Opini

Ramadhan “Oplosan”: Budaya Konsumtif

Namun sayangnya masih ada sebagian dari umat Islam yang justru terjebak pada gaya hidup konsumtif. Kegembiraan ini terwujud dalam bentuk hidangan saat

Editor: Ansari Hasyim
Google
FERI IRAWAN, S.Si., M.Pd., Kepala SMK Negeri 1 Jeunieb dan Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Daerah Bireuen, melaporkan dari Jeunieb, Kabupaten Bireuen 

Begitu beragamnya tradisi turun-temurun yang masih dirasakan hingga saat ini di bulan Ramadan, dimulai dari berburu takjil, bukber, hingga membeli baju lebaran. Praktik Ramadhan oplosan ini menggambarkan bagaimana nilai-nilai spiritual tercemar dengan budaya konsumtif. Nabi pernah mengingatkan, “Betapa banyak orang berpuasa tetapi hanya mendapat lapar dan haus semata”.

Islam sebagai agama yang bersifat fleksibel tentu sangat memperhatikan hal-hal substansial bagi umat manusia. Termasuk aturan menjaga pola konsumsi terhadap makanan dengan tidak melakukan pemborosan pangan. Menjadi sangat penting bagi manusia untuk menjaga pola konsumsi dengan misalnya membeli makanan secukupnya, tidak membuang-buang makanan, hingga mengurangi limbah makanan dengan memanfaatkannya sebagai kompos.   

Dalam Islam perilaku konsumtif jelas dilarang karena perilaku tersebut dapat mengakibatkan sifat sombong, riya dan mubazir. Di sisi lain Rasulullah SAW telah memberikan teladan hidup sederhana meskipun ia juga dikenal sebagai saudagar sukses.

Di tengah ketercukupan, Rasulullah SAW justru memilih gaya hidup sederhana. Misalnya saja dari pakaian yang dikenakan, makanan yang dimakan, tempat tinggal dan bahkan segala hal yang ada dalam dirinya adalah bentuk kesederhanaan yang perlu diteladani.

Contoh Kesederhanaan Rasulullah

Rasulullah memberikan contoh yang baik tentang kesederhanaan mulai dari tempat tidurnya, pakaian, sandal dan gelasnya.

Suatu ketika Umar bin Khattab menangis ketika melihat keadaan Nabi Muhammad SAW yang tidur hanya dengan beralaskan tikar. Bagaimana bisa seorang Rasul dan pemimpin umat harus tidur dalam keadaan yang begitu sederhana. 

Berikut kesederhanaan yang bisa kita teladani dari gaya hidup minimalis Rasulullah. 
Pertama, membeli barang sesuai kebutuhan saja, bukan karena keinginan dan mengikuti setiap trend yang ada.

Kedua, menyedekahkan barang layak yang tidak terpakai, bisa dengan didonasikan atau didaur ulang. Jadi kita bisa menggunakan barang sesuai dengan kebutuhan saja.

Ketiga, mencatat keperluan sebelum membelinya. 

Keempat, tidak memiliki banyak barang untuk satu jenis barang yang sama. Memiliki hobi mengoleksi barang yang sama terkadang membuat barang tersebut tidak terpakai dan hanya menjadi pajangan saja jadi nilai kebermanfaatannya akan hilang.

Hidup sederhana ala Rasulullah SAW semestinya menjadi teladan, khususnya ketika bulan Ramadan. (ferifodic78@gmail.com)

*) Penulis adalah Kepala SMK Negeri 1 Jeunieb

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved