Selasa, 5 Mei 2026

Berita Lhokseumawe

Sore Ini Dilakukan Pemantauan Hilal, Aceh jadi Penentu Awal Ramadhan

data hilal di Indonesia untuk penentuan awal Ramadhan 1446 H saat Matahari terbenam Jumat 28 Februari 2025 atau 29 Syakban 1446 H

Tayang:
Editor: mufti
For Serambinews.com
Ahli Ilmu Falak Aceh, yang juga Ketua Jurusan Ilmu Falak Fakultas Syariah IAIN Lhokseumawe, Dr Tgk Ismail SSy MA, menjelaskan untuk menentukan awal bulan Hijriah  ada tiga data yang perlu diketahui secara astronomis.  

“Jadi, bila hilal tidak berhasil diamati di lokasi yang sudah ditetapkan di Provinsi Aceh, maka besar kemungkinan hasil sidang isbat awal Ramadhan 1446 H berpotensi Ahad 2 Maret 2025.” TGK ISMAIL, Ketua Jurusan Ilmu Falak IAIN Lhokseumawe

SERAMBINEWS.COM, LHOKSEUMAWE - Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) akan melakukan sidang isbat penetapan awal Ramadhan 1446 H, pada Jumat (28/2/2025) sore, yang bertepatan pada 29 Syakban 1446 H. Peserta sidang isbat dihadiri oleh anggota hisab rukyat Kemenag, perwakilan ormas Islam, perwakilan instansi terkait, dan perwakilan negara sahabat. 

Pokok pembahasan dalam sidang isbat adalah kondisi hilal secara astronomis, menunggu laporan hasil rukyah hilal dari titik rukyah hilal seluruh Indonesia, dan menetapkan awal bulan Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah.

Ketua Jurusan Ilmu Falak Fakultas Syariah IAIN Lhokseumawe, Dr Tgk Ismail SSy MA, Kamis (27/2/2025), menjelaskan, dalam penetapan awal Ramadhan 1446 H, Kementerian Agama telah menetapkan 125 lokasi rukyah hilal dari Sabang sampai Merauke, dimana 6 titik di antaranya berada di Provinsi Aceh.

“Aceh memiliki 6 titik pengamatan resmi yang akan menyumbang informasi kepada tim sidang isbat terhadap terlihat atau tidak terlihat hilal di saat pengamatan hilal pada hari Jumat 28 Februari 2025,” kata Tgk Ismail.

Lebih lanjut dijelaskannya, data hilal di Indonesia untuk penentuan awal Ramadhan 1446 H saat Matahari terbenam Jumat 28 Februari 2025 atau 29 Syakban 1446 H adalah sebagai berikut:

Pertama, konjungsi geosentrik atau ijtma’ yaitu peristiwa ketika nilai bujur ekliptika Bulan sama dengan nila ekliptika Matahari dengan diandaikan pengamat berada di pusat Bumi. Peristiwa ini kembali terjadi pada Jumat 28 Februari 2025 pukul 07.44.38 Wib.

Kedua, tinggi hilal di atas ufuk barat pada hari Jumat tanggal 28 Februari 2025 M atau 29 Syakban 1446 H saat Matahari terbenam diseluruh Indonesia berkisar antara 04 derajat 40 menit 25 detik busur (tertinggi) di Sabang, sampai dengan 03 derajat 00 menit 21 detik busur (terendah) di Merauke.

Ketiga, sudut elongasi Bulan adalah jarak sudut antara pusat piringan Bulan dengan pusat piringan Matahari yang terbentuk saat Matahari terbenam di tempat pengamatan. Nilai sudut elogasi Bulan saat Matahari terbenam pada hari Jumat 28 Februari 2025 atau 29 Syakban 1446 H diseluruh Indonesia berkisar antara 06 derajat 24 menit 37 detik busur (paling besar) di Lhoknga Aceh, sampai 04 derajat 47 menit 19 detik busur (paling kecil) di Waris, Papua.

Dari data tersebut, ujar Tgk Ismail, dapat disimpulkan bahwa kondisi hilal di seluruh Indonesia sudah wujud di atas ufuk saat Matahari terbenam Jumat 28 Februari 2025 atau 29 Syakban 1446 H.  Namun perlu diketahui bahwa kondisi hilal di Indonesia yang sudah terpenuhi kriteria MABIMS saat Matahari terbenam Jumat 28 Februari 2025 atau 29 Syakban 1446 H hanya di sebahagian daratan Provinsi Aceh, yaitu di seputaran  Banda Aceh, Calang, Lhoknga, dan Sabang. Selain daerah tersebut, seluruh Indonesia kondisi hilal belum terpenuhi kriteria MABIMS.

“Jadi, bila hilal tidak berhasil diamati di lokasi yang sudah ditetapkan di Provinsi Aceh, maka besar kemungkinan hasil sidang isbat awal Ramadhan 1446 H berpotensi Ahad 2 Maret 2025 dengan menggenapkan jumlah bilangan bulan Syakban 1446 H berjumlah 30 hari," katanya.

Namun bila hilal berhasil diamati dan diterima kesaksiaannya, maka awal Ramadhan 1446 H hari Sabtu 1 Maret 2025. "Jadi keberhasilan atau kegagalan rukyah hilal di Aceh sangat berpengaruh pada penetapan awal Ramadhan 1446 H di Indonesia," tambah Tgk Ismail lagi.

Ditambahkannya, bila dilihat dari segi kesiapan rukyah hilal di Aceh, kegagalan rukyah hilal biasanya diakibatkan oleh cuaca yang kurang mendukung. "Cuaca mendung bahkan sering disertai hujan saat waktu rukyah hilal di Aceh, hal ini sangat wajar mengingat Aceh termasuk salah satu daerah yang beriklim ekuatorial dengan kondisi cuaca dua kali puncak musim hujan dan dua kali puncak musim kemarau dalam setahun," pungkasnya.

Terpisah, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Abu Rokhmad, menyampaikan bahwa sidang akan berlangsung di Auditorium HM Rasjidi, Kementerian Agama, Jalan MH Thamrin No 6, Jakarta Pusat. Sidang yang dijadwalkan akan dipimpin oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar ini akan menentukan awal bulan puasa bagi umat Islam di Indonesia. 

"Seperti tahun-tahun sebelumnya, sidang ini akan dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk perwakilan ormas Islam, MUI (Majelis Ulama Indonesia), BMKG, ahli falak, serta perwakilan dari DPR dan Mahkamah Agung," ujar Abu Rokhmad, dikutip dari laman Kemenag.

Abu Rokhmad menuturkan, ada tiga rangkaian yang akan dilakukan dalam sidang isbat. Pertama, pemaparan data posisi hilal berdasarkan perhitungan astronomi. Kedua, verifikasi hasil rukyatul hilal dari berbagai titik pemantauan di Indonesia. "Ketiga, musyawarah dan pengambilan keputusan yang akan diumumkan kepada publik," ujarnya. 

Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah (Urais Binsyar) Ditjen Bimas Islam Kemenag, Arsad Hidayat, menambahkan bahwa berdasarkan data hisab awal Ramadhan 1446 H, ijtimak terjadi pada Jumat, 28 Februari 2025, sekitar pukul 07.44 WIB. Pada hari yang sama, ketinggian hilal di seluruh wilayah Indonesia sudah di atas ufuk antara 3° 5,91’ hingga 4° 40,96’, dengan sudut elongasi antara 4° 47,03’ hingga 6° 24,14’. 

"Dengan kriteria ini, secara astronomi, ada indikasi kuat bahwa hilal akan terlihat. Namun, keputusan akhirnya kita tunggu berdasarkan hasil sidang isbat yang akan diumumkan Menteri Agama," kata Arsad.(bah)

 

Ada yang Mulai Berpuasa Sejak Kemarin

PENETAPAN 1 Ramadhan 2025 versi pemerintah, NU dan Muhammadiyah tahun ini berpeluang berbeda. Bahkan, sebagian umat Islam di Indonesia malah ada yang mulai berpuasa terhitung sejak Kamis (27/2/2025) kemarin.

Nahdlatul Ulama (NU) hingga kini memang belum mengumumkan tanggal resmi awal Ramadhan 2025. Tetapi NU cenderung mengikuti hasil keputusan sidang isbat dari pemerintah yang digelar oleh Kementerian Agama.

Sementara Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah resmi menetapkan 1 Ramadhan 1446 Hijriah bertepatan dengan 1 Maret 2025 Masehi. Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Sayuti, dalam konferensi pers menuturkan bahwa penerapan ini sesuai dengan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). 

"Berdasarkan hasil hisab, maka Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan, 1 Ramadhan 1446 H jatuh pada hari Sabtu, 1 Maret 2025," ucapnya.

Selain itu, PP Muhammadiyah juga mengumumkan hari raya Lebaran atau Idul Fitri 1 Syawal 1446 Hijriah yang bertepatan pada Senin, 31 Maret 2025. "Di wilayah Indonesia, 1 Syawal 1446 Hijriah jatuh pada Senin, 31 Maret 2025," kata Sayuti.

Terjadinya perbedaan penetapan awal Ramadhan ini merupakan hal yang wajar, karena hasil dari perbedaan metode yang digunakan dalam menentukan awal bulan Ramadhan ini tidak sama. Ini juga bukan kali pertama awal puasa Ramadhan di Indonesia berbeda. Tahun lalu pun, awal puasa Ramadhan di Indonesia juga berbeda satu hari.

Mulai Puasa

Selain itu, sebagian umat Islam di Indonesia dilaporkan sudah mulai berpuasa sejak Kamis (27/2/2025) kemarin, di antaranya Jamaah Tarekat Naqsabandiyah di beberapa wilayah Sumatera Barat (Sumbar), pengikut Tarekat Syattariyah Abu Muda Seunagan di Aceh, dan warga Negeri Wakal, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku.

Dikutip dari CNN Indonesia, Cucu Abu Muda Seunagan, Abu Said Kamaruddin mengatakan, penetapan awal Ramadan itu setelah pihaknya bersama para ulama pengikut tarekat menyepakati 1 Ramadan 1446 Hijriah jatuh pada hari Kamis (27/2/2025).

Ia menjelaskan, untuk menentukan awal Ramadan mereka memiliki hisab sendiri, misalnya ada hisab bilangan lima serta lima tahun bilangan naik. Berdasarkan hisab hitungan lima, jumlah puasa genap 30 hari. "Kamis mulai puasa. Ini hasil kesepakatan para ulama dan teungku-teungku dayah," katanya saat dikonfirmasi.

Para pengikut tarekat Syattariah yang mengikuti ajaran Habib Muda Seunagan ini tersebar di berbagai daerah di Aceh, tidak hanya di Nagan Raya tetapi juga di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Aceh Barat, Gayo Lues hingga Pidie. 

Said berharap pengikut tarekat tersebut turut menghormati jamaah lain yang belum berpuasa hari ini. "Ibadah puasa ini hendaknya dijalani dengan penuh kesungguhan. Jaga lisan dan perbuatan agar tidak membatalkan puasa, sehingga ibadah yang kita lakukan mendapat rahmat dan ridha Allah," katanya.(kompas/cnnindonesia)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved