Senin, 1 Juni 2026

KUPI BEUNGOH

Anak: Investasi Abadi atau Sekadar Prestise?

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (kesucian). Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi

Tayang:
FOR SERAMBINEWS.COM
Muhammad Nasir, Dosen pada Program Magister Keuangan Islam Terapan PNL dan Pembina Yayasan Generasi Cahaya Peradaban 

Al-Qur'an memandang anak sebagai entitas yang kompleks, bukan hanya sekadar amanah, melainkan juga sebagai cermin multifaset kehidupan manusia. 

Dalam memahami posisi anak, Islam menawarkan tiga pendekatan filosofis yang relevan bagi kita hari ini:

1.     Perhiasan Kehidupan Dunia: Anak sebagai Sumber Kebahagiaan dan Motivasi

Allah SWT berfirman:  "Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia..." (QS. Al-Kahfi: 46).  

Ayat ini menggambarkan anak sebagai lambang keindahan dan kebanggaan yang menjadi motivasi terbesar bagi manusia untuk berjuang lebih keras, baik secara materi maupun spiritual. 

Namun, Islam menekankan bahwa kebahagiaan ini akan bernilai jika dimaknai dalam kerangka mendekatkan diri kepada Allah. 

Tanpa fondasi nilai, "perhiasan" ini rentan menjadi sumber kehancuran, seperti tercermin dalam banyak fenomena modern—ketika orang tua terjebak pada ambisi duniawi sehingga mengorbankan perkembangan karakter anak.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin menjelaskan, "Anak adalah pelita dunia, tetapi cahayanya hanya akan menerangi jika diberikan bahan bakar keimanan." 

Pendapat ini selaras dengan temuan penelitian di Journal of Happiness Studies (2023), yang menunjukkan bahwa kebahagiaan orang tua yang sejati terletak pada pencapaian moral dan spiritual anak, bukan hanya pada kesuksesan material.

2.    Cobaan dan Ujian: Anak sebagai Tantangan yang Menguatkan Iman

Allah mengingatkan:  "Sesungguhnya harta dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), di sisi Allah-lah pahala yang besar." (QS. At-Taghabun: 15).  

Perspektif ini menegaskan bahwa mendidik anak adalah ujian keimanan dan kesabaran yang paling mendalam. 

Anak, dalam berbagai tantangannya, menjadi alat pengukur sejauh mana orang tua mampu menyeimbangkan antara tanggung jawab duniawi dan ukhrawi.  

Pandangan ini dikupas mendalam oleh Imam Ibn Qayyim Al-Jawziyyah dalam Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud, yang menyatakan bahwa setiap kesulitan dalam mendidik anak adalah bagian dari tarbiyyah Allah kepada orang tua. 

Dalam konteks modern, berbagai tantangan seperti paparan budaya global dan media digital memperumit tugas ini, namun juga memperkuat urgensi pentingnya pendidikan berbasis nilai Islam. 

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved