Opini

Ramadhan “Oplosan”: Budaya Konsumtif

Namun sayangnya masih ada sebagian dari umat Islam yang justru terjebak pada gaya hidup konsumtif. Kegembiraan ini terwujud dalam bentuk hidangan saat

Editor: Ansari Hasyim
Google
FERI IRAWAN, S.Si., M.Pd., Kepala SMK Negeri 1 Jeunieb dan Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Daerah Bireuen, melaporkan dari Jeunieb, Kabupaten Bireuen 

Oleh: Feri Irawan SSi MPd*)

UMAT Islam menyambut bulan Ramadan dengan penuh kegembiraan meskipun harus menahan lapar dari terbitnya fajar hingga tenggelamnya matahari. Puasa mendorong orang untuk berlama-lama di tempat ibadah dan makin intensif melakukan kegiatan-kegiatan sosial, membantu orang-orang yang kesulitan secara ekonomi. Puasa juga menganjurkan untuk banyak-banyak mendekat dengan orang-orang yang susah agar rasa empatinya muncul lalu tergerak membantu.

Selain menahan diri dari makan dan minum, kita juga dituntut memperbanyak amalan, seperti membaca Al-Quran, berdoa, berinfaq, dan melakukan amal kebajikan lainnya. Selain itu, juga kemampuan untuk menghindari perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam, seperti mengumpat, berbohong, atau melakukan pencurian, korupsi dan tindakan tercela lainnya.

Namun sayangnya masih ada sebagian dari umat Islam yang justru terjebak pada gaya hidup konsumtif. Kegembiraan ini terwujud dalam bentuk hidangan saat bulan Ramadan yang selalu hadir lebih bervariasi dibandingkan dengan hari biasa. Sebagian orang menjadikan hidangan tersebut sebagai reward karena telah berhasil menjalankan puasa sehari penuh. 

Syahwat Belanja

Fenomena ”gila belanja” atau peningkatan signifikan dalam aktivitas belanja selama bulan Ramadan telah menjadi ciri khas. Realitas ini mencerminkan bagaimana sebagian orang hanya menjalankan puasa sebagai formalitas tanpa benar-benar memahami maknanya. Salah satu penyebabnya bisa jadi adalah pergeseran budaya dan tekanan sosial. Kegiatan konsumsi di bulan Ramadan terkadang dimaknai bukan hanya sebatas pemenuhan kebutuhan pokok yang selaras dengan skala prioritas, namun kerap kali melibatkan strata sosial dan pemenuhan anggapan khalayak.

Alhasil, Ramadan justru menjadi bulan pelampiasan syahwat berbelanja. Padahal Allah SWT tidak menyukai manusia yang boros dan berlebihan. Hal ini dijelaskan dalam Q.S Al-Araf:31. Ayat ini memberikan pesan kepada kita untuk menikmati kenikmatan yang diberikan oleh Allah SWT namun tidak boleh berlebih-lebihan. Sudah sepatutnya kita sebagai seorang muslim untuk berperilaku sesuai dengan porsinya atau sewajarnya, karena sesuatu yang berlebihan itu tidak baik dan dilarang dalam agama. 

Konsumerisme yang justru meningkat pesat di bulan Ramadan menggambarkan betapa puasa tampaknya acap kali kehilangan maknanya. Ramadan telah dikapitalisasi sedemikian rupa untuk menjauhkan (setidaknya melenakan masyarakat) dari pesan-pesan substansial yang diajarkan agama melalui puasa: kesederhanaan, empati, kepekaan sosial, keluhuran budi, kemanusiaan dan spiritualitas.

Masyarakat digiring untuk menjauhi atau tidak memedulikan itu semua kemudian tenggelam dalam ingar-bingar suasana Ramadan yang telah dikapitalisasi dan disulap demi menarik lebih kuat lagi budaya konsumerisme. Meskipun puasa yang esensinya untuk pengendalian, pada kenyataannya mayarakat cenderung lebih konsumtif selama bulan puasa. Sifat konsumtif merujuk pada kecenderungan seseorang untuk membeli dan mengonsumsi barang dan jasa dalam jumlah yang berlebihan atau di luar kemampuannya.

Beberapa perilaku konsumtif umat muslim, terutama remaja, mengalami perubahan yang signifikan dalam berbelanja di bulan Ramadan. Salah satunya adalah dengan cenderung bersikap ingin mengikuti tren yang sedang ada agar dapat tampil menarik dan memenuhi ekspektasi orang lain. Hal itu didukung dengan banyaknya promosi, diskon, bahkan giveaway yang banyak ditawarkan toko online di bulan Ramadan. Tentu sejalan dengan tradisi yang mengharuskan mempunyai baju baru di hari lebaran.

Melalui semarak Ramadan yang banyak diisi dengan iklan-iklan menggiurkan bercitra Islami, masyarakat akan mudah terdikte untuk berbelanja melebihi kapasitas kebutuhan dan mudah disetir oleh hal-hal yang sedang viral. Lagi-lagi, hal ini menjadi tantangan bagi masyarakat Muslim dalam menggunakan teknologi digital.

Kalau mau dilihat dari sejarah. Satu syawal tak layak dijadikan hari berlebihan. Bukannya tidak boleh dirayakan dengan meriah. Tapi tidak dirayakan dengan pemborosan yang tidak berfaedah. Nabi Muhammad SAW dan para sahabat tak pernah mencontohkan hal tersebut.Begitu pula para tabiin maupun ulama ulama terdahulu. Nuansa berlebihan disaat lebaran seperti budaya kapitalis. Dimana cinta dunia begitu kuat. Ibadah menjadi tidak terlalu penting kalah dengan persiapan menyambut lebaran.

Tak hanya itu, di sepanjang bulan Ramadan, umat Islam biasa berburu takjil sembari menunggu waktu magrib. Terkadang perburuan makanan ini dilakukan bukan berdasarkan pada kebutuhan, melainkan keinginan semata akibat rasa lapar, bahkan cenderung berlebihan.

Pembelian takjil yang berlebihan tentu membuat pengeluaran lebih boros karena melakukan pengeluaran yang tidak direncanakan. Tak hanya itu, makanan yang sudah dibeli cenderung dibuang karena kekenyangan.

Selain berburu takjil, buka bersama (bukber) menjadi agenda wajib di bulan Ramadan  yang seringkali menjadi keadaan yang menyimpang. Sering kali orang berlebihan dengan mengonsumsi atau membeli makanan yang terlampau mahal. Padahal beberapa yang lain masih tidak mampu untuk berbuka puasa.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved