Selasa, 5 Mei 2026

Ramadan 2025

Ini Dia Tradisi Ramadhan di Berbagai Dunia, Dari Drum Ottoman hingga Lentera Berwarna

Bagi sekitar 1,8 miliar umat Muslim di seluruh dunia, bulan suci ini adalah waktu untuk berdoa, memberi, dan mempraktikkan pengendalian diri, dengan b

Tayang:
Penulis: Sri Anggun Oktaviana | Editor: Nur Nihayati
Chat GPT
ILUSTRASI -Berikut merupakan tradisi Ramadhan di berbagai  Dunia 

Ini Dia Tradisi Ramadhan di Berbagai  Dunia, Dari Drum Ottoman hingga Lentera Berwarna

SERAMBINEWS.COM-Ramadan adalah bulan kesembilan dalam kalender Islam yang dipenuhi dengan makna spiritual dan kebersamaan.

Biasanya berlangsung selama 29-30 hari, tergantung pada penampakan bulan.

Bagi sekitar 1,8 miliar umat Muslim di seluruh dunia, bulan suci ini adalah waktu untuk berdoa, memberi, dan mempraktikkan pengendalian diri, dengan berpuasa dari fajar hingga senja.

Namun, meskipun semua umat Muslim menjalankan ibadah puasa, tradisi dan cara merayakan Ramadan sangat bervariasi di berbagai negara.

Dari Turki hingga Indonesia, setiap negara memiliki kebiasaan unik yang membawa warna tersendiri bagi bulan suci ini.

 Mari kita jelajahi beberapa tradisi Ramadan di berbagai negara, serta bagaimana mereka merayakan bulan penuh berkah ini dengan cara mereka sendiri.

Baca juga: Gegara Ketiduran hingga Belum Mandi Junub Sampai Lewat Waktu Subuh, Sah Puasanya?Ini Kata Buya Yahya

Tradisi Ramadan di Turki: Suara Drum Ottoman yang Menggugah

Jika Anda berkunjung ke Turki selama Ramadan, Anda akan merasakan suasana yang sangat meriah. Tradisi Ramadan di negara ini sudah ada sejak zaman Kekaisaran Ottoman.

Pada masa itu, sebelum ada jam alarm, penabuh drum berkeliling di jalan-jalan untuk membangunkan orang-orang untuk sahur, makanan yang dimakan sebelum fajar.

Yang menarik, para penabuh drum ini mengenakan kostum tradisional Ottoman, lengkap dengan fez dan rompi, memberikan sentuhan sejarah yang unik pada tradisi ini.

Selain sahur, berbuka puasa di Turki juga dipenuhi dengan manisan khas seperti baklava dan kue kering.

Setiap keluarga memiliki resep istimewa yang diwariskan turun-temurun.

Jika Anda berada di pasar-pasar Turki, Anda akan menemukan berbagai pilihan makanan manis yang menggugah selera, yang menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi berbuka puasa di negara ini.

Tradisi Ramadan di Mesir: Lentera Fanous yang Memeriahkan Jalanan

Di Mesir, Ramadan adalah festival penuh warna. Salah satu tradisi paling ikonik adalah penggunaan lentera warna-warni yang dikenal dengan nama fanous.

Tradisi ini bermula pada abad ke-10 hingga ke-12, ketika penduduk Kairo menyalakan lilin di jalan untuk menyambut pemimpin yang datang pada hari pertama Ramadan.

Seiring waktu, lilin-lilin ini berevolusi menjadi lentera berpola indah yang dipasang di jalan-jalan. Anak-anak juga sering membawa lentera ini sambil bernyanyi dan meminta permen.

Tidak hanya lentera yang menjadi ciri khas Ramadan di Mesir, tetapi juga semangat kebersamaan yang terjalin saat berbuka puasa.

Masyarakat Mesir sangat antusias dengan berbuka puasa, dan berbagai hidangan lezat seperti fattah (nasi dengan daging dan saus tomat) menjadi sajian utama saat berbuka.

Tradisi Ramadan di Uni Emirat Arab: Haq al Laila dan Hidangan Harees


Di Uni Emirat Arab (UEA), tradisi Ramadan juga memiliki warna tersendiri.

Sebulan sebelum Ramadan, pada tanggal 15 Sha'ban, masyarakat merayakan haq al laila, yang mirip dengan tradisi trick or treat di Barat.

Anak-anak mengenakan pakaian cerah dan berkeliling lingkungan untuk mengumpulkan permen dan kacang-kacangan.

Namun, tidak hanya itu, UEA juga memiliki hidangan khas untuk berbuka puasa, salah satunya adalah harees, yaitu gandum rebus yang dibumbui dengan daging.

Hidangan ini memberikan kehangatan dan kenikmatan saat berbuka, menggambarkan betapa pentingnya berbagi dan kebersamaan di bulan Ramadan.

Tradisi Ramadan di Maroko: Nafar dan Hidangan Berbuka yang Menggugah

Di Maroko, ada tradisi unik yang mirip dengan penabuh drum di Turki, yaitu nafar.

Nafar bertugas membangunkan masyarakat untuk sahur dengan cara yang khas: menyanyikan lagu-lagu doa sambil berjalan di jalanan.

Mereka mengenakan pakaian tradisional Maroko dan tidak hanya membangunkan, tetapi juga memberikan suasana sakral dengan lantunan doa.

Berbicara soal berbuka puasa, orang Maroko memulainya dengan makanan ringan seperti kurma dan jus, lalu dilanjutkan dengan hidangan berat seperti harir (sup tomat dengan miju-miju dan rempah), telur rebus, kue kering, dan ikan goreng.

Hidangan-hidangan ini menggambarkan betapa pentingnya berbagi kebahagiaan dalam keluarga dan komunitas saat berbuka puasa.

Tradisi Ramadan di Indonesia: Padusan dan Nyekar sebagai Penyucian Jiwa

Indonesia, dengan mayoritas penduduk Muslim, memiliki tradisi Ramadan yang sangat khas.

Salah satunya adalah padusan, ritual penyucian diri dengan mandi sebagai persiapan sebelum berpuasa. 

Ini adalah cara umat Muslim Indonesia untuk membersihkan tubuh dan jiwa sebelum menjalani ibadah puasa dan doa sepanjang bulan Ramadan.

Selain itu, ada juga tradisi nyekar, yang dilakukan oleh umat Islam Jawa.

Mereka percaya bahwa Ramadan adalah waktu untuk memulai siklus kehidupan baru, dan oleh karena itu, mereka melakukan salat dan menghormati orang-orang yang telah meninggal dengan mengunjungi makam dan berdoa.

Tradisi Ramadan di Lebanon: Meriam untuk Menandai Berbuka Puasa


Di Lebanon, salah satu tradisi tertua dan paling khas adalah midfa al iftar, yang melibatkan penembakan meriam saat matahari terbenam untuk memberi tahu orang-orang bahwa sudah waktunya berbuka puasa.

 Konon, tradisi ini bermula dari Mesir, ketika seorang penguasa secara tidak sengaja menembakkan meriam pada saat matahari terbenam, dan akhirnya menjadi tradisi yang dinantikan setiap hari selama Ramadan.

Lebanon bahkan memiliki meriam bersejarah khusus untuk tujuan ini, dan saat berbuka, masyarakat merayakan dengan hidangan lezat seperti mahshe (sayuran yang diisi dengan daging atau nasi) yang sangat populer di bulan Ramadan.

Baca juga: Gegara Ketiduran hingga Belum Mandi Junub Sampai Lewat Waktu Subuh, Sah Puasanya?Ini Kata Buya Yahya

Tradisi Ramadan di Pakistan: Chaand Raat dan Hidangan Berbuka yang Nikmat


Di Pakistan, Ramadan sangat dihargai, dan berbuka puasa adalah momen yang sangat spesial. Makanan khas yang disajikan saat berbuka antara lain samosa, pakora, serta minuman herbal beraroma mawar yang menyegarkan.

 Sebagai tanda berakhirnya Ramadan, masyarakat Pakistan merayakan chaand raat, yakni malam terakhir Ramadan yang dipenuhi dengan perayaan.

 Para wanita menghias tangan mereka dengan henna, sementara toko-toko dipenuhi dengan aksesoris berwarna-warni.

Selain itu, saat berbuka puasa, hidangan lezat seperti dahi puri dan chana chaat menjadi favorit, menyatukan keluarga dan teman-teman dalam kehangatan kebersamaan.

Tradisi Ramadan di Bangladesh: Makanan Manis dan Suasana Meriah


Di Bangladesh, Ramadan dirayakan dengan penuh keceriaan, dengan jalan-jalan dihiasi lampu dan dekorasi.

Di setiap rumah, berbuka puasa menjadi momen penuh kehangatan dengan hidangan istimewa seperti jilapi (makanan manis), piazu (gorengan berbahan bawang), dan beguni (terong goreng).

Semua makanan ini disiapkan untuk dibagikan bersama keluarga dan sahabat saat berbuka puasa.

Baca juga: Jet Tempur Korsel Salah Jatuhkan Bom di Pemukiman saat Latihan Militer, 15 Orang Terluka

(Serambinews.com/Sri Anggun Oktaviana)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved