Sabtu, 9 Mei 2026

Kupi Beungoh

Lebaran: Ajari Anak Memberi, Bukan Meminta

Kita merayakan satu hari suci, tapi secara tak sadar sedang membangun karakter ketergantungan massal. Mental menanti. Mental menagih.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Agus Ramadhan
FOR SERAMBINEWS.COM
Tgk. Alwy Akbar Al Khalidi, SH., MH 

*) Oleh: Tgk. Alwy Akbar Al Khalidi, SH, MH

SETIAP Idul Fitri tiba, anak-anak ramai membanjiri rumah-rumah tetangga.

Bukan untuk mendengar petuah orang tua. Bukan pula untuk menyambung silaturahmi.

Mereka datang dengan misi sederhana namun disayangkan: mengumpulkan THR.

Tangan kecil mereka menyodorkan salam. Senyum manis, basa-basi seperlunya. Lalu pamit, pindah ke rumah berikutnya.

Seolah lebaran adalah semacam “ritual ekonomi miniatur”, di mana yang tua harus membayar, yang muda menerima, dan siapa yang membawa pulang amplop paling tebal jadi pemenangnya.

Lucu? Mungkin.

Tapi jika kita jujur, ini bukan kelucuan. Ini kekacauan nilai yang ditanamkan sejak dini, lalu terus membesar hingga mereka tumbuh dewasa.

Membiasakan anak-anak meminta saat lebaran adalah bentuk kegagalan kita sebagai masyarakat.

Kita merayakan satu hari suci, tapi secara tak sadar sedang membangun karakter ketergantungan massal. Mental menanti. Mental menagih.

Padahal Islam datang membawa semangat sebaliknya. Memberi, bukan meminta.

Rasulullah SAW bersabda: “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bukan karena posisi tangan itu lebih tinggi. Tapi karena nilai yang terkandung di dalamnya: keberdayaan, kemandirian, dan keikhlasan.

Nilai-nilai yang justru hari ini makin langka di tengah masyarakat yang gemar menuntut namun enggan berkontribusi.

Fenomena “anak berburu THR” bukanlah soal receh. Ia adalah puncak dari gunung es pembiasaan jangka panjang: bahwa menerima adalah budaya, bahwa meminta adalah hak, dan bahwa lebaran adalah momen memanen uang, bukan momen memanen nilai.

Apakah kita tidak boleh memberi anak-anak THR? Tentu boleh. Bahkan memberi itu bagian dari ibadah. Tapi saat memberi tanpa menanamkan makna, kita hanya sedang membesarkan budaya konsumtif. Kita sedang mencetak generasi yang tidak tahu malu meminta, tapi gagap jika diminta berbagi.

Ironisnya, sebagian orang tua justru bangga. Mereka hitung berapa banyak anaknya “dapat”, berapa rumah yang berhasil dikunjungi, berapa nominal yang dibawa pulang. Mereka biarkan anaknya antre panjang di rumah-rumah pejabat, tetangga kaya, tokoh kampung. Bukan untuk belajar adab, tapi untuk ikut lomba amplop.

Di sisi lain, kita sebagai masyarakat juga bersalah. Kita menyediakan tradisinya. Kita fasilitasi budaya “minta-minta” itu. Kita ciptakan generasi tangan di bawah, lalu kita heran kenapa negeri ini tak pernah makmur-makmur.

Idul Fitri seharusnya menjadi momentum pendidikan karakter. Sebuah titik balik setelah sebulan menahan nafsu. Tapi yang kita rayakan justru sebaliknya: eksploitasi terhadap kemurahan hati, perayaan terhadap budaya meminta.

Mengapa kita tidak membalik budaya ini?

Mengapa tidak kita ajarkan anak-anak untuk mulai memberi, meskipun kecil?

Ajari mereka menyisihkan sebagian dari THR yang mereka terima. Bukan karena terpaksa. Tapi agar mereka tahu, bahwa uang bukan sekadar untuk dibelanjakan, tapi untuk dibagikan. Bahwa memberi bukan beban, tapi kebahagiaan.

Banyak anak-anak di sekitar kita yang bisa jadi lebih layak menerima: yatim, fakir, yang tak punya baju baru, bahkan tak punya rumah untuk dikunjungi. Biarkan anak-anak kita merasakan nikmatnya memberi. Karena hanya dengan itu, empati bisa tumbuh.

Al-Qur’an mengingatkan: “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran: 92)

Sistem pendidikan kita tidak cukup kuat membentuk karakter memberi. Kurikulumnya padat, nilainya bagus, tapi mental “tangan di atas” tak dibentuk di sekolah. Maka rumah dan momen seperti lebaran menjadi titik penting untuk menanamkannya.

Orang tua harus berani membatasi budaya “mengemis THR”. Jika pun memberi, beri dengan pesan: “Sebagian kamu sisihkan, ya. Untuk temanmu yang belum tentu dapat THR.”

Para guru bisa mengingatkan sebelum libur lebaran: bahwa nilai berbagi lebih tinggi dari sekadar nilai ujian. Para tokoh agama pun bisa menyinggung ini dalam khutbah, bukan hanya bicara soal zakat dan puasa.

Kita perlu pergeseran nilai secara kolektif. Karena jika tidak, 10–20 tahun lagi, kita akan melihat generasi yang makin pintar meminta, tapi makin sedikit yang mampu memberi.

Ali bin Abi Thalib pernah berkata: “Orang yang paling kaya adalah orang yang paling sedikit bergantung kepada orang lain.”

Kekayaan sejati bukan pada tabungan, tapi pada keberanian untuk berbagi. Pada rasa cukup. Dan itu hanya bisa lahir jika sejak kecil, anak-anak tidak dibesarkan dalam budaya meminta.

Lebaran bukanlah momen berburu. Lebaran adalah momen berbagi. Mari kita kembalikan makna itu. Bukan dengan menolak memberi THR, tapi dengan menanamkan kembali bahwa amplop itu tidak selalu harus datang ke tanganmu—kadang, harus keluar dari tanganmu.

Jika kita berhasil menanamkan ini, maka kita tidak hanya membesarkan anak-anak yang baik. Tapi generasi yang mandiri, empatik, dan tangguh menghadapi dunia. Dan barangkali, itu jauh lebih penting daripada amplop tebal mana pun. (*)

*) PENULIS adalah Kandidat Doktor Studi Islam UAD Yogyakarta, Ketua Yayasan Dayah Mini Aceh, Pengurus Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD) Aceh, dan Pengajar Sosiologi Hukum

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Artikel KUPI BEUNGOH lainnya baca DI SINI

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved