tahun untuk membantu mencegah perpisahan keluarga.

Disebutkan gelang identitas anak-anak adalah sesuatu yang krusial saat ia menyatakan laporan lebih dari 250 anak kecil, yang telah dipisahkan dari pengasuhnya saat menyeberang ke utara.”

Dia juga mengatakan bahwa ada tiga situs sementara yang dapat menampung setidaknya 5.000 orang didirikan di Beit Hanoun Gaza Utara, Beit Lahiya dan Jabalya.

“Sementara itu, para mitra yang bekerja di bidang pendidikan melaporkan bahwa sekitar 280.000 anak usia sekolah di Gaza telah mendaftar di Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina dalam program e-learning," kata” Dujarric.

Dujarric lebih lanjut menyuarakan keprihatinan atas operasi tentara Israel yang sedang berlangsung di Jenin dan Tulkarem yang terletak di Tepi Barat yang Diduduki.

“OCHA memperingatkan sekali lagi bahwa taktik mematikan seperti perang sedang diterapkan, meningkatkan kekhawatiran atas penggunaan kekuatan yang melebihi standar penegakan hukum,” katanya, menambahkan bahwa tentara Israel menghancurkan “20 bangunan tempat tinggal di mana lebih dari 50 keluarga tinggal kemarin di Kamp Pengungsi Jenin.

Akibat penggerebekan tentara Israel ke rumah-rumah warga Palestina, Dujarric mengatakan setidaknya 15 keluarga mengungsi.

“Hari ini, pasukan Israel menyerbu Kamp Pengungsi El Far'a dan memblokir pintu masuk. Akibatnya, puluhan keluarga dilaporkan meninggalkan kamp tersebut karena takut akan operasi Israel yang lebih besar, katanya.

Dujarric juga melaporkan bahwa hingga hari ini jumlah korban tewas warga Palestina dalam operasi Israel baru-baru ini di Tepi Barat mencapai 39 orang sejak 21 Januari, ketika operasi di Jenin dimulai.

Eskalasi Israel di Tepi Barat terjadi setelah gencatan senjata dan kesepakatan pertukaran tahanan terjadi di Gaza pada 19 Januari, setelah 15 bulan perang genosida Israel yang menewaskan lebih dari 47.500 warga Palestina dan membuat daerah kantong tersebut menjadi puing-puing.

Sejak awal perang genosida Israel di Gaza pada Oktober 2023, lebih dari 900 warga Palestina telah terbunuh di seluruh Tepi Barat dalam serangan pasukan dan pemukim Israel.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved