Jumat, 8 Mei 2026

Features

Sarbila Karlina Wati, Sikap Pantang Menyerah Berbuah Prestasi

Anak dari pasangan Kamarudin dan Rosita kelahiran Kutacane Lama, April 2003 itu tak berhasil menyelesaikan kuliah tanpa menulis skripsi.

Tayang:
Editor: mufti
HUMAS UIN AR-RANIRY
Sarbila Karlina Wati. 

Di balik sebuah prestasi, ada cerita perjuangan yang penuh tantangan. Begitu juga kisah Sarbila Karlina Wati, mahasiswi Program Studi Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Ar-Raniry yang diwisuda bersama 1.401 wisudawan pada Rapat Senat Terbuka Wisuda Gelombang I Tahun 2025 di Auditorium Prof Ali Hasjmy, Banda Aceh, pada 18-19 Februari 2025. 

Anak dari pasangan Kamarudin dan Rosita kelahiran Kutacane Lama, April 2003 itu tak berhasil menyelesaikan kuliah tanpa menulis skripsi. Dia juga menyelesaikannya dalam waktu yang sangat singkat, yakni masa studi hanya 3,5 tahun dengan IPK 3,86. Bagi anak seorang yang dulunya tukang cuci pakaian dan kini menjadi CS di salah satu rumah sakit, wisuda bukan sekadar perayaan seremoni melainkan puncak dari perjalanan hidup yang baginya hampir terhenti.

Dalam pidatonya saat menyampaikan kesan dan pesan mewakili wisudawan, perempuan yang akrab disapa Bila itu mengenang momen pertama kali masuk ke dunia kampus. Seperti kebanyakan mahasiswa lainnya, dia memulai perjalanan akademiknya dengan semangat tinggi. Namun, dunia perkuliahan ternyata tak semulus yang ia bayangkan. 

Pada semester tiga, Bila menghadapi ujian berat. Keterbatasan ekonomi mengancam kelangsungan kuliahnya. Meski sudah mencoba mendaftar beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) hingga tiga kali, namun gagal. Bahkan, pada libur semester, sang ibu sempat menyarankan agar ia berhenti kuliah saja. 

“Betapa hancurnya hati saya saat itu. Saya sedang semangat-semangatnya kuliah, tetapi pulang ke rumah malah mendapat kabar seperti itu,” kenang Bila dengan suara bergetar dalam pidatonya, Selasa (18/2/2025).

Ketika hampir menyerah, sebuah telepon dari biro akademik UIN Ar-Raniry bagian beasiswa mengubah segalanya. Dia dinyatakan lolos sebagai pengganti penerima beasiswa KIP Kuliah. Keputusan itu datang tepat waktu, memberi harapan baru baginya yang sudah hampir kehilangan arah. Bahkan pihak biro beasiswa menawarkan ongkos perjalanan agar ia bisa kembali ke Banda Aceh. "Saya berangkat malam itu juga. Jika bukan karena beasiswa ini, saya mungkin tidak akan berada di sini hari ini, mengenakan toga kebanggaan untuk kedua orang tua saya," ungkap Bila penuh syukur.

Kisahnya menjadi cermin ketangguhan seorang mahasiswa yang tak pernah menyerah meski menghadapi rintangan besar. Setelah menerima kabar baik itu, ia kembali ke Banda Aceh dengan semangat baru dan melanjutkan perkuliahan hingga akhirnya berhasil meraih gelar sarjana. “Jika saat itu saya menyerah, saya takkan berada di sini hari ini,” ujarnya penuh haru saat mengikuti prosesi wisuda.

Mengakhiri pidatonya, Bila mengutip pesan bijak dari Jalaluddin Rumi, “Jika kau masih merasakan sakit pada dirimu, itu tandanya engkau masih hidup. Tetapi jika kau merasakan sakit yang dirasakan orang lain, itu tandanya engkau manusia.” 

Dia juga mengajak rekan-rekannya untuk menjaga marwah almamater dan memberikan manfaat bagi masyarakat. “Mimpi itu gratis, pilihlah yang paling mahal,” kata Bila. Anak pertama dari dua bersaudara itu juga bercita-cita ingin melanjutkan S2 di Prodi Magister Manajemen dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan beasiswa LPDP jika diberi kesempatan. "Insya Allah rencana mau ikut beasiswa LPDP ke UGM, mohon doa ya," tutur Bila.(rn)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved