Aceh Barat
Para Mualaf di Aceh Barat Berharap Pembinaan dari Pemerintah
Tak sedikit dari mereka yang menghadapi kesulitan ekonomi, bahkan ada yang terpaksa meninggalkan hak-hak materiil dari keluarga...
Penulis: Sadul Bahri | Editor: Eddy Fitriadi
Laporan Sa’dul Bahri | Aceh Barat
SERAMBINEWS.COM, MEULABOH - Mualaf di Kabupaten Aceh Barat mengungkapkan harapan besar mereka agar pemerintah memberikan perhatian khusus terkait pembinaan agama yang berkelanjutan bagi mereka yang baru memeluk agama Islam.
Sejak memutuskan untuk meninggalkan keyakinan lama mereka dan menerima Islam sebagai agama yang mereka yakini, para mualaf ini menghadapi banyak tantangan, termasuk dalam pemahaman ibadah dan kehidupan sebagai seorang Muslim.
Mereka yang tergabung dalam Forum Muallaf Aceh Barat (FMAB) berasal dari berbagai suku, termasuk Nias, Batak, dan Tionghoa. Mereka menyampaikan bahwa selama ini belum ada dukungan anggaran yang memadai untuk pembinaan agama mereka.
Tak sedikit dari mereka yang menghadapi kesulitan ekonomi, bahkan ada yang terpaksa meninggalkan hak-hak materiil dari keluarga mereka setelah memeluk Islam. Namun, demi iman mereka rela meninggalkan segalanya.
Ketua Forum Muallaf Aceh Barat, Tgk Mulkan Sinurat, Kamis (20/3/2025) mengungkapkan harapan mereka bahwa forum ini sangat membutuhkan dukungan dari pemerintah untuk memperkuat pembinaan agama yang berkelanjutan.
“Pembinaan mualaf bukanlah hal sepele, ini tentang keyakinan yang perlu ditangani dengan serius. Tidak hanya sekedar mengucapkan syahadat dan menjadi Muslim, tetapi perlu pembinaan agar mereka bisa menjalankan ajaran agama dengan baik dan benar,” ujar Tgk Mulkan dengan penuh harap.
Dikatakannya, bahwa selain kurangnya anggaran untuk operasional, para mualaf di Aceh Barat juga kesulitan mengikuti pelajaran agama karena keterbatasan biaya perjalanan dan ekonomi. Setiap hari Jumat, mereka melakukan pembelajaran seperti shalat, iqra, dan membaca Alquran, namun tak jarang sebagian dari mereka tidak bisa hadir karena kesulitan finansial. Hal ini membuat proses pembinaan menjadi terhambat dan tidak maksimal.
Tgk Mulkan juga menyampaikan keprihatinannya atas beberapa anggota forum yang kembali ke agama semula (murtad) karena kurangnya pembekalan spiritual yang terus menerus. Ia menekankan pentingnya pembinaan yang berkelanjutan untuk membantu mereka agar tidak kehilangan keyakinan.
“Selama enam tahun, FMAB sempat vakum dan tidak ada pembinaan untuk para mualaf. Pembinaan yang ada selama ini dilakukan secara mandiri, tanpa adanya dukungan dari pihak luar. Baru tahun lalu, organisasi ini diaktifkan kembali, dan saya dipercaya untuk menjadi ketua,” jelas Tgk Mulkan.
Dengan adanya peninjauan dari pemerintah, diharapkan bisa diketahui apa saja tantangan yang dihadapi para mualaf, serta menemukan solusi untuk pembinaan yang lebih baik dan lebih merata. Pemerintah, menurut Tgk Mulkan, bisa memberikan perhatian khusus melalui lembaga terkait, agar para mualaf dapat lebih mudah memahami ajaran Islam dan berintegrasi dengan masyarakat Muslim di sekitarnya.
Harapan besar pun disampaikan kepada pemerintah untuk mengalokasikan dana dan sumber daya untuk mendukung keberlanjutan pembinaan agama bagi para mualaf. Pembinaan yang baik, menurut mereka, tidak hanya akan membantu dalam aspek spiritual, tetapi juga dalam membangun kehidupan yang lebih baik di tengah-tengah masyarakat. Mualaf membutuhkan dukungan untuk menjadi bagian yang utuh dalam komunitas Muslim, dan ini hanya bisa tercapai jika ada pembinaan yang sistematis dan terencana.
Mualaf di Aceh Barat membutuhkan perhatian dan dukungan lebih dari pemerintah. Dengan langkah nyata, mereka berharap bisa terus memperdalam ajaran Islam dan hidup berdampingan dengan damai dalam komunitas yang mereka pilih.(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.