Opini

Berkah UMKM di Bulan Ramadhan

Sebagaimana kita ketahui, selama bulan puasa banyak UMKM yang berjualan, bahkan yang sebelumnya di bulan lain tidak pernah berjualan. Adapun produk ya

Editor: Ansari Hasyim
IST
Nasrul Hadi, dosen Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala. 

Selain itu, selama Ramadhan konsumen lebih memilih belanja secara online untuk efektifitas dan efisiensi. Maka perlu bagi UMKM memanfaatkan platform digital seperti e-commerce, media sosial bahkan aplikasi delivery seperti yang sudah disinggung di atas untuk menjangkau pasar lebih luas serta sistem pembayaran online yang memudahkan transaksi sehingga konsumen tanpa harus membayar secara manual.

Ketiga, mengelola stok dan produksi dengan cermat. Karena banyak permintaan yang biasa terjadi selama Ramadhan, maka perlu bagi UMKM untuk mengelola stok dan produksinya. Jangan sampai karena tingginya permintaan produk, namun persediaan terbatas, atau sebaliknya terlalu banyaknya persediaan sehingga terjadi pemborosan. Maka penting bagi UMKM membuat perencanaan yang tepat, memprediksi permintaan, mengatur jadwal dan jumlah produksi sehingga kebutuhan konsumen bisa tercukupi tanpa harus merugi.

Dampak ekonomi

Tidak hanya bagi UMKM, momen Ramadhan juga diharapkan berdampak bagi pertumbuhan ekonomi di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian. Secara historis, dari tahun ke tahun, Ramadhan dan Idul Fitri selalu berkontribusi mempercepat perputaran ekonomi nasional. Hal ini karena besaran pengeluaran untuk konsumsi masyarakat di periode tersebut cenderung lebih tinggi daripada hari-hari biasa. 

Maka wajar, ketika momen Ramadhan memiliki nilai ekonomi tersendiri. Tentu ini bisa dilihat dari semakin besarnya anggaran belanja masyarakat selama periode Ramadhan. Selama Ramadhan, pegawai negeri maupun karyawan swasta biasanya mendapatkan tunjangan hari raya (THR) yang bisa digunakan untuk berbelanja. Bagi kelompok masyarakat kurang mampu juga merasakan manfaatnya dari meningkatnya pengeluaran sosial yang diperoleh mereka, karena Ramadhan merupakan bulan dimana banyak masyarakat muslim melakukan sedekah. 

Jika berkaca pada tahun 2024 lalu, mengutip bisnis.com, konsumsi rumah tangga pada kuartal pertama 2024 mencatatkan pertumbuhan sebesar 4,91 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), salah satunya ditopang oleh naiknya permintaan masyarakat saat periode Ramadhan. Plt. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan bahwa pertumbuhan konsumsi rumah tangga kuartal pertama 2024 tersebut merupakan yang tertinggi sejak pandemi Covid-19 terjadi.

Sementara pada Lebaran 2023, momentum Lebaran turut mengakselerasi pertumbuhan ekonomi triwulan II-2023 sebesar 5,17 persen secara tahunan. Tahun sebelumnya pada Lebaran 2022, pertumbuhan ekonomi triwulan II-2022 yang bertepatan dengan perayaan Idul Fitri tumbuh 5,44 persen secara tahunan (Kompas.com). 

Maka wajar jika momen Ramadhan hingga perayaan Idul Fitri selalu menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi di Indonesia, mengingat masih tingginya ketergantungan putaran roda ekonomi nasional terhadap aktivitas konsumsi masyarakat.

Kita berharap Ramadhan dan Lebaran tahun 2025 ini tidak hanya berdampak terhadap UMKM tetapi juga terhadap ekonomi masyarakat secara umum.  Apalagi ketika menjelang lebaran nanti, adanya tradisi mudik dan serta ada rekreasi  di periode libur lebaran, juga ikut mendorong perekonomian.

Jutaan orang yang bepergian menuju kampung halaman maupun destinasi wisata, mengalirkan rezeki ke berbagai sektor, mulai dari transportasi, penginapan, rumah makan, hingga pedagang souvenir dan oleh-oleh. UMKM pun berjaya.

*) Penulis adalah dosen Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved