Konflik Palestina dan Israel
Gaza Hadapi Tragedi Mengerikan! Krisis Anak Yatim Terbesar dalam Sejarah Modern!
Selain itu, Israel juga menahan lebih dari 1.055 anak Palestina sejak 7 Oktober 2023, sebagian besar di Tepi Barat, dalam apa yang digambarkan sebagai
Penulis: Sri Anggun Oktaviana | Editor: Mursal Ismail
SERAMBINEWS.COM-Puluhan ribu anak Palestina telah kehilangan orang tua mereka sejak perang Israel dimulai di Jalur Gaza yang terkepung.
Dilansir dari kantor berita Al-jazeera (3/4/2025), menurut laporan Biro Pusat Statistik Palestina, pada hari Kamis malam, menjelang peringatan Hari Anak Palestina, terungkap bahwa sebanyak 39.384 anak di Gaza telah kehilangan salah satu atau kedua orang tuanya akibat serangan Israel yang sudah berlangsung selama 534 hari.
Serangan ini telah menghancurkan hampir seluruh wilayah Gaza dan memaksa sebagian besar dari 2,3 juta penduduknya untuk mengungsi.
Biro Pusat Statistik Palestina juga melaporkan bahwa sekitar 17.000 anak telah kehilangan kedua orang tuanya sejak Oktober 2023, ketika Israel melancarkan serangan besar-besaran yang mereka sebut sebagai upaya untuk menghancurkan Hamas, namun justru menargetkan warga sipil, termasuk anak-anak.
Anak-anak yang selamat hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.
Banyak dari mereka terpaksa berlindung di tenda-tenda yang rusak atau di rumah-rumah yang hancur, sementara hampir tidak ada perawatan sosial atau dukungan psikologis yang tersedia bagi mereka.
Biro Pusat Statistik Palestina bahkan menyebutkan bahwa Gaza saat ini tengah menghadapi "krisis anak yatim terbesar dalam sejarah modern."
Selain itu, data menunjukkan bahwa setidaknya 17.954 anak telah tewas akibat serangan udara Israel, termasuk 274 bayi yang baru lahir dan 876 bayi di bawah usia satu tahun.
Kondisi di Gaza sangat buruk, dengan beberapa anak juga meninggal akibat kedinginan di tenda-tenda yang menampung pengungsi.
Ada pula yang meninggal akibat kelaparan dan kekurangan gizi. Sebanyak 52 anak lainnya tewas karena kekurangan gizi yang sangat parah.
Biro Pusat Statistik Palestina juga memperingatkan bahwa 60.000 anak kini berisiko meninggal dunia akibat kelaparan dan kekurangan gizi yang semakin memburuk.
Ini terjadi karena Israel telah menutup perbatasan Gaza, mencegah bantuan kemanusiaan masuk, termasuk bahan makanan, bahan bakar, dan pasokan medis yang sangat dibutuhkan oleh penduduk Gaza.
Sejak serangan Israel dilanjutkan setelah gencatan senjata yang rapuh pada Januari, Israel telah menutup titik-titik penyeberangan perbatasan yang sangat penting.
Tindakan ini membuat pasokan bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan terhalang, sementara toko-toko roti juga dipaksa tutup karena tidak ada tepung yang bisa masuk.
Pemerintah Gaza mengutuk kebijakan ini dan menuduh Israel telah menerapkan kebijakan “kelaparan sistematis” dengan menghentikan masuknya bantuan makanan, yang berdampak sangat buruk pada warga Gaza, terutama anak-anak.
Biro Pusat Statistik Palestina juga melaporkan bahwa anak-anak dan remaja, yang berusia di bawah 18 tahun, membentuk sekitar 43 persen dari total populasi Palestina yang berjumlah 5,5 juta orang di Gaza dan Tepi Barat yang diduduki.
Hal ini menunjukkan betapa besarnya dampak dari kekerasan ini terhadap generasi muda Palestina.
Dalam laporan terbarunya, Kementerian Kesehatan Gaza mengungkapkan bahwa sejak 18 Maret, pasukan Israel telah membunuh lebih dari 1.160 warga Palestina di Gaza, dan sejak Oktober 2023, sebanyak 50.523 warga Palestina telah tewas, sebagian besar di antaranya adalah wanita dan anak-anak. Angka ini terus meningkat seiring dengan berlanjutnya serangan militer Israel.
Selain itu, Israel juga menahan lebih dari 1.055 anak Palestina sejak 7 Oktober 2023, sebagian besar di Tepi Barat, dalam apa yang digambarkan sebagai eskalasi kekerasan terhadap anak-anak Palestina yang “belum pernah terjadi sebelumnya.”
Dari jumlah tersebut, lebih dari 350 anak masih ditahan di penjara Israel.
Keadaan ini menambah penderitaan yang dialami oleh anak-anak di Palestina, yang hidup dalam ketakutan dan kekurangan, jauh dari perlindungan yang seharusnya mereka terima.
Secara keseluruhan, situasi di Gaza sangat tragis. Anak-anak yang seharusnya menikmati masa kecil yang damai kini harus menghadapi kekerasan, kehilangan orang tua, dan kondisi hidup yang sangat sulit.
Dunia internasional terus menyerukan agar bantuan kemanusiaan dapat masuk dan agar gencatan senjata yang lebih permanen dapat segera tercapai, namun hingga saat ini, kondisi di Gaza tetap memprihatinkan dan tidak ada tanda-tanda adanya perbaikan yang signifikan.
Baca juga: Trump Serang Dunia: Tarif Timbal Balik Terbesar dalam Sejarah, Mengguncang Perdagangan Global!
(Serambinews.com/ Sri Anggun Oktaviana)
| Pemukim Israel Masuk Al-Aqsa Dikawal IOF, Ketegangan Meluas hingga Yerusalem dan Tepi Barat |
|
|---|
| Setelah Berbulan-bulan Ditutup, Rafah Gaza-Mesir Akhirnya Dibuka, Tapi Ada Syaratnya |
|
|---|
| Hamas Ingin Tetap Kuasai Keamanan Gaza, Tak Bisa Janjikan Pelucutan Senjata |
|
|---|
| Pengakuan Jurnalis Palestina, Saleh Aljafarawi Sebelum Gugur di Gaza: Saya Hidup dalam Ketakutan |
|
|---|
| Pengakuan Aktivis GSF Gaza: Disiksa di Sel Israel sebelum Akhirnya Dideportasi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/korban-gaza-11122024.jpg)